PKB Maluku Dukung Gerakan “Jas Hijau” Ketum PKB  

by
Ketua DPW PKB Maluku Basri Damis

TERASMALUKU.COM,AMBON-Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maluku Basri Damis mendukung kampanye gerakan Jas Hijau yang dicanangkan Ketua Umum (Ketum) DPP PKB, H. Abdul Muhaimin Iskandar di Semarang, Jawa Tengah  Jumat (21/7).

Gerakan Jas Hijau yang merupakan kepanjangan dari jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama dilakukan agar masyarakat dan Bangsa Indonesia  tidak melupakan jasa para ulama dalam mendirikan dan memperjuangkan bangsa.

Peran ulama sangat terlihat jelas dalam upaya mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ulama dan Umat Islam bersatu berperang melawan penjajah. “Saya mendukung gerakan Jas Hijau yang dicanangkan oleh Ketum DPP PKB H. A. Muhaimin Iskandar, di Maluku kami akan berupaya keras untuk membumikan gerakan tersebut,”kata Basri kepada wartawan di Ambon, Minggu (23/7).

Basri menyatakan, gerakan Jas Hijau yang dicanangkan PKB dan Nahdliyin agar masyarakat tidak melupakan perjuangan para ulama yang selama ini mengorbangkan harta, pikiran dan jiwa untuk kemerdekaan Indonesia. “Gerakan ini sangat bagus, karena kita diingatkan kembali tentang pentingya peran ulama dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Selain untuk mengenang jasa para ulama, Bisri  juga mengatakan, Jas Hijau adalah upaya PKB serta kaum Nahdliyin dalam menangkal arus Ormas radikal yang berupaya merusak kerukunan umat beragama dan mengganti ideologi Pancasila dengan syariat Islam.

Ia menyatakan, Muhaimin Iskandar disaat pelaksanaan deklarasi Jas Hijau di Semarang, mengatakan, Jas Hijau adalah wujud terima kasih kader NU kepada para ulama yang sudah memperjuangkan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran Ulama dalam tatanan sejarah kebangsaan dan kenegaraan yang sangat penting dan mampu menjadi peneduh bangsa hingga saat ini.

Menurutnya, saat ini secara perlahan-lahan peran ulama terhadap bangsa mulai dilupakan oleh para anak bangsa. Salah satu cara yang dilakukan untuk menghilangkan peranan para ulama sengaja dihilangkan yakni rencana full day school (FDS) oleh Mendikbud. “Ulama dan masyarakat sudah melakukannya sejak dulu bahkan tanpa bantuan pemerintah. Pelaksanaan FDS Kemendikbud mengabaikan peran ulama,” kata dia.

Basri mengatakan, para ulama dulu yang dikenang sebagai pahlawan nasional seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, Bisri Syamsuri telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. Oleh karenanya, jasa para pendahulu dalam mewariskan lembaga pendidikan madrasah tidak boleh diabaikan.

Selain itu, peran ulama juga tergerus dengan isu yang berkembang di media sosial. “Ulama diganggu isu lepas dari Islam, di Sosmed yang disebut ulama itu yang (aksi) 212. Itu salah besar. Semua harus akui sejarah, Pemerintah harus beri tempat pada ulama yang luar biasa,” katanya. (IAN)