Polisi Sita Rp 1,5 Miliar Dari Tangan Faradiba, Begini Modus Pembobolan Bank

by
Uang tunai Rp 1,5 miliar yang disita dari tangan tersangka Faradiba Yusuf kasus penggelapan dana nasabah BNI (22/10/2019). FOTO: Alfian Sanusi

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Dari tangan Faradiba Yusuf, polisi menyita uang tunai senilai Rp 1,5 miliar dari total kerugian bank BNI, Rp 58,9 miliar. Atau baru sekitar 2,55 persen. Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku yang datang meringkus Faradiba menyebut, sisa uang telah disalurkan ke rekannya untuk melakukan investasi dan pencucian uang.

Faradiba ditangkap bersama Soraya, seorang pegawai BNI di bagian umum saat berada di rumahnya. Keduanya digelandang ke Polda Maluku untuk diinterogasi. Hasilnya, pihak kepolisian menetapkan kedua orang itu sebagai tersangka dalam kasus pembobolan uang di BNI Cabang Ambon.

Dengan nominal sebanyak itu, polisi mengambil langkah antisipatif dengan langsung menahan kedua orang itu lantaran berpotensi melarikan diri.

Dua tersangka pembobolan bank BNI, Faradiba Yusuf dan Soraya

Pasalnya Faradiba sempat kabur. Namun pihak kepolisian mengendus jejak aksinya dan meringkus Faradiba di salah satu kediamannya di komplek perumahan elite, Citraland Ambon bersama Soraya.

“Setelah ditangkap kami lakukan interogasi dan tetapkan dua orang ini sebagai tersangka kasus pembobolan bank BNI,” kata Direktur Ditreskrimsus Polda Maluku, Kombes Pol Firman Nainggolan dalam keterangan pers di Polda Maluku, Selasa (22/10/2019).

Dalam keterangan pers ini juga, polisi menggelar barang bukti uang tunai yang disita dari Faradiba serta menghadirkan dua tersangka. Namun keduanya tidak berkomentar kepada awak media.

Firman menjelaskan, tersangka Soraya merupakan pegawai BNI di bagian umum. Soraya berperan menampung seluruh dana yang diperoleh dari Bank BNI melalui rekeningnya. Dari si penampung itu, polisi mengetahui, modus yang diterapkan Faradiba yakni mencari nasabah berduit.

Faradiba menjalankan misi menawarkan produk investasi perbankan dengan imbalan yang tidak prosedural. “Sehingga hasil penyelidikan itu kami tingkatkan menjadi penyidikan,” tegas Firman.

Modus lain yaitu, Faradiba membuat transfer fiktif oleh beberpa Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI, seperti KCP Dobo, Tual, Masohi, Mardika, dan Unpatti. Tujuannya, untuk menghimpun dana dengan modus transaksi tunai. “Data transaksinya masuk ke Bank, namun dananya tidak masuk. Sehingga total kerugian sampai Rp 58,9 miliar yang dananya sudah dibobol,” ucapnya.

Polisi juga menyita barang bukti lain. Berupa tiga unit mobil mewah tipe, Alphard, Pajero Honda serta tabungan. “Kita juga sita tabungan yang digunakan dan dokumen fiktif untuk melakukan transfer tanpa uang tunai lebih dari 70 berkas sebagai barang bukti,” beber Firman.

Dari salah satu kasus kejahatan keuangan terbesar di penghujung tahun ini, Ditreskrimsus Polda Maluku telah memeriksa 25 orang saksi. Mereka merupakan pegawai BNI yang terkonseksi dengan kasus tersebut pun para korban. “Kita sudah tahan mereka berdua karena berpotensi melarikan diri,” ungkapnya.

Dalam kasus ini Faradiba dijerat dengan undang-undang nomor 7 tahun 1993 tentang perbankan pasal 49 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dengan denda Rp 10 miliar. Dia juga dikenai pasal berlapis. Yaitu Undang-undang PPU pasal 3,4 dan 5 tajuin 2011 tentang pencucian uang karena membeli beberapa aset dan properti untuk menyembunyikan kekayaannya. (ALFIAN SANUSI)