Peran Generasi Muda Dalam Pembangunan Rendah Karbon, Oleh : Faizah Mahasiswa Pascasarjana

by
Faizah Mahasiswa Pascasarjana. FOTO : DOK. PRIBADI

Saat ini, emisi karbon dan perubahan iklim telah berdampak pada terjadinya bencana dan penurunan kualitas lingkungan di Indonesia. Dampak yang diakibatkan antara lain menurunnya kualitas udara, laut, air dan tutupan lahan, tinggi gelombang ekstrem yang mengurangi daya jelajah atau wilayah tangkap ikan, kegagalan panen disebabkan kekeringan ekstrem, biodiversitas terancam dan ekosistem alam terganggu. Pada dasarnya, masalah perubahan iklim merupakan isu lintas sektor, wilayah, dan negara. Masalah ini tak hanya terkait dengan isu lingkungan semata, tetapi juga berkaitan dengan isu sosial serta ekonomi dan harus diselesaikan secara terintegrasi.

Untuk itu kita harus mencari suatu gerakan yang lebih ramah terhadap lingkungan. Salah satunya adalah Pembangunan Rendah Karbon. Pembangunan rendah Karbon adalah kebijakan, rencana, program dan pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi rendah emisi GRK sebagai bentuk upaya penanggulangan dampak perubahan iklim dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan Rendah Karbon merupakan platform baru pembangunan yang bertujuan mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan sosial melalui kegiatan pembangunan rendah emisi dan meminimalkan eksploitasi Sumber Daya Alam. Kegiatan Pembangunan Rendah Karbon diwujudkan melalui kegiatan pembangunan yang memperhitungkan aspek daya dukung dan daya tampung Sumber Daya Alam dan kualitas lingkungan. Namun, gagasan pembangunan rendah karbon ini perlu semakin diperkuat pada masa pandemi Covid-19. Tujuannya, Indonesia diharapkan bisa melakukan pemulihan krisis ekonomi pascapandemi ke kondisi yang lebih baik.

Program pembangunan rendah karbon yang dilakukan oleh Indonesia, termasuk ke dalam prioritas nasional dengan target membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan perubahan iklim. Ada lima kegiatan prioritas untuk mewujudkan pembangunan rendah karbon, yaitu pembangunan energi berkelanjutan, pemulihan lahan berkelanjutan, penanganan limbah, pengembangan industri hijau, dan rendah karbon pesisir laut.

Seperti yang kita ketahui, di masa pandemi seperti saaat ini, emisi pembuangan karbon dioksida terbilang menurun akibat berkurangnya aktivitas pabrik, industri, dan operasional kendaraan bermotor.

Pada awal pandemi, emisi gas rumah kaca (GRK) sempat menurun. Pembatasan aktivitas di beberapa tempat di Indonesia sedikit banyak berdampak pada terjadinya penurunan. Namun, penurunan emisi tersebut cuma sesaat. Saat masyarakat sudah beradaptasi dengan kebiasaan baru, masyarakat mulai beraktivitas di luar rumah yang berpotensi untuk meningkatkan kembali emisi karbon. Meski sebenarnya aktivitas di rumah pun juga berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca.

Emisi GRK dari sektor energi berasal dari pembakaran bahan bakar dan emisi fugitive dari produksi bahan bakar. Pembakaran bahan bakar termasuk emisi yang dihasilkan oleh produksi listrik dan panas, industri minyak bumi, batubara, dan manufaktur, transportasi, serta sektor lainnya, seperti perumahan dan komersial. Adapun emisi fugitive dari produksi bahan bakar, termasuk gas metan yang dihasilkan dari fasilitas produksi migas (hulu), penyulingan dan proses, serta distribusi. Nilai emisi akan terus meningkat seiring dengan aktivitas pemakaian listrik masyarakat. Hidup tanpa listrik tidak mungkin dilakukan, yang bisa dilakukan adalah menghemat penggunaan listrik.

Lalu, apa peran generasi muda dalam menyikapi hal ini?

Generasi muda harus sudah mulai berpikir, bagaimana upaya untuk mereduksi emisi energi listrik. Hal sederhana yang paling mudah dilakukan adalah dengan memulai untuk memutus arus listrik saat baterai penuh, mencabut kabel yang tidak terpakai, segera mematikan LCD/TV seusai digunakan, dan mengupayakan tidak menyalakan AC.

Benar bahwa hal ini tidak mudah dilakukan saat pandemi ini yang mengharuskan kita tinggal di rumah. Penggunaan AC bisa jadi seharian, terutama saat memasuki masa musim kemarau. Juga dengan kebiasaan buruk untuk tidak mencabut peralatan elektronika, terutama charger. Hal tersebut berpotensi untuk meningkatkan penggunaan energi listrik. Namun, generasi muda harus mulai sadar untuk melakukan pergerakan penghematan penggunaan listrik dengan mengurangi penggunaan lampu dan memakai lampu hemat energi.

Di sisi lain, bangunan tempat tinggal kita juga mengeluarkan emisi karbon. Selain mengurangi penggunaan mesin pendingin ruangan, generasi muda juga bisa menanam tanaman di sekitar rumah untuk mengurangi emisi karbon dari bangunan. Tanaman mempunyai kemampuan untuk menyerap karbon dari udara yang terakumulasi dalam tubuh tanaman.

Bagaimana dari sisi emisi karbon penggunaan bahan bakar pada transportasi? Sebelum pandemi, masyarakat menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor dan mobil) untuk mobilitas sehari-hari. Hanya sedikit masyarakat  yang mulai naik angkutan umum. Setelah pandemi, bisa jadi angka persentase pengguna kendaraan pribadi semakin meningkat. Kekhawatiran terpapar virus di angkutan umum yang kadang kala harus berdesakan membuat orang menghindari naik transportasi umum. Tingkat kepedulian untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor memang masih cukup rendah.

Sementara itu, emisi yang dihasilkan dari limbah relatif paling rendah dibandingkan emisi dari sektor lainnya. Sampah, baik organik maupun anorganik, yang ditimbun akan terurai menjadi gas metan dan karbon dioksida yang berkontribusi pada pemanasan global. Sampah organik, seperti makanan, jika membusuk di tempat pembuangan akhir akan menghasilkan gas metan yang 21 kali lebih berbahaya ketimbang karbon dioksida. Meski sebenarnya sampah makanan ini lebih mudah terurai ketimbang sampah anorganik seperti plastik yang sukar terurai di alam. Meski nilai emisi karbon dari limbah relatif paling kecil, ada kecenderungan jumlahnya bakal meningkat setiap tahun.

Sejumlah provinsi tercatat memiliki kebijakan daerah setempat yang mulai mengurangi penggunaan plastik. Sebut saja Kota Denpasar, Kota Balikpapan, Kota Bogor, Kota Bekasi, dan Jakarta yang mengeluarkan peraturan daerah untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Caranya dengan membawa tas belanja nonplastik, botol minum sendiri, serta membawa tempat makan/peralatan makan sendiri.

Pekerjaan rumah lain terkait mengurangi emisi karbon dari limbah adalah upaya untuk mengolah dan memilah sampah. Belum banyak rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah. Persoalan sampah ini menjadi kompleks saat masyarakat harus tinggal di rumah saja saat pandemi. Volume sampah plastik cenderung meningkat karena dipicu oleh peningkatan belanja daring.

Sebagaimana diketahui, krisis iklim yang telah hadir di depan mata adalah akibat langsung dari pola atau gaya hidup yang tidak berkelanjutan dan cenderung eksploitatif dan tinggi emisi. Khususnya yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan pembukaan dan pengalihan lahan menjadi kawasan industri, pertanian, perkebunan dan hunian. Ditambah kegiatan-kegiatan industri, produksi energi berbahan bakar fosil, limbah dan sampah, transportasi, dan kerusakan ekosistem laut untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang berlebih.

Timbulnya kerentanan dan dampak langsung dari perubahan iklim dapat dikurangi melalui tindakan-tindakan pencegahan (mitigasi) dan adaptasi agar masyarakat ketahanan terhadap perubahan iklim yang terjadi.

Generasi muda adalah pemilik masa depan, namun demikian perubahan iklim bisa menyebabkan kesulitan dan kerentanan kehidupan, karena faktanya emisi karbon dan perubahan iklim telah berdampak pada terjadinya bencana dan penurunan kualitas lingkungan di Indonesia. Dampak perubahan iklim harus dilihat sebagai peluang momentum titik balik menata gaya hidup rendah karbon, bukan menganggapnya sebagai tambahan persoalan baru.

Generasi muda berperan banyak untuk menumbuhkan rasa krisis perubahan iklim bagi semua pihak, baik pemerintah, kelompok masyarakat, atau kalangan dunia usaha. Sehingga dalam aksi di tingkat lapangan dan tatanan berkegiatan sehari-hari akan timbul dorongan untuk mengatasi krisis perubahan iklim secara bersama-sama.

Generasi muda harus mengambil bagian dengan memanfaatkan teknologi dan kemudahan berkomunikasi di era ultra modern ini dengan membangun narasi intelektual dan memasyarakatkan gaya hidup rendah karbon. Generasi muda harus segera bergerak dan lebih banyak mengambil keputusan bersama mengatasi permasalahan yang timbul akibat perubahan iklim, termasuk pemasyarakatan dampak perubahan iklim dan aksi nyata untuk memeranginya di kehidupan sehari-hari.

Penulis : Faizah, merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Hutan Pascasarjana Universitas Pattimura