Politisi Perempuan Maluku Satukan Persepsi Untuk Tahun Politik

by
Kaukus Perempuan Politik Maluku menggelar malam ekspresi bersama puluhan perempuan politik dari 14 Parpol yang berlangsung di Tribun Lapangan Merdeka Ambon, Senin (12/3) malam.

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Memperingati Internasional Womens Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional 2018, yang jatuh pada 8 Maret, Kaukus Perempuan Maluku menggelar malam ekspresi bersama puluhan perempuan politik dari 14 Parpol yang berlangsung di Tribun Lapangan Merdeka Ambon, Senin (12/3) malam.

Malam ekspresi  bertemakan tantangan dan peluang politisi perempuan menghadapi tahun politik 2018 -2019 ini menghadirkan  empat narasumber dari latar belakang berbeda. Yakni, Wakil Ketua DPRD Maluku, Elviana Pattiasina, jurnalis senior Maluku,  Insany Syahbarwaty, akademisi Unpatti Ambon, Dr.  Amelia Tahitu   serta  politisi PDIP Maluku, Nancy Purmiasa.

Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Maluku Olivia Latuconsina Salampessy mengungkapkan  pentingnya mengkonsolidasikan peran dari politisi perempuan untuk dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas dalam menghadapi tantangan dan peluang di tahun-tahun politik.

“Kaukus Perempuan Maluku  mendorong semangat perempuan untuk keluar dari sektor domestik dan menuju sektor publik yang selama ini dinilai tidak menjadi ranah penting bagi perempuan. Perempuan politik Maluku harus memiliki kemampuan dalam berbagai aspek  untuk mengambil peran dalam dunia politik,” kata Olivia.

Mantan Wakil Walikota Ambon ini menyebutkan, struktur dan kultur sosial yang belum ramah terhadap perempuan. Ditambah budaya politik patriarki dan tafsir sepihak terhadap kodrat perempuan  menyebabkan pentingnya perempuan berbagi pengalaman kepada politisi perempuan  muda  lain agar merebut posisi-posisi strategis. “Karena itu,IWD 2018  ini menjadi momentum penegasan bagi perempuan politik Maluku bahwa perjuangan belum usai,” kata Olivia.

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran diri dengan belajar merebut ruang publik dari tingkat RT hingga ke parlemen.  Hal ini dinilai oleh perempuan Maluku sebagai panggilan sejarah untuk melakukan perubahan. Artinya menurut Olivia,  perempuan harus keluar menyuarakan bahwa Indonesia darurat rasisme dan harus dilawan.

“Perempuan dituntut untuk memiliki pengetahuan lebih,  karena dengan berpengetahuan lebih perempuan akan lebih mampu merebut berbagai kepentingan yang diinginkan,” kata Insany.  Diskusi yang dipandu politisi PDIP Maluku, Cherly C. Patty Laisina itu juga diselingi pembacaan puisi dari Olivia dan sejumlah politisi. (NIE)