Penyelamatan TSL dan Dilema Penanganan BKSDA Maluku

by

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Penyelamatan tumbuhan satwa liar (TSL) di wilayah Maluku sepanjang 2019 mencapai 717 lebih kasus. Khusunya hewan endemik seperti burung paruh bengkok, adalah yang paling krusial. Kehadirannya di alam kian terancam dengan banyaknya temuan di pasar dan rumah warga.

Dari data yang diperoleh, sebanyak 600 lebih merupakan jenis burung. Dari jumlah itu ada yang diserahkan oleh warga atau melalui sitaan dari warga. Hewan-hewan itu pun berada dalam kondisi beragam. Ada yang butuh rehabilitasi, sayap patah, kurang nutrisi, lemas hingga mati.

Namun, perlahan melalui sosialisasi BKSDA, masyarakat mulai proaktif untuk menyerahkan hewan dilindungi ke pihak berwenang. Hal itu membawa angin segar dengan mengemablikan mereka ke habitat. Namun sejalan dengan itu, perlu ada tambahan fasilitas penunjang pemulihan sebelum mereka benar-benar pulang.

Di 2020 BKSDA berencana membangun Pusat konservasi Satwa pertama di Maluku. itu akan menjadi basis segala informasi, penanganan, serta kebutuhan kesehatan satwa, khususnya hewan paruh bengkok.

Kepada Terasmaluku.com Rabu (8/1/2020), Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi berujar akan ada pemabngunan di 2021. “Nanti kami bangun di sebelah (kantor BKSDA Kebun Cengkeh) yang terintegrasi dengan seluruh seksi dan resor,” katanya.

Untuk pusat konservasi di Kota Ambon, akan ada fasilitas pusat informasi burung paruh bengkok, klinik, kandang karantina yang lebih memadai juga sarana edukasi bagi masyarakat umum. Sementara pembangunan di resor dan seksi tersebar di seksi III Saumlaki dan Dobo. Seksi II Tanjung Sial, Masohi, Buru. Seksi I Tobelo, Jailolo dan Bacan.

Kondisi saat ini kandang-kandang transit dan pemeliharaan satwa sebelum lepas liar kondisinya tak cukup menampung banyak satwa. Kesejahteraan hewan perlu diperhatikan. Seperti ruang gerak selama di dalam kandang.

Perlu ada perluasan dan penambahan. Karena itu kata Amin beberapa satwa asal Maluku yang masih di luar daerah belum dapat dipulangkan. Kecuali mereka telah siap dan langsung dilepasliarkan. “Kalau masih harus di kandang lagi itu susah. Sebab masih ada hewan yang lain kecuali langsung dilepas ke hutan,” terang dia.

sebagai sontoh, biaya pembangunan kandang satwa ukuran 8×4 meter menggunakan teralis stainless steel khusus didatangkan dari luar Maluku menelan biaya Sampai Rp 70 juta. Pihaknya juga menerapkan aturan batas jumlah penempatan satwa dalam satu kandang. Menurutnya kerjasama dengan pihak ketiga juga dibutuhkan dalam hal penanganan satwa sebelum mereka lepas liar.

Karena itu berbagai upaya tengah dilakukan agar dapat memaksimalkan pengembalian satwa ke habitat asal mereka. dia berharap upaya di tahun ini bisa membuahkan hasil di 2021 nanti.(PRISKA BIRAHY)