Petani Hutumuri, Merawat Sukses Bertanam di Atas Karang

by
Josep Tehupeiori, petani cabai dan tomat di atas karang Negeri Hutumuri Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,AMBON-Sebutan Maluku negeri yang kaya tampaknya memang tidak berlebihan. Di tanah para datuk ini tersimpan kekayaan yang luar biasa. Orang Maluku benar benar dimanjakan dengan alamnya. Segala hal yang ada di alam, memberi penghidupan bagi mahkluk hidup di dalamnya. Bahkan di atas tanah tandus dan berkarang pun, tetap memberi kesuburan. Seperti area pertanian di Negeri Hutumuri Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon.

Setelah anda menyusuri rimbunnya pohon cengkih dan durian di Dusun Toisapu, kita akan disajikan dengan hamparan area bertanam di atas karang kawasan Negeri Hutumuri. Bila dicermati, karang-karang cadas berwarna putih itu ditutupi permadani hijau dari tanaman cili. Josep Tehupeiori, petani cabai dan tomat merupakan salah satu yang mengembangkan sistem bertani di atas karang tersebut. “Ini metode su dari lama, dari orang tatua dulu,” katanya saat ditemui di kebunnya, Rabu 21 Maret 2018.

Area bertanam miliknya seluas setengah hektar. Di situ ramai dengan tanaman hortikultura berupa cabai, tomat dan timun. Tomat ditanam di lahan tanah datar. Area itu dulu ditumbuhi tanaman umur panjang seperti durian dan cengkih. Sedangkan yang menarik, di area berbatu yang miring di sisi hutan. Lokasinya persis bersebelahan dengan tanaman tomat. Di atas area berbatu karang itu ditanami cabai.

 

Josep mengungkapkan, teknik itu bukan hal baru. Sebab sudah ada sejak dulu. Hanya, ketelatenan mengurus tanaman dipelajarinya dari seorang petani asal Sulawesi. Soal hasil panen, kakek empat cucu itu mengaku tidak ada yang beda. Hanya saja, cabai yang ditanam di karang jauh lebih kuat. “Kalau di karang dia bisa tahan panas. Seng mudah mati karena bisa simpan embun saat malam,” kata pria 63 tahun ini.

Cabai tumbuh di sela-sela karang yang terdapat tanah subur. Unsur hara dan mineral kaya dalam karang dan tanah di situ. Maka tak heran kita akan menjumpai hamparan tanaman cabai yang subur berwarna hijau. Hal itu menjadi sesuatu yang menarik. Pria yang akrab disapa bapa Oce tidak sendiri. Ada beberapa petani lain warga asli Hutumuri yang menerapkan sistem serupa.

Baginya, alam mengajarkan sebuah hal istimewa, adaptasi manusia dengan lingkungan melahirkan sebuah pengetahuan. Sistem bertanam di atas lahan keras seperti batu karang tetap menjanjikan. “Yang penting telaten dan mau berusaha. Tanaman pasti jadi,” imbuhnya. Bila musim sedang baik dan tak ada hama penyakit, hasil panen tomat cabai bisa sampai ratusan kilogram.

Sayangnya penyakit yang menyerang akar tanaman serta cuaca panas yang ekstrim tak jarang mematikan tanaman. Seperti pada siang itu, Bapa Oce sedang menyiram tanaman tomat yang diberi mulsa atau plastik penutup tanah. Dia menyebut, sudah ada ratusan tanaman tomat mati kekeringan akibat cuaca yang super panas.

Satu-satunya solusi yaitu dengan melakukan penyiraman berkala tiap siang hari. Dengan begitu tanaman tidak akan kering. Yang terpenting, petani harus ekstra teliti merawat jenis tanaman kebun seperti tomat cabai. “Cuaca yang terlalu panas atau hujan deras yang awet, adalah musuh bagi tanaman milik petani,”kata Bapa Oce.(BIR)