Penyebab Hasil Pemeriksaan Sampel Swab Bisa Berbeda, Begini Penjelasan Kepala BTKL-PP Ambon

by
Kepala BTKL-PP Ambon, Budi Santoso saat berikan keterangan di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (19/11/2020). Foto : Terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kepala BTKL-PP Ambon, Budi Santoso angkat bicara terkait penyebab sehingga hasil pemeriksaan sampel swab seseorang bisa berbeda jika diperiksa pada dua tempat berbeda.

Budi menjelaskan ada beberapa faktor  penyebab sehingga hasil pemeriksaan sampel swab seseorang bisa berbeda ketika diperiksa di laboratorium yang berbeda.

Penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaan publik terhadap sejumlah kejadian di Ambon, dimana ada kejadian seseorang yang diperiksa sampel swabnya di tempat berbeda dan mendapatkan hasil berbeda, ada positif dan ada negatif.

Budi mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan hasil pemeriksaan sampel swab di laboratorium berbeda, di laboratorium satu hasilnya positif sedangkan di laboratorium kedua hasilnya negatif.

Pertama adalah faktor di lapangan yang meliputi pengambilan sampel swab baik, cara pengambilan (handling) meliputi petugasnya maupun alat yang digunakan hingga transport atau wadah untuk pengiriman sampel. Faktor ini kata Budi berperan 60 persen terhadap hasil pemeriksaan sampel swab.

Faktor kedua adalah analisis di laboratorium yang terdiri dari skil atau kemampuan SDM, Cross-reaksi, target tidak spesifik, jenis reagen (cairan yang biasanya digunakan di laboratorium) dan positif false atau positif palsu yang berperan 30 persen terhadap hasil pemeriksaan swab.

“Cross-reaksi ini karena sampel yang diperiksa tidak hanya satu, kadang-kadang sampel yang diperiksa satu deret ada 90 atau paling kecil 9 sampel sehingga bisa terjadi cross,”jelas Budi kepada awak media di Kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (19/11/2020) didampingi Ketua Pelaksana Harian Satgas Covid-19 Provinsi Maluku, Kasrul Selang.

Kemudian analisis terhadap hasil pembacaan akhir. Karena sampel swab itu setelah dilakukan reaksi-rekasi kemudian dimasukkan ke alat yang namanya RT-PCR kemudian alat itu memberikan hasil. Hasil itulah yang dibaca analis termasuk nilai CT Value atau tinggi rendahnya jumlah virus dan ini berperan 10 persen.

“Jadi penyebab sehingga bisa bisa terjadi perbedaan hasil pemeriksaan swab 60 persen karena faktor di lapangan, 30 persen di laboratorium dan 10 persen di analis akhir,”tuturnya.

Lalu pemeriksaan PCR itu lanjut Budi, tidak ada yang 100 persen. Paling tinggi 99 persen tingkat keakurasiannya. Artinya dari 100 sampel misalnya yang diperiksa secara PCR, 99 benar tingkat keakurasian hasilnnya benar, sementara yang satu persennya itu kemungkinan meragukan dan disebut positif false (positif palsu) atau negatif false (negatif palsu).

“Pertanyaannya kenapa bisa terjadi positif false atau negatif false? itu karena skill teknisnya pada tiga faktor itu, itu yang bisa menyebabkan,”sambungnya.

Kemudian yang bisa menyebabkan terjadinya positi atau negatif false (palsu) adalah waktu dan lokasi pengambilan sampel swab.

Apalagi, rentang waktu virus berada dalam tubuh saat terinfeksi juga berpengaruh terhadap besar atau kecilnya jumlah virus. Pada pekan pertama dan pekan kedua virus masuk ke dalam tubuh, itu jumlahnya masih banyak atau yang disebut posisi puncak. Sementara pada pekan kelima hingga keenam, jumlah virus sudah menurun jauh.

Loading...

“Ini (waktu dan lokasi pengambilan sampel) yang banyak terjadi kenapa false (palsu) kemudian perbedaan alat dan kit yang digunakan. Inilah yang banyak menghasilkan negatif palsu (false). Sementara yang positif palsu (false) itu banyak dikarenakan kit dan primer PCR atau reagen yang tidak sesuai yang digunakan untuk memeriksa serta kontaminasi,”bebernya.

Terhadap hasil pemeriksaan yang positif atau negatif palsu dan hasil yang berbeda dari dua lab ini kata Budi melanjutkan, cara menyikapinya adalah karena saat ini dimasa pandemi covid-19 maka orang tersebut dikategorikan sebagai pasien terkonfirmasi.

“Apa yang dilakukan jika seseorangitu dikategorikan sebagai pasien terkonfirmasi? orang tersebut harus karantina yang bisa dilakukan secara karantina mandiri di rumah maupun di lokasi karantina terpusat. Kenapa begitu? untuk kehati-hatian, untuk keselamatan bersama. Karena berbahaya dan bisa menularkan kalau ternyata pasien tersebut false negatif, kemungkinan false positif jauh lebih kecil dibandingkan false negatif,”

Kemudian untuk pasiennya sendiri kata Budi, bisa melakukan pemeriksaan ulang yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan swab atau juga cukup dengan Rapid Diagnostic Test (RDT).

Kenapa bisa pakai RDT? Karena jika seseorang pernah terinfeksi virus, maka RDT bisa terbaca reaktif. “Reaktif ini belum tentu positif swab, karena reaktif ini artinya seseorang pernah apakah itu sebulan yang lalu atau lebih dari itu terinfeksi covid. Karena RDT ini mendeteksi antibody yang dikeluarkan oleh tubuh karena pernah terinfeksi oleh covid-19,”tandasnya.

Hal-hal inilah diakui Budi yang bisa menyebabkan perbedaan hasil pemeriksaan sampel swab seseorang di dua laboratorium berbeda dan ini bisa saja terjadi.

Namun kata dia, dalam proses pemeriksaan sampel swab dilakukan juga quality control internal dan eksternal yang wajib dilakukan oleh semua laboratorium karena standar operasional seperti itu.

Quality control internal ini adalah saat pemeriksan sampel swab misalnya sampel yang diperiksa 10 sampel, dibarengkan juga sampel yang benar-benar positif dan benar-benar negatif.

“Jadi misalnya 10 kali pemeriksaan sampel maka disertakan quality control positif dan juga negatif sehingga sampel yang hasil pemeriksaannya positif akan menunjukkan positif (seperti pada quality contro), begitupun sebaliknya sampel yang hasil negastif akan menunjukkan negatif (seperti quality control negatif), ini yang internal kontrol,”imbuhnya.

Sedangkan eksternal kontrol adalah 20 persen dari jumlah sampel yang telah diperiksa harus dikirimkan ke Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI di Jakarta dalam bentuk soft datanya. “Disana nanti mereka akan periksa kembali dan hasilnya akan mereka sampaikan ke kita (Laboratorium di daerah) apakah hasilnya benar positif atau negatif ataukah ada perbedaan. Jadi cukup ketat untuk sebuah laboratorium memutuskan sebuah hasil,”pungkasnya. (Ruzady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *