Perayaan Hari Pattimura Ke-202 Di Hulaliu Dan Saparua

by
Dua pemuda dalam kelompok soa mereka menanti datangnya obor Pattimura sambil memegang parang yang akan dimainkan dalam Tarian Cakalele (15/5). FOTO: istimewa

TERASMALUKU.COM, MALTENG,- Peringatan Hari Pattimura ke-202 tahun (1817-2019) digelar ramai, sakral dan sarat makna pada dua negeri di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Yaitu Saparau dan Hulaliu. Dua kampung ini rutin memperingati pahlawan Indonesia itu.

Perayaan di Hulaliu Pulau Haruku Kabupaten Malteng misalnya, tarian cakalele yang dimainkan oleh anak-anak Negeri Hulaliu sebagai pengingat dan penanda pada perjuangan Thomas Matulessy melawan penjajah.

Lebih dari 100 pemuda dan orang dewasa menari tarian Cakalele. Mereka bersiap sejak Selasa malam (14/5/2019). Usai menggelar doa di puncak Marsala tempat pengambilan api Pattimura, pada Rabu pagi (15/5/2019) sekitar pukul 07.00 WIT mereka turun membawa api diiringi tarian Cakalele.

Di jalan-jalan kampung sejumlah anak negeri berpakaian serba merah lengkap dengan ikat kepala warna senada . Mereka berdiri berkelompok sesuai soa menyambut obor Pattimura untuk dibawa ke Baileo kampung.

Ratusan pemuda yang ikut dalam tarian Cakalele di Negeri Hulaliu

Di tangan mereka menggenggam parang lalu mulai menari menebas-nebaskan benda tajam itu ke tubuh yang telah kebal. Pengunjung yang berada di sisi kanan dan kiri jalan seperti diajak berkelana ke masa dimana sang pahlawan juga masyarakat melawan penjajah.

“Merinding liatnya. Katong tradisi waktu dulu lawan penjajah,” jelas Berry N salah satu wisatawan lokal yang khusus datang ke Hulalui untuk menyaksikan perayaan Hari Pattimura.

Ini merupakan kali keduanya datang ke negeri Haturessy Rakanyawa itu. Dia yang bukan warga asli Hulaliu mengaku takjub dengan perayaan di situ. Atraksi hahi yang ditampilkan menjadi alasan utamanya datang ke sana.

“Di Hulaliu sifatnya perayaan negeri jadi seremoni tidak terlalu panjang tapi pengunjung bisa saksikan atraksinya lebih lama,” imbuh pria 34 tahun itu. Menurut Berry salah satu yang menarik perhatiannya juga pengunjung lain yakni kehadiran anak muda perempuan yang ikut dalam barisan tarian cakalele.

Bagi yang baru kali pertama menyaksikan tarian ini, atraksi mereka bisa membikin ngilu dan keram. Parang yang telah didoakan terlebih dulu itu diayunkan ke tubuh mereka. Seperti ke bagian kepala, lengan, tangan, badan hingga lidah. Namun tidak satupun yang mempan.

Salah seorang penari cakalele, Brenda Noya kepada Terasmaluku.com membagi pengalamannya. “Sebagai anak Haturessy Rakanyawa, katong sangat mencintai adat,” jawabnya melalui pesan singkat. Brenda adalah penari pemula.

(kiri) Brenda Noya penari cakalele bersama empat kawan perempuan yang ikut dalam tarian mengantar obor Pattimura ke Baileo

Ini merupakan kali keduanya ikut dalam barisan penari yang didominasi kaum adam. Namun bagi Brenda juga kawan-kawan lain, rasa cinta dan kebanggaan pada leluhur pahlawan dan negeri jadi motifasi besar bagi mereka ikut tarian ‘memotong diri’.

Perempuan 23 tahun itu punya pertimbangan yang personal sebelum memutuskan ikut cakalele. “Katong sangat menghargai dan menjunjung tinggi pengorbanan Kapitan Pattimura dalam menantang penjajah. Tarian ini adalah tarian perang dilakukan untuk mengiring obor kapitan Pattimura,” tuturnya. Brenda mengakui jika tarian ini memang kental dengan laki-laki.

Namun dia berharap generasi muda khususnya perempuan di negerinya tidak melupakan sejarah. Menurut dia keikutsertaan perempuan tidak merubah makna apappun di Hari Pattimura. Justru itu kian menunjukkan rasa cinta dan kebanggaan pada akar budaya serta tradisi.

Di Saparua, masyarakat pun merayakan hari Pattimura. Obor Pattimura yang diambil dari Gunung Saniri mencuri perhatian banyak pengunjung. “Bikin merinding. Mulai dari obor dibawa melewati negeri-negeri di Saprua dari Gunung Saniri,” kata Aldy Patrik yang ikut menyaksikan perayaan Hari Pattimura di Negeri Saparua.

Aldy yang sedang bertugas di Sapurua mengaku sudah kesekian kalinya ikut perayaan di sana. Dia mengaku tiap tahun acara selalu membuatnya takjub dan merinding. Sentuhan kedaerahan, atribut para tetua adat, tarian dan semangat tiap kampung membawa obor begitu menyentuhnya.

Ada euphoria yang berbeda yang tidak seperti perayaan di lain tempat. Bagi Aldy, Kapitan Pattimura serasa masih hidup. Itu terlihat dari semangat yang terus dijaga tetap hangat setiap tahun melalui prosesi obor Pattimura.

Apalagi muda daerah pun ikut menambah semarak dalam keterlibatan mereka. “Yang menarik perhatian itu keterlibatan anak muda. Mulai dari kasi manyala obor sampai menari paling banyak. Itu bagus. Tapi over all acara ini sakral,” katanya. (PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *