Perspektif Semangat Pattimura Milenial Maluku, Oleh : Nicolas David Maspaitella, Pengurus DPM FEB Unpatti

by
Nicolas David Maspaitella. FOTO : DOK PRIBADI

15 Mei 2019 hari Pattimura akan peringati ke-202 Tahun di Negeri Hulaliu dan Pulau Saparua Maluku, apakah hari Pattimra tersebut hanya diperingati oleh segelintir orang di Maluku? Lantas bagaimana dan apakabar masyarakat Maluku yang lainnya? Apakah generasi milenial seantero Maluku masih termaksud sebagai Pattimura muda yang lahir menggantikan Thomas Matulessy dan kawan-kawan, ataukah hanya menjadi budak dari kemajuan teknologi yang sudah tidak lagi memperdulikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Para generasi muda-mudi Maluku, berhadapan dengan pelompatan zaman yang membuat para muda-mudi tak pusing dengan keadaan realitas dan menolak untuk memahami konstalasi politik yang ada, mereka hanya sibuk untuk mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok, dan terlarut dalam zona nyaman yang ada. Generasi muda Maluku hampir tak mau mengkritisi dan ikut campur dalam seluruh masalah-masalah sosial masyarakat, mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar.

Generasi muda-mudi Maluku terlalu sibuk menikmati kemajuan teknologi dan informasi yang ada dan terlena pada perkembangan pada Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) sehingga meraka tak perlu repot-repot menggunakan Intelligence Quotient (kecerdasan intelektual) untuk turut menyikapi permasalahan sosial dalam bernalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak serta menciptakan gagasan.

Genarasi muda-mudi Maluku terlalu mendewakan kemajuan zaman sehingga mereka hampir menghabiskan waktu terpasung oleh game online yang telah menjadi momok, sehingga tak pernah peka terhadap hal terjadi di sekitar, dan hanya menggunakan kemajuan social media secara tak efektif dan efesien untuk mencari popularitas dan menghibur diri dengan konten-konten yang tak mendidik. Sehingga mudan-mudi Maluku kehilangan jatidiri seperti masa keemasan pendahul-pendahulu lainnya.

Hilangnya jati diri orang Maluku membuat generasi Maluku mengadopsi mentah-mentah pengaruh dan kebudayaan dari luar, semua orang bisa bangga mengatakan “beta Maluku” akan tetapi kebudayaan dan jatidiri Maluku itu sendiri telah hilang dikekang waktu, siapa yang masih sadar bahwa jatidirinya adalah penakluk seperti Enrique Maluku atau jatidiri sebagai orang berintelektual seperti perkumpulan Joung Ambon yang turut menggagas sumpah pemuda.

Berbicara tentang Maluku, sejak dahulu kala identik dengan datangnya bangsa-bangsa asing untuk menguasai dan memonopoli rempah-rempah asal Maluku, seperti cengkeh dan pala, tak dipungkiri juga menyalanya obor pemberontakan di gunung saniri didasarkan Belanda mau memonopoli secara tidak sehat cengkeh dan pala seantero Maluku.

Kenapa bangsa asing mau menguasai rempah-rempah di Maluku? Karena Pada kisaran 1599, harga cengkeh di pasaran masih 35 real per bahar (550 pon), lalu naik menjadi 50 real pada 1610, dan terus melonjak sampai 70 real per pon cengkeh. Harga tersebut setara dengan 7 gram emas. Nilai komoditi yang begitu besar membuat Penjajah menjadi agresif dan protektif terhadap wilayah tersebut, dan terhadap komoditi tersebut.

Sayangnya yang terjadi saat ini, para petani cengkeh dan pala di Maluku harus gigit jari karena tak paham teori supply dan demand, sehingga menjual seluruh rempah-rempah yang ada kepada penada yang dibawa serta dijual langsung ke Surabaya. Para petani cengkeh dan pala pun harus puas cengkeh berada di kisaran Rp 84.000,00 dan pala di kisaran Rp 66.000,00.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), untuk periode Januari-November 2018, ekspor cengkeh dari Indonesia mencapai US$ 76,97 juta alias naik 211,44% dari periode sama tahun lalu di US$ 24,71 juta, dan juga guna memenuhi permintaan pasar, sebuah perusahaan Indonesia, PT Eshan Agroindo Mulia, membukukan kontrak pengiriman 28 ton buah pala ke Mesir dengan nilai Rp 2,4 miliar, jelas hal tersebut adalah praktek monopoli kapitalisme yang merugikan dan sengaja memiskinkan Maluku sebagai penghasil rempah-rempah.

Pekerjaan rumah besar bagi para pemangku kepentingan di Maluku mulai dari Gubernur serta lingkup kepala daerah yang hanya terlarut-larut pada kepentingan partai atau golongan tertentu, melainkan lebih memperhatikan dan memperjuangkan ruang hidup masyarakat Maluku yang selalu di miskinkan.

Sudah menjadi tugas bersama lantaran beberapa waktu lalu anjloknya harga kopra disaat biaya pendidikan yg selalu melonjak naik, dan juga membangun kerjasama dengan dengan negara lain ntuk langsung mengekspor langsung hasil rempah-rempah dari Maluku, tanpa harusmengirim dan memasarkan langsung ke Surabaya. (Nicolas David Maspaitella, Pengurus DPM FEB Unpatti Ambon)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *