Peringatan 400 Tahun Genosida Banda, Pemuda Banda Minta Ini ke Belanda

by
Perkumpulan Banda Muda (PERBAMU) menggelar upacara Peringatan 400 tahun pembantaian etnis Banda di Monumen Parigi Rante Kota Naira, Ibukota Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (8/5/2021). FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Perkumpulan Banda Muda (PERBAMU) menggelar upacara Peringatan 400 tahun pembantaian etnis Banda di Monumen Parigi Rante Kota Naira, Ibukota Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (8/5/2021) sore.

Upacara dihadiri Forkopimcam, Latupati, para tokoh Banda dari berbagai elemen. Acara berlangsung khidmat.  Diawali pembacaan doa terhadap para leluhur yang dibunuh oleh Jan Pieterszon Coen.

Kemudian dilanjutkan cerita napak tilas peristiwa berdarah tersebut yang dikemas dalam sebuah musikalisasi puisi yang mengharukan. Peserta upacara juga melakukan tabur bunga di sumur pembantaian. Kemudian diakhiri pernyataan sikap Rakyat Banda yang dibacakan Ketua Latupati Rachmad Achmad.

Acara tersebut juga disiarkan secara live streaming dan disaksikan oleh masyarakat di Belanda.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PERBAMU Isra Prasetya menegaskan, Jan Pieterszon Coen yang masih dianggap pahlawan di Belanda di tempat kelahirannya Hoorn, sesungguhnya adalah Penjahat Kemanusiaan.

Isra juga menghimbau kepada Pemerintah Belanda untuk memberikan kompensasi atas peristiwa Genosida tersebut.

Isra menyebutkan hasil dari monopoli di Banda telah dimanfaatkan untuk membangun Kota-kota di Belanda yang masih ada hingga saat ini dan menjadikan VOC sebagai perusahaan dagang terkaya di dunia.

“Jika kompensasi diberikan, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan orang Banda,” kata Isra dalam siaran persnya.

Diakhir upacara, Ketua Latupati membacakan pernyataan sikap sebagai berikut :

1. Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh karena itu kami akan menjunjung tinggi harkat dan martabat hidup, dan menolak segala bentuk penindasan hak-hak hidup orang Banda.

2. Bahwa tanah Banda adalah tanah kehidupan, dan oleh karena itu kami berkomitmen untuk menjaganya dari segala bentuk perampasan dan penyalahgunaan.

3. Bahwa pembangunan adalah keniscayaan, dan oleh karena itu kami mendukung segala bentuk pembangunan demi kemajuan, tetapi bukan pembangunan yang mengorbankan martabat kemanusiaan dan kerusakan lingkungan.

4. Bahwa Pala dan ikan adalah hajat hidup orang Banda, maka sudah sepantasnya diberi nilai yang adil dan layak demi kesejahteraan orang Banda.

5. Bahwa Agama dan Adat adalah selaras dengan napas hidup orang Banda, menjaga agama dan adat adalah keniscayaan bagi orang Banda.

Editor : Hamdi