Perbamu Oleh : Muhammad Farid Pengajar ST. Hatta Sjahrir Banda Naira

by
Muhammad Farid. FOTO : DOK. PRIBADI

Di Banda sejak dulu punya banyak klub sepakbola antar-kampung. Macam-macam namanya, seperti Klub Prins Hendrik, Klub Koningin Juliana, Klub Belgica, dan banyak lagi. Setiap kali ada pertandingan selalu ada clash antar-pemuda, diawali dengan sindir-menyindir, lalu berjalan berkelompok-kelompok, dan ujungnya perang antar-geng. Pertikaian juga kerap terjadi saat “adu perahu” atau yang dikenal dengan manggurebe belang. Kelompok pemuda itu lalu secepatnya mengelompok berdasarkan klub-klub sepakbola mereka untuk bertikai. Menciptakan celah perpecahan anak-anak muda yang selalu menganga lebar.

Sjahrir yang merasa resah dengan kondisi pemuda Banda itu mencoba mendiskusikan persoalan ini dengan Bapak Alwi pada suatu malam. Sjahrir mengusulkan gagasan untuk mempersatukan pemuda-pemuda itu dengan tujuan membuat akrab anak-anak muda Banda antar-kampung. Awalnya usulan Sjahrir ini ditolak karena orang Banda takut jika organisasi itu terbentuk maka orang-orang Banda akan di-digoel-kan. Tapi Sjahrir lalu menjelaskan bahwa idenya tentang perkumpulan itu lebih bertujuan untuk pendidikan dan social saja, seperti perkumpulan olahraga, perpustakaan, koperasi, atau membantu orang dalam kematian.

Sebelumnya Sjahrir sudah mendiskusikan gagasannya itu bersama Hatta. Dia bahkan sudah merancang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi buatannya itu, yang ia namai Persatuan Banda Muda atau yang disingkat “Perbamu”. Untuk urusan sepakbola, Perbamu menjadi semacam “PSSI” Banda Naira yang menghimpun jago-jago sepakbola dari tiap kampung yang diberi nama klub “Neira”. Dengan begitu, ada satu wadah sepakbola bersama, yang dari situ bisa meminimalisir konflik antar-kampung.

Loading...

Untuk bidang koperasi, Perbamu menghimpun anggota aktif yang mula-mula berjumlah 13 orang, yang dibawah bimbingan langsung Bung Hatta. Sementara tugas Iwa Kusuma Sumantri dan Tjipto Mangunkusumo adalah sebagai donator tetap, selain juga Hatta dan Sjahrir didalamnya. Salah satu kinerja koperasi ini adalah membeli hasil bumi seperti jagung, kelapa, dan lainnya untuk dijual kembali kepada pembeli. Hasil penjualan akan dimasukkan kas koperasi. Saldo dari koperasi digunakan untuk menyewa sebuah rumah untuk tamu yang datang dari luar Banda Naira yang diperbolehkan menginap secara gratis.

Perbamu juga memiliki semacam “rumah baca”, yang isinya adalah buku-buku dari terbitan Balai Pustaka dengan tema-tema mulai dari soal pertukangan, kerajinan tangan, sampai buku-buku agama, Koran dan majalah Belanda yang sudah tidak lagi dipakai para donator. Semua dihibahkan untuk pemuda-pemuda Banda agar melek literasi.

Tujuan lain dari organisasi Perbamu adalah mendirikan sekolah partkulir di Banda, yang direncanakan akan mendatangkan guru-guru dari Jawa. Tapi kecil kemungkinan sekolah itu bisa terwujud dikarenakan pihak kolonial tidak menyukai pendidikan alternatif yang menyaingi sekolah-sekolah mereka. Disisi lain, para anggota Perbamu juga masih sulit menutupi ketakutan mereka terhadap kelakuan penguasa yang despotik.

Benar saja, ketika pecah perang Dunia ke-2 dimana Nazi menyerang Belanda, pemerintah kolonial di Banda Naira juga menjadi paranoid dengan mencurigai anggota-anggota pengurus Perbamu yang dituduh fasis. Mereka diinterogasi. Rumah mereka dirazia. Nasib Perbamu semakin suram ketika Jepang menguasai Maluku. Dalam masa kekuasaan Dai Nipon itu, perkumpulan Banda Muda ini habis riwayatnya.

Hari ini, para “Muda Banda” sepertinya kembali jatuh kedalam konflik yang menyejarah itu. Perkelahian antar klub sepakbola kampung, perselesihan antar desa setiap saat manggarebo belang masih terus terjadi. Apakah sejarah yang berulang? Ataukah kita yang tidak pernah belajar dari cerita lama?

Penulis : Muhammad Farid (Pengajar ilmu Sosial ST. Hatta Sjahrir Banda Naira)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *