Peranan Fosfat dan Penentuan Dosis untuk Padi Sawah Oleh : Sheny Kaihatu

by
Pemupukan di Kabupaten SBT. FOTO : ISTIMEWA

UNTUK menunjang pertumbuhan tanaman khususnya padi, tanaman memerlukan pasokan hara yang berasal dari berbagai sumber. Ada yang diperoleh dari tanah, air irigasi, sisa tanaman, atau dari pupuk (organic dan/atau anorganik) yang ditambahkan.  Setiap ton gabah membutuhkan sekitar 2,6 kg P/ha (Dobermann dan Falrhurst, 2000).

Pupuk sebagai sumber hara merupakan sarana produksi yang memegang peranan penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan khususnya padi. Masalah yang akan terjadi jika pupuk kimia terus menerus digunakan bukan hanya pengaruh negatif terhadap lingkungan. Tetapi juga berpotensi menurunkan tingkat efisiensi pemupukan, karena itu pupuk harus diberikan secara tepat, sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan. Pupuk SP-36 termasuk ke dalam jenis pupuk fosfat yang menghadirkan kandungan P2O5 yang sangat tinggi sekitar 36 % dan sangat cocok digunakan untuk tanaman padi.

Manfaat pemberian SP-36 untuk tanaman padi yaitu sebagai sumber fosfor, memacu pertumbuhan akar tanaman padi, memacu proses pertumbuhan dan perkembangan biji padi, mencegah serangan hama dan dapat meningkatkan daya tahan tanaman serta mempersingkat pematangan dan juga pemasakan biji padi.

Pemanfaatan  kandungan fosfat tanah secara optimal merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada lahan irigasi, pemanfaatan fosfat tanah bahkan dapat mengurangi terjadinya timbunan pupuk P, dan menghindari kemungkinan kahat seng maupun nitrogen pada tanaman padi akibat terikat oleh fosfat.

Strategi terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankan produktivitas dan meningkatkan efisiensi pemupukan adalah dengan memanfaatkan cadangan P tanah secara optimal. Bahkan penimbunan P tanah karena pemupukan secara terus menerus, dapat dikurangi dengan cara tersebut. Kenapa demikian?

“Salah satu masalah yang perlu diketahui adalah sebagian besar pupuk P dalam tanah maupun yang ditambahkan sering tidak tersedia bagi tanaman, walaupun keadaan tanah sangat baik adalah  tidak mobil, sehingga tidak gampang tersedia bagi tanaman dan tidak mudah hilang dari tanah”.

Pengelolaan hara P perlu mempertimbangkan perubahan

  1. Ketersediaan hara P alami di tanah
  2. Pengaruh penimbunan hara P di tanah
  3. Pemeliharaan tingkat kesuburan dan status hara P pada level optimal

Agar tanah tetap produktif maka konsep pemupukan hendaknya mengikuti prinsip bahwa jumlah hara yang diberikan berupa pupuk cukup untuk menutupi defisit antara hara yang diperlukan tanaman dengan kemampuan tanah mensuplai hara. Penetapan jumlah pupuk perlu memperhatikan target hasil yang ingin diperoleh dan status hara dalam tanah agar pemupukan lebih efisien.

Tiga metode yang disarankan untuk dijadikan pedoman dalam menetapkan dosis pupuk P pada tanaman padi sawah adalah:

(1) Analisis tanah (Uji tanah). Uji tanah adalah suatu cara untuk menentukan status hara dalam tanah sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan.  Kegiatan uji tanah terdiri dari 3 tahapan yaitu studi korelasi, studi kalibrasi dan penyusunan rekomendasi pemupukan. Ekstraksi menggunakan HCl 25 % merupakan cara yang paling tepat untuk penetapan status hara P tanah. Cadangan P tanah sawah, terbagi dalam 3 kategori yaitu rendah (hasil uji < 7 mg P/kg tanah, sedang hasil uji 7 – 20 mg P/kg tanah dan tinggi hasil uji > 20 mg P/kg tanah. Berdasarkan pengelompokkan tersebut, ditetapkanlah rekomendasi pemupukan P yaitu 100-125 kg SP-36/ha tiap musim, 75 kg SP-36/ha tiap 2 musim dan 50 kg SP-36/ha tiap empat musim dengan status rendah, sedang dan tinggi.

(2) Penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS). PUTS adalah alat bantu analisis kimia yang cepat, mudah, relative akurat dan sederhana untuk penetapan pH, N, P dan K dilapangan. Berdasarkan kategori status hara P, ditetapkanlah rekomendasi sebagai berikut : status rendah  maka SP-36 yang diberikan adalah 100-125 kg /ha, sedang 75 kg/ha dan tinggi 50 kg/ha. Pupuk diberikan sekaligu pada saat pemupukan pertama sebagai pupuk dasar bersamaan dengan N pertama.

Tabel Rekomendasi pemupukan P pada padi sawah berdasarkan kriteria hasil analisis tanah.menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)

Status P tanahKadar P2O5 (HCl 25%) (mg/100 g tanah)Rekomendasi P (kg SP-36/ha/MT)
Rendah

Sedang

Tinggi

< 20

20 – 40

> 40

100-125

75

50

 

(3) Berdasarkan hasil uji pupuk melalui petak omisi.  Penetapan cadangan hara tanah dan kebutuhan hara tanaman padi ditetapkan berdasarkan penilaian tanggap tanaman terhadap pemupukan. Petak omisi diartikan sebagai petak kecil yang ditanami padi tanpa penggunaan satu jenis pupuk tertentu tetapi tanaman dikelola secara optimal. Rekomendasi petak omisi mengikuti prinsip hara yang diberikan hanya untuk menutupi deficit antara yang diperlukan tanaman dengan pasokan hara alami di tanah.

Rekomendasi pupuk didasarkan kepada tingkat perbedaan hasil tanpa pupuk P atau K dibandingkan dengan pemupukan lengkap (NPK).

Bila tingkat perbedaan hasil tanpa P kecil (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 50 dan 75 kg SP-36/ha/MT. Bila tingkat perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha) serta tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 75 dan 100 kg SP-36/ha/MT serta  100 dan 125 kg SP-36/ha/MT.

Ketiga metode ini saling komplementer, dapat digunakan  salah satu atau lebih, karena hasilnya saling melengkapi.  Tanaman padi membutuhkan hara dalam jumlah yang cukup, pupuk dapat digunakan untuk memenuhi kekurangan kebutuhan hara dan jumlahnya perlu ditetapkan agar dapat lebih efisien.

Penulis adalah Peneliti di  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku