Pertamina MOR VIII Gelar Pelatihan Jurnalisik Peringati Hari Pers Nasional

by
Kepala Kantor Biro Provinsi Maluku, John Nikita Sahusilawane saat membawa materi etika jurnalis pada Workshop Jurnalis Maluku oleh Pertamina MOR VIII Maluku-Papua, (10/2). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Sebanyak 35 jurnalis di Kota Ambon mengikuti pelatihan jursnalistik yang digelar Pertamina MOR VIII Maluku dan Papua.

Momen pelatihan itu ditujukkan salah satunya untuk mendekatkan pertamina dengan media. Seperti yang disampaikan EGM Reg. Papua Maluku, Yoyok W.Maniadi dalam sambutannya kemarin, (10/2/2021) di Maluku Resort and Spa, Suli, Kabupaten Maluku Tengah. Menurutnya pelatihan itu sebagia upaya terus menjalin kerjasama baik. Selain itu mengenalkan para jurnalis dengan pengetahuan akan produk layanan pertamina.

Loading…
Edi Mangun, Unit Manager Communication, Relation & CSR MOR VIII PT Pertamina (Persero)

“Kawan-kawan media pertama-tama saya ucapkan selamat Hari Pers Nasional 2021. Apresiasi setinggi tingginya kepada pers Maluku atas kerjasama selama ini. Pertamina selulu butuh dengan kawan-kawan media sehingga hari ini kami gelar acara ini,”kata Yoyok, Rabu (10/02/2021).

Dalam kesempatan itu, Edi Mangun, Unit Manager Communication, Relation & CSR MOR VIII PT Pertamina (Persero) juga menambahkan kegiatan itu untuk menyatukan pemahaman. Yaitu terkait peran dan kerja pertamina di masyarakat agar dapat disampaikan ke publik dengan tepat dan sesuai porsi.

Tak hanya itu, pertamina juga meminta agar media tetap teguh menjalankan fungsi kontrolnya dalam pemberitaan. “Ini yang katong butuhkan. Kami butuh partner sebagai fungsi kontrol,” sebut Edi.

Untuk menjalankan fungsi kontrol dengan baik jurnalis perlu memastikan bekal pemahaman yang utuh. Kepala Kantor Biro Provinsi Maluku, John Nikita Sahusilawane mengingatkan wartawan untuk selalu berpegang pada kode etik jurnalis.

Menurutnya fungsi media yang sebagai kontrol juga mengedukasi harus dikerjakan dengan baik. Wartawan, katanya, tidak bisa memaksakan kehendak pribadi di dalam karya penulisan. Hal ini akan mengganggu objektvitas.

“Kita memang bisa membawa perubahan lewat tulisan-tulisan, tapi tidak bisa memaksakan perubahan,” terang John saat membawa materi Etika Membuat Berita. Puluhan jurnalis yang hadir itu terdiri dari jurnalis media online, cetak dan elektronik. (PRISKA BIRAHY)