Penjelasan Gugus Tugas Kota Ambon Atas Curahan Hati Tenaga Medis

by
Joy Adriaansz. FOTO : MCAMBON

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Bukan tak mungkin jumlah pasien terkonfirmasi covid-19 meningkat dan tak terbendung. Pemerintah kota hingga ke tenaga kesehatan (Nakes) di kelas pratama sudah pasti bekerja ekstra. Kekurangan alat pelindung diri (APD) dan pemakaian terbatas bukan lagi hal baru dan lumrah terjadi. Tidak hanya di Kota Ambon tapi di semua daerah.

BACA JUGA : Curhat Tenaga Medis di Maluku, Beli APD Sendiri Hingga Rangkap Tugas

Bahkan hal ini juga telah tergambar dalam curahan hati beberapa nakes. Menanggapi itu Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Ambon, Joy Adriaansz memberikan penjelasannya saat dikonfirmasi wartawan Selasa (26/5/2020) pagi.

Joy diwawancarai usai penyerahan bantuan APD dari GBI Maluku kepada Pemerintah Kota Ambon yang diwakili Wakil Walikota Syarief Hadler. “Jadi begini bukan katong kekurangan. Kemarin itu bantuan dari BNPB 800 bantuan khusus, juga sebelum-sebelumnya pemerintah kota pun terima bantuan APD. Kalau total semua ada 2.000 lebih,” terang Joy.

Bantuan tersebut memang mengalir tidak hanya dari kantong-kantor pelat merah tapi juga sukarelawan berbagai lembaga dan instansi. Sebab persoalan bersama adalah ketersediaan APD. Hal ini linier dengan jumlah pasien. Semakin banyak pasien maka semakin banyak alat pelindung diri yang dibutuhkan.

Bantuan-bantuan ini lalu didistribusikan ke 22 puskesmas yang ada. Namun kata Joy memang jumlahnya tidak merata. Ada puskesmas yang jadi prioritas yang mana ada kasus terkonfirmasi atau berkaitan yang memungkinkan tenaga kesehatan perlu perlindungan ekstra.

Loading...

“Tiap Puskesmas 50 baju hazmat. Tiap pemakaian dilaporkan ke dinas. Karena tidak semua puskesmas dapat jumlah sama. Biasanya yang pakai yang tenaga kesehatan yang menerima pasien, tenaga di laboratorium, ya paling kurang dua atau tiga orang,” paparnya.

Tidak ada rincian pasti 50 potong APD itu dibagikan dalam rentan waktu berapa lama. Namun Joy menerangkan jika penjatahan APD ke puskesmas itu disesuaikan juga dengan kebutuhan. Jika habis dapat ajukan pertimbangan.

Hal serupa dengan yang pernah diutarakan Kadis Kesehatan Kota Ambon Wenddy Pelupessy. Wenddy pun mengkhawatirkan keamanan para nakes di lapangan. Karena itu pemakaian pun harus cermat dan irit. Pembuladakan pasien bisa saja terjadi.

Dalam ulasan sejumlah media lokal pun nasional pun menyoroti bahwa memang ada kekurangan APD di Kota Ambon. seperti dalam ulasan media daring nasional kompas.com tanggal 17 Maret 2020. Memang itu sudah tiga bulan yang lalu, tapi pemakaian APD itu setiap hari. Pasien pun bertambah, bukan berkurang. Maka wajar memang ada tenaga medis yang harus merogoh kocek sendiri untuk membeli APD seperti topi pelindung. Itu sebagai siasat untuk membekali diri saat memberikan pelayanan.  Pemakaian tidak boleh boros.

Joy menambahkan, jika tidak dengan APD lengkap seperti hazmat misalnya, tenaga kesehatan dapat menggunakan baju OK yang berwarna hijau dengan tetap sarung tangan, juga celemek dan topi pelindung juga masker. Semua terstandar. “Saat ini sudah tersalurkan sekitar 1.100 lebih. Tapi pastinya akan kami cek lagi untuk pastikan,” terangnya. (PRISKA BIRAHY)

BACA ARTIKEL MENARIK LAIN PRISKA BIRAHY 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *