Pilkada Maluku Sudah Selesai Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

Pilkada Maluku Sudah Selesai Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

SHARE
Rudy Rahabeat

Andaikata Pilkada Maluku sudah selesai, apa perasaan anda? Pasti lega dan senang, tidak tegang dan penuh tanya. Sebab telah terpilih Gubernur Maluku dan Wakil Maluku untuk periode lima tahun ke depan. Mereka akan dilantik dan bekerja dengan semangat tinggi untuk memajukan Maluku. Mereka akan mewujudkan janji-janji yang telah mereka sampaikan selama kampanye, dan bersama seluruh elemen masyarakat gotong royong membangun Maluku hingga makin berseri.

Tapi bagaimana jika kemenangan mereka tidak sah? Mungkin karena ada penggelembungan suara, atau politik uang dan intimidasi? Tenang, jangan panik.  Sudah ada jalur hukum, silahkan proses, silahkan tempuh jalur yang tepat, jangan main hakim sendiri, jangan lakukan kekerasan, jangan pula stress. Sebab jalan masih panjang. Selalu ada kesempatan untuk membuat segala sesuatu lebih baik.

MALUKU YANG DIBAYANGKAN

Jika sebelumnya Maluku terpuruk di bidang pendidikan dan termasuk dinilai provinsi miskin, maka Maluku ke depan adalah Maluku yang maju. Pemerintah menyediakan beasiswa penuh bagi mereka yang cerdas tapi tidak mampu secara ekonomi. Membenahi secara fundamental pendidikan dasar hingga menengah. Memperhatikan kesejateraan guru dan keluarga mereka. Menyediakan fasilitas pendidikan yang bermutu. Untuk itu pemerintah daerah harus terus melobby pemerintah pusat, jangan tunggu saja. Juga membangun jaringan dengan siapa saja, di dalam maupun luar negeri, yang peduli pada dunia pendidikan. Dipastikan, setelah lima tahun lewat, pendidikan Maluku makin bagus, SDM Maluku makin berkualitas, bisa bersaing di semua lini.

Maluku yang dibayangkan di masa depan adalah, Maluku yang bukan saja kaya sumber daya alam, tetapi sumber daya alam itu benar-benar dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Elite tidak lagi korupsi, baik di provinsi, kabupaten, kota, hingga negeri-negeri. Tidak adal lagi kolusi antar penguasa dan pengusaha, yang hanya menyedot hasil alam, dan merusak lingkungan, dan tak peduli dengan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan, misalnya. Maluku sudah punya standar pengelolaan sumber daya alam yang ramah lingkungan dan benar-benar memberi manfaat bagi rakyatnya. Bukan segelintir orang saja.

Maluku yang dibayangkan adalah hidup rukun dan damai. Perbedaan suku dan agama tidak jadi alasan untuk saling konflik. Falsafah dan budaya yang sarat toleransi terus dijaga dan dirawat. Tidak lagi orang yang menganggap etnis atau agamanya lebih hebat dari orang lain. Sebab semuanya di mata Tuhan sama. Taka da diskriminasi dan superioritas budaya. Semua saling  melengkapi, saling membanggakan kekhasan budaya masing-masing.

Maluku masa depan dibangun atas dasar cinta dan bangga terhadap keragama budaya, suku dan agama. Tak ada lagi kelompok-kelompok yang menyebarkan semangat radikalisme dan fanatisme sempit. Semua orang makin dewasa, karena kita terus belajar dari sejarah. Bahkan Maluku ini milik kita semua. Maluku ini untuk kita semua.

PEMIMPIN YANG BERWIBAWA

Andaikata Pilkada Maluku sudah selesai, mari kita bangga dengan pilihan rakyat. Siapapun yang terpilih kita hormati dan sayangi. Lupakan persaingan saat kampanye dan pra Pilkada. Satukan tekad untuk maju bersama. Bersama pemimpin terpilih yang berwibawa. Apa artinya pemimpin tanpa rakyat. Demikian pula rakyat tanpa pemimpin, bagai domba tanpa gembala. Kita butuh pemimpin yang merangkul dan mengayomi semua. Ketika mereka sudah menjadi pemimpin mereka bukan pemimpin untuk partai atau kelompoknya. Mereka pemimpin untuk seluruh rakyat Maluku. Kepada mereka kita taruhkan harapan, untuk masa depan Maluku yang cerah ceria.

Maluku kita kaya. Lautnya luas, hutannya pula, ada juga hasil tambang dan aneka potensi lainnya. Dan jangan lupa, orang Maluku itu punya budaya ramah. Terbuka kepada siapa saja, bangga terhadap identitasnya, dan menghargai warisan para leluhur. Orang Maluku itu punya sejarah yang panjang. Jatuh bangun, susah senang. Bahkan Bung Karno pernah bilang “Indonesia tanpa Maluku bukan Maluku”. Ini harus jadi modal sosial. Bukan untuk angkuh dan sombong. Tapi untuk makin percaya diri untuk makin melaju dan maju.

Betapa senang dan bangganya kita jika pemimpin lima tahun ke depan benar-benar membangun Maluku dengan sepenuh hati dan jiwa. Bersama dengan seluruh elemen masyarakat saling sinergi dan kolaborasi. Pasti Maluku makin sejahtera, dan itu bukan ilusi atau mimpi. Kalau ini bisa terwujud, Pilkada hanya jembatan kecil saja. Ia bukan akhir segalanya. Bahkan Pilkada sebenarnya, sudah selesai, ketika masyarakat makin matang dan dewasa untuk ambil bagian dalam berbagai agenda demokrasi, termasuk mendoakan pemimpin yang akan dipilih 27 Juni nanti.

Selamat merayakan Lebaran. Selamat menikmati masa liburan. Selamat menentukan pilihan. Jabat hangat ! (RR)

loading...