Penyaluran Bantuan Untuk Korban Kelaparan Dilakukan di Rumah Singgah Maneo

by
Kepala BPBD Maluku, Farida Salampessy. FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kekurangan bahan pangan dan bencana kelaparan yang dialami masyarakat pedalaman suku Mausu Ane petuananManeo Rendah Kecamatan Seram Utara Timur Kobi Kabupaten Maluku Tengah menyita perhatian banyak pihak.

BACA JUGA : Bencana Kelaparan Landa Warga Pedalaman Seram Utara, Tiga Meninggal

Pasalnya kejadian serupa sebelumnya belum pernah terjadi. Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku pun mencatat dalam delapan tahun terakhir tak ada kabar terkait kasus kelaparan di sana. Apa yang dialami warga Suku Mausu Ane ini langsung direspon oleh sejumlah pihak.

Kepala BPBD Provinsi Maluku Farida Salampessy menyebut peristiwa ini merupakan panggilan kemanusiaan dan menjadi tugas bersama. Bantuan logistik pun tengah disiapkan pihaknya untuk dikirim ke warga Mausu Ane pada Rabu (25/7/2018). “Semua sudah disiapkan. Terutama bahan makanan bagi warga,” jelasnya kepada Terasmaluku.com saat ditemui di ruangannya siang tadi (24/7/2018).

Loading...

Makanan siap jadi serta sayur sayuran jadi salah satu fokus logistik yang disiapkan. Setelah selama dua minggu alami kekurangan bahan pangan, kondisi mereka cukup lemah. Menurut Salampessy langkah tercepat yakni dengan memulihkan kondisi warga melalui sumber energi yang cukup. Apalagi wilayah tinggal masyarakat Mausu Ane berpindah pindah atau nomaden, cukup sulit untuk mendapat bahan pangan seimbang saat ini.

Sebuah lokasi titik temu telah disiapkan untuk penyaluran bantuan logistik maupun kesehatan bagi warga. “Kami sudah ada rumah singgah di Maneo Rendah. Bantuan akan diberikan melalui Raja Maneo,” sebut mantan Sekretaris BAPPEDA Provinsi Maluku ini. Sebelumnya rumah singgah itu dipakai sebagai pos bantuan saat kebakaran hutan di Seram pada sekitar 2015. Kini digunakan kembali sebagai pos untuk memberi bantuan kemanusiaan bagi suku Mausu Ane.

Untuk diketahui, warga suku Mausu Ane termasuk dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang mendiami tiga lokasi berbeda di bantaran sungai hutan Gunung Morkele. Lokasi yang jauh serta pola hidup nomaden diakui Farida jadi tantangan tersendiri. Nantinya Raja Maneo Rendah yang akan memfasilitasi pertemuan dengan warga.

Kondisi tubuh warga yang lemah rentan terhadap penyakit. Apalagi sudah hampir seminggu sumber pangan bergizi yang biasa mereka makan berkurang. Sebelum nantinya kembali ke tempat tinggal di dalam hutan, mereka diberikan dukungan yang memadai dari negara melalui dinas dan instansi terkait.(BIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *