Pertalite SPBU Kebun Cengkeh Ambon Bercampur Air, Sejumlah Kendaraan Mogok

by
Mobil Pertamina tengah mengisi BBM di SPBU Kebun Cengkeh Ambon. DOK. (TERASMALUKU.COM)

AMBON- Bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di Stasiun Pengisihan Bahan Bakar Umum (SPBU) Persimpangan Kebun Cengkeh Kota Ambon mengandung air. Bentuk warna pertalite berubah becek tidak berkental, komposisi airnya lebih banyak. Ini diketahui setelah sejumlah kendaraan baik roda dua dan roda empat mogok tak lama mengisi pertalite di SPBU itu.
Ada tujuh pemilik kendaraan yakni empat mobil dan tiga sepeda motor mengadukan hal ini ke pemilik SPBU dan polisi. Setelah diperiksa, ternyata pertalite yang baru diisi pada kendaraan mereka bercampur air. Pemilik kendaraan sempat memprotes pengelola SPBU. Untung saja lokasi SPBU itu tak jauh dari Pos Polisi Lalu Lintas, sehingga cepat diatasi.
Aparat Satuan Reskrim Polres Pulau Ambon langsung mengamankan barang bukti pertalite yang bercampur air itu dari dispenser pertalite di SPBU itu. Saat polisi mengambil sampel dari dispenser itu, terlihat bentuk warna pertalite mengandung air dan berbecek. Polisi juga mengambil sampel pertalite dari tangki kendaraan wara yang rusak tersebut.
Kasus ini kemudian dilaporkan juga ke Pertamina Unit Pemasaran Maluku. Kepada polisi dan pihak pertamina, Endang pengelola SPBU menyatakan, pihaknya menerima pasokan pertalite yang dibawa tiga mobil tangki pertamina dari Depot Pertamina Wayame.
Endang menyebutkan, dua mobil pertamina langsung mengisi ke tangki penampungan pertalite di SPBU. Namun karena curiga dengan kualitas pertalite, pihaknya menolak satu mobil yang membawa pertalite tersebut sehingga tidak mengisi lagi ke tangki penampungan. Endang mengakui, disaat itu pelayanan kepada konsumen yang membeli pertalite pun berjalan sekitar sepuluh menit. Nah warga yang membeli pertalite tersebut menjadi korban. Mesin kendaraan mereka mogok karena pertalite yang diisi bercampur air.
“Tidak ada unsur kesengajaan dari kami. Kami menerima Pertalite yang dibawa mobil tangki pertamina sesuai prosedur, ternyata kondisi sudah begitu. Tidak ada unsur kesengajaan mencampur air, kalau kami sengaja sama saja kami sengaja menutup SPBU ini,” kata Endang. Pihak SPBU menurut Endang bertanggungjawab atas kerusakan kendaraan yang mogok akibat mengisi pertalite mengandung air tersebut. Kendaraan yang rusak langsung dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.
Pihak Pertamina Unit Pemasaran Maluku menyatakan akan mengusut kasus ini mulai dari kapal tangker yang membawa BBM, tangki penampung di Depot Pertamina Wayame, sampai pada sopir mobil tangki yang membawa pertalite tersebut ke SPBU. “Kami akan investigasi dimana kesalahannya sehingga pertalite yang didistribusi ke SPBU ini mengandung air,” kata Manager Marketing Pertamina Cabang Ambon Tiara kepada wartawan di SPBU itu. Sebuah mobil tangki pertamina juga dikerahkan untuk mengeluarkan pertalite yang mengandung air itu dari tangki penampung BBM di SPBU tersebut.
Setelah meminta keterangan pengelola SPBU dan pemilik kendaraan, selaku korban, aparat Satuan Reskrim Polres Pulau Ambon kemudian menutup semua dispenser pertalite di SPBU ini yang berjumlah tiga buah dengan memasang garis polisi. Polisi juga membawa mobil tangki BBM yang mengisi pertalite ke SPBU tersebut.
Kapolres Pulau Ambon dan Pulau Pulau Lease AKBP Harold Huwae menyatakan, pihak masih terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Dugaan awalnya menurut dia, ada upaya memalsukan pertalite dengan mencampur air. “Untuk sementara kita tutup dulu dispenser pertalite dengan memberi garis polisi agar tidak ada banyak korban lagi. Anggota sementara kerja mengusut kasus ini, saya belum bisa menjelaskan lebih banyak lagi,” katanya.
Hingga kini dispenser pertalite di SPBU tersebut masih dipasangi garis polisi. Seperti diketahui sejak sepekan terakhir seluruh SPBU di Kota Ambon kehabisan stok pertalite. Kondisi ini terjadi karena pasokan pertalite di Depot Pertamina Wayame habis karena pengiriman dari Pertamina Balikpapan terlambat. Pertalite baru lancar Jumat ini namun ternyata yang diterima pihak SPBU bercamur air. ADI