PkM UKIM Kenalkan Gizi Seimbang untuk Anak-Anak di Pengungsian Waai

by
Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Griennasty C. Siahaya bersama anak-anak di pengungsian Desa Waai kenalkan gizi seimbang lewat permainan 'Tumpeng Gizi Seimbang' (28/10). FOTO: Ist

TERASMALUKU.COM,AMBON,-Kurangnya gizi seimbang menjadi satu masalah di lokasi pengungsian. Untuk itu Fakultas Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) berinisiatif berikan edukasi gizi bagi anak usia sekolah.

Kegiatan yang merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat (PkM) itu digelar di Puncak Damai Jemaat GPM Waai, Kabupaten Maluku Tengah. Ada lebih dari 70 anak terlibat dalam kegiatan yang dibalut asik dan menyenangkan itu.

Griennasty C. Siahaya, ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang menggelar kegiatan tersebut mengatakan jika kegiatan itu bukan sekadar pengenalan gizi.

Anak-anak pun orang tua dilibatkan memahami gizi seimbang serta sumber-sumber gizi bahkan dalam kondisi serba terbatas sekalipun. Seperti kenyataan saat ini, sebagian besar warga Negeri Waai tinggal di hutan.

“Di tempat pengungsian itu makan mie instan banyak dan itu tidak sehat. Setiap hari bantuan mie datang lalu makan dengan nasi. Itu karbohidrat semua. Anak butuh gizi seimbang,” jelas Griennasty yang juga dosen prodi Kesehatan Masyarakat, Peminatan Gizi, UKIM.

Griennsty tidak sendiri. Dia bersama rekannya, Grace Wakano dosen Keperawatan UKIM untuk membagi materi dalam (PkM) Edukasi Gizi bagi Anak-anak tersebut.

Mie instan dan makanan serba praktis lain sudah tentu menjadi menu wajib darurat bagi para pengungsi. Keadaan menyulitkan mereka untuk mencari pilihan lain seperti saat tinggal di rumah dulu. Namun selalu ada cara untuk menyiasati agar anak tetap mendapat gizi cukup dan seimbang.

Anak-anak antusias bermain lacak kata melengkapi kategori gizi seimbang

Pada kegiatan yang digelar pada Kamis, 17 Oktober 2019 bersama mahasiswa itu Griennasty menjelaskan jika ada sumber serat dan vitamin yang dapat diperoleh di alam sekitar. Seperti sayur-sayuran daun yang tumbuh liar di hutan. “Hutan di Maluku ini kaya.

Banyak sayur yang dulu orang tua-tua sering makan. Nah itu bisa jadi sumber gizi dari pada makan mie terus,” terangnya.Seperti daun kelor, katuk, melinjo dan matel. Sayuran yang mudah diperoleh di lingkungan itu dimasak bersamaan dengan mie – sumber karbohidrat.

loading...

Dia menyayangkan ada banyak temuan di lapangan, anak-anak dibiarkan memakan mie bersamaan dengan nasi dalam rentan waktu lama. Kedua makanan itu sama-sama mengandung karbohidrat. Sedangkan serat dari sayuran juga protein dari daging nyaris tak ada dalam sajian piring makan.

Nah, dalam edukasi gizi itu, Griennasty dan Garce membuat beberapa permainan gizi yang seru bagi mereka. Yaitu PkM Game Edukasi Gizi.Seperti permainan lacak kata gizi seimbang dan game tumpeng gizi seimbang. Anak-anak terlebih dulu mendapat materi terkait gizi.

Barulah kemudian mereka berlomba memenuhi bagan tumpeng dengan jenis gizi yang tepat. “Anak-anak sangat antusias. Mereka rata-rata sudah tahu jadi cepat-cepat isi tumpeng,” jelas dosen yang sedang kembangkan produk kripik dan biskuit anak berbahan Laor itu.

PkM itu juga mereka mengenalkan trik jitu agar anak pun orang tahu melek dengan kebutuhan gizi yang cukup dan imbang. Yaitu melalui program ‘isi piringku’. Di situ, kata Griennasty, ada piring khusus yang telah diberikan takaran jumlah karbohidrat, serat, protein, lemak hingga mineral.

Dengan begitu anak akan lebih mudah belajar memantau kecukupan gizi yang dia konsumsi. Tak lupa mereka memberikan hadiah sebagai stimulus bagi anak yang berhasil merangkum isi piringku dnegan tepat.

Menurutnya, kegiatan itu diharapkan membuka wawasan anak juga orang tua tentang bagaimana menjaga dan menyiasati gizi imbang. Pasalnya kondisi alam di Maluku saat ini sanagt sulit diprediksi. Masyarakat lebih nyaman bertahan di hutan atau tempat yang tinggi dan jauh dari rumah. Terutama bagi warga Waai yang tinggal persisi di tepi laut.

Masyarakat perlu diajari bertahan di alam dengan memanfaatkan hasil tanah yang berguna untuk kesehatan tubuh. Apalagi Negeri Waai masuk dalam salah satu desa dengan kasus stunting yang tinggi di Maluku Tengah. Dibutuhkan intervensi gizi sejak dini. Bagi anak juga orang tua di kemudian hari.

Diakhir permainan, Tim PkM meminta salah satu anak untuk dapat maju ke depan untuk merangkum informasi atau pengetahuan apa yang telah didapat melalui kegiatan tersebut, dan bagi anak yang mampu menjawab diberikan hadiah satu buah Piring Gizi yakni Isi Piringku dan hadiah ini dimenangkan oleh Arnold.

Hadiah tidak hanya diberikan bagi Arnold, tetapi bagi ketiga kelompok yang juara yakni Jura I (Kelompok Karbohidrat), Juara II (Kelompok Lemak) dn Juara III (Kelompok Protein) juga diberikan hadiah.

Kehadiran Tim PkM baik dosen dan mahasiswa dari Universitas Kristen Indonesia di lokasi pengungsian itu diharapkan dapat membantu anak-anak merasakan kehadiran perguruan tinggi (UKIM) dalam upaya meningkatkan SDM dan kesejahteraan masyarakat. (ADV)

 

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *