Pilkada Dan Puitika Piala Dunia Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Rudy Rahabeat

DUA momen saling bekelindan saat ini. Pilkada serentak di Indonesia dan Piala Dunia di Rusia. Ada banyak kejutan dan kenangan. Sebab bola itu bundar dan politik itu cair. Selebihnya, ada yang percaya pada dewi fortuna atau pada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

BOLA ITU BULAT

Siapa menyangka mantan juara dunia Jerman bertekuk lutut oleh Mexico di laga perdana piala dunia dunia di Rusia. Siapa pula yang mengira Argentina kebobolan 3 gol dari Kroasia. Atau Brasil imbang 1:1 ketika berhadapan dengan Swis. Dan ada banyak lagi kejutan yang membuat semua orang terpana pada munculnya para pendatang baru yang mampu menumbangkan raksasa-raksasa sepak bola dunia.

Ternyata tidak selamanya yang “besar” itu perkasa dan pasti menang. Yang kecil juga bisa mencatat sejarah bahkan sejarah yang fenomenal. Olehnya, jangan pernah anggap enteng yang kecil. Jangan pula terlalu menyombongkan yang besar. Sebab segala sesuatu bisa saja terjadi, bahkan segala sesuatu yang kelihatan mustahil bisa berubah menjadi kenyataan yang mempesona.

Bola itu bundar, ia bebas menggelinding ke mana saja. Bisa ke dalam gol, bisa juga keluar. Kaki-kaki dan kepala serta dada yang mengelola bola menuju gawang, tak selamanya tiba dengan selamat. Ada yang terhenti pada tendangan sudut, bahkan tendangan 12 pas pun tak selamanya pas dan tembus, seperti yang terjadi pada Leonel Messi yang diandalkan itu. Sekali lagi, segala sesuatu bisa saja terjadi. Dan itu penuh kejutan.

POLITIK ITU CAIR

Analogi sepak bola dapat pula disandingkan pada momentum Pilkada serentak yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Seperti Piala Dunia, semua orang ingin agar pesta demokrasi ini berlangsung anggun dan elegan. Semua kandidat dapat menyajikan visi misi dan program yang subtantif, materi kampanye di sajikan secara apik, demikian pula para pendukung baik tim sukses maupun partai pendukung serta rakyat pendukung dapat “bermain” secara cantik. Tidak terjadi insiden yang mesti membuat wasit mengeluarkan kartu kuning bahkan merah.

Seperti bola yang bundar, politik juga cair. Tidak mudah dipegang dan diraba. Ia mengalir dan terus mengalir. Kadang kita menyaksikan para kandidat tampil prima, kadang loyo dan kuyu. Kadang penuh senyum kadang berubah menjadi merah marah. Kadang banyak canda tawa, kadang pula muram. Semua tergantung “cuaca” yang terus berubah-ubah. Tapi, justru pada cuaca seperti itulah seorang calon pemimpin diuji. Seperti pepatah Bugis “pelaut tangguh tidak lahir di laut tenang”.

WASIT

Salah satu percakapan sehabis sebuah pertandingan bola adalah peran wasit. Ada yang memuji wasit setinggi langit, ada pula yang menkritik dan memakinya. Wasit dinilai tidak professional, memihak kesebelasan tertentu dan menunjukan ketidakadilan pada suatu pertandingan. Pokoknya, selain pemain, maka wasit turut mementukan mulusnya bahkan kemenangan. Oleh sebab itu, peran wasit tak boleh disepelehkan.

Dalam Pilkada hal demikian pula dituntut kepada para penyelenggara Pilkada, utamanya Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka diharapkan memiliki integritas diri, tidak memihak kepada paslon manapun, tapi memihak kepada keadilan dan kebenaran, sebagaimana diinstrumenkan dalam tata tertib dan mekanisme Pilkada. Mereka mesti berani dan tegas. Tidak ragu-ragu dan salah tingkah. Sebab mereka dipilih dan diutus bukan sekedar pelaksana teknis Pilkada, tetapi kepada mereka masa depan demokrasi diletakan pula.

Loading...

Selain KPU, peran BAWASLU/PANWAS dan aparat penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim) juga tak kalah penting. Mereka pun harus bekerja secara professional. Jika ada pelanggaran maka perlu ditindak, jangan dibiarkan saja. Para pelaksana di tingkat RT, RW, negeri/kelurahan, kecamatan dan kabupaten/kota perlu juga bekerja secara optimal. Saat pemungutan suara, perhitungan suara, rekapitulasi hasil, termasuk saat berlangsung di kabupaten/kota perlu dipastikan terjadi dengan jujur dan adil. Jika semua bisa bekerja secara baik, dapat dipastikan Pilkada menjadi sebuah pertandingan yang menyenangkan dan menggembirakan. Sebaliknya, jika ada banyak kecurangan, maka Pilkada ibarat sepak bola yang menyisahan keresahan bahkan sakit hati.

BALAS JASA DAN BALAS DENDAM

Ini yang memungkin beda antara sepak bola/piala dunia dan politik/pilkada. Setelah Pilkada umumnya ada pengaturan kembali sumber daya manusia menyokong birokrasi pemimpin baru. Ada yang tetap pada posisi dan jabatannya, ada yang dirolling bahkan diganti serta di-non-job-kan. Ini awalan yang mencekam pada sebagian orang tapi bagi yang lain ini kesempatan baru bagi perjalanan kariernya. Semuanya bisa saja terjadi.

Balas jasa ini berkaitan dengan proses yang berlangsung jelang Pilkada. Hal dukung mendukung mengharapkan adanya balas jasa, walau mungkin tidak berlaku semuanya. Istilah kerennya “tidak ada makan siang gratis”. Di sinilah integritas dan kematangan seorang pemimpin diuji. Apakah ia akan terjebak dalam politik transaksional ataukah tetap meletakan dasar-dasar kepemimpinan publik berdasarkan keutamaan-keutamaan publik (etika publik).

Dalam teori rekruitmen sumber daya manusia paling kurang dikenal dua jenis model yakni merit system dan tradisional system. Merit system menekankan kompetensi, kualitas dan kinerja, sedangkan tradisional system lebih “lentur” mempertimbangkan senioritas, lama kerja, termasuk “balas jasa” tadi. Kedua model ini tak selamanya dipertentangkan, tapi bisa dikawinkan. Tergantung tipe pemimpinnya.

PUITIKA

Sebagaiman sebuah puisi, Pilkada bukan saja sederet aturan dan mekanisme yang rapih. Bukan sekedar baris-baris kata yang berirama. Pada puisi kita menemukan adanya multitafsir. Satu bait bisa ditafsir seribu makna. Bahkan frasa “aku ini binatang jalang” Chairil Anwar, bisa dimaknai orang bebas atau orang urakan. Tergantung sudut pandang.

Puitika tidak hanya permainan kata-kata tanpa makna. Setiap kata dan kalimat serta bait menyimpan makna terdalam yang tidak bisa tersibak melalui logika. Perlu estetika juga etika. Padanya, orang menemukan makna tersurat dan tersirat bahkan tak terduga. Lagi-lagi Chairil Anwar berkata-kata “kalau sampai waktuku, ku tak mau seorang pun merayu, tidak juga Kau”.

Siapakah Kau itu? Piala dunia sedang berlangsung, masih dua minggu lagi baru kita mengetahui siapa juaranya. Bola masih berpindah dari kaki ke kaki lainnya, gawang ke gawang lainnya. Demikian pula wasit akan terus berbagi peran pada masing-masing pertandingan.

Di lain pihak, Pilkada tinggal beberapa hari lagi. Kita berharap dan berdoa agar semuanya berjalan damai dan sukses, jujur dan adil. Seperti pada puisi, Pilkada harus bisa merangsang imajinasi, menyentuh rasa, menyuburkan akal sehat. Bahkan Pilkada adalah pesta yang kita rayakan dengan gembira, sebagaimana sepak bola. Menang dan kalah itu manusiawi ! (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *