Polda Maluku Ungkap Penipuan Tes Masuk Polwan Senilai Rp 1 Miliar, Pelakunya...

Polda Maluku Ungkap Penipuan Tes Masuk Polwan Senilai Rp 1 Miliar, Pelakunya Warga NTT

SHARE
Fargie J. Mandagi (wajah ditutup) warga Kabupaten Timur Tengah Selatan, NTT ditangkap Direskrimum Polda Maluku karena menipu dua peserta seleksi penerimaan Bintara Polri di Polda Maluku. Tersangka diperlihatkan polisi saat jumpa pers, Rabu (2/5/2018). FOTO : ALFIAN SANUSSI (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Maluku berhasil mengungkap penipuan terhadap peserta seleksi penerimaan Bintara Polri di Polda Maluku Tahun 2017. Tersangka penipuan adalah Fargie J. Mandagi, warga Kabupaten Timur Tengah Selatan, Nusa Tegara Timur (NTT). Dalam aksinya, tersangka menjanjikan bisa meloloskan peserta seleksi menjadi anggota Polri atas bantuan jaringannya di Mabes Polri asalkan menyetor ratusan juta rupiah ke rekening tersangka.

Namun yang terjadi peserta tidak lolos menjadi anggota Polri meski sudah setor uang ke rening tersangka. Tersangka berhasil ditangkap aparat gabungan Direskrimum Polda Maluku dan Polres Polres Timur Tengah Selatan ditempat pelariannya di Desa Alkani Kecamatan Waikiku Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu 29 April 2018. Setelah ditangkap, tersangka yang merupakan seorang wanita itu langsung dibawa ke Ambon.

“Polda Maluku berhasil ungkap kasus penipuan 1 milyar rupiah terhadap peserta seleksi penerimaan Bintara Polri. Tersangka berhasil ditangkap di lokasi persembunyiannya di Desa Alkani Kecamatan Waikiku Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, oleh aparat gabungan dari Polda Maluku dan Polres Timur Tengah Selatan pada Minggu, 29 April 2018. Kini tersangka sudah berada di Polda Maluku untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Muhammad Roem Ohoirat dalam keterangan pers di ruangannya Rabu (3/5/2018).

Fargie J. Mandagi.

Ohoirat mengungkapkan kasus ini terungkap setelah dua korban, peserta seleksi Bintara Polisi Wanita (Polwan) yakni, Nugraheni Maulia Dina dan Fifi Handani, yang tidak lolos melaporkan perbuatan tersangka ke Polda Maluku. Menurut Ohoirat meski berdomisi di luar Ambon, tersangka menjanjikan bisa meloloskan kedua korban menjadi anggota Polri.

Tersangka meminta korban menyerahkan uang dengan setoran awal atau DP sebesar Rp 30 juta. “Kemudian berdasarkan hasil catatan pribadi dan print out rekening koran tabungan milik orang tua korban tercatat terhitung tanggal 20 Maret 2017 hingga 8 Januari 2018 telah mengirimkan dana sebesar Rp 562.800.000 kepada rekening atas nama tersangka dan atas nama La Ode Acho,” kata Ohoirat.

Sedangkan untuk korban Fifi, menurut Ohoirat berdasarkan catatan pribadi dan print out rekening koran tabungan milik korban dan kakanya, Fanny Patrianti, terhitung 1 Maret 2017 hingga 6 Januari 2018 sudah mengirimkan uang sebesar Rp 185.750.000 ke rekening atas nama tersangka dengan transit melalui rekening Erna Muis.

Ohoirat mengatakan, pada 12 April 2018, korban Dina bersama Fifi diantar tersangka Fargie mendaftar ke Polda Maluku ikut seleksi menjadi Bintara Polwan. Keduanya ternyata dinyatakan tidak lolos pada awal, seleksi tahap administrasi penerimaan anggota Polri Tahun 2017. “Saat dinyatakan tidak lolos, tersangka selalu menyampaikan kepada korban kalau kedua masih bisa diurus sampai masuk pendidikan dengan koneksinya Mabes Polri,” kata Ohoirat. Setelah kedua korban tidak lolos seleksi, tersangka sulit dihubungi. Kedua korban kemudian melaporkan tersangka ke Polda Maluku.

Ohoirat mengatakan, pihaknya juga masih mengembankan kasus penipuan ini jangan sampai ada korban lainnya dari tindakan tersangka. Menurut Ohoirat uang yang telah diperolah tersangka dari kedua korban Rp 1 miliar lebih, sebagian besar ditransper sebagian diserahkan secara tunai. “Dua korban penipuan masing-masing seorang perempuan dari Desa Waiheru Kecamatan Baguala Kota Ambon dengan kerugian Rp 650 juta dan seorang perempuan dari Desa Piru Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku dengan kerugian 350 juta,” kata Ohoirat.

Barang bukti yang disita dari tersangka yakni buku tabungan BRI dan kartu ATM atas nama tersangka, dua buah HP berikut 2 sim card milik tersangka serta surat/dokumen berupa foto kopi ijazah-ijazah, akte kelahiran, kartu keluarga, KTP, pas foto dan kertas catatan nomor rekening. Menurut Ohoirat, atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 378 dan atau Pasal 372 KUHP, dengan ancaman hukuman paling lama empat tahun penjara.

Tersangka juga dijerat dengan Pasal 5 Ayat 1 Junto Pasal 2 Ayat 1 huruf q dan r UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. “Kedepan diharapkan tidak boleh terjadi lagi penipuan seperti ini lagi, janganlah percaya pihak manapun juga karena masuk Polisi itu gratis tanpa biaya apapun,” kata Ohoirat. (IAN)