Polres Buru Telusuri Penyelundupan 300 Kg Merkuri ke Gunung Botak

by
Kapolres Buru AKBP Aditya B Satrio

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Polres Buru tengah menelusuri  informasi masuknya 300 Kg bahan kimia merkuri yang dipasok dari luar daerah untuk aktivitas penambangan emas ilegal di Gunung Botak Kabupaten Buru. Diduga 300 Kg merkuri itu  masuk ke Buru  melalui jalur laut. Namun menurut polisi  saat ini bahan kimia merkuri dan sianida sulit ditemukan di Kabupaten  Buru, mencari merkuri dan sianida bagaikan mencari narkoba jenis sabu-sabu.

“Kami mendapat informasi ada ratusan kilo gram merkuri yang masuk ke Pulau Buru, diperkirahkan mencapai 300 kilo gram. Informasinya dipasok dari luar daerah untuk aktivitas penambangan di Gunung Botak. Tapi merkuri di Buru saat ini sulit ditemukan, seperti kita cari sabu-sabu,”kata Kapolres Pulau Buru AKBP Aditya B Satrio kepada wartawan di ruang kerja, Jumat (16/2).

Kapolres  mengungkapkan beberapa waktu lalu, pihaknya mengamankan 17 Kg merkuri yang dipasok untuk pengolahan emas ilegal di  Gunung Botak. Menurut Kapolres apa yang dilakukan pihaknya sebagai kepedulian atas pencemaran lingkungan serta maraknya penggunaan mercuri dan sianida untuk pengolahan emas secara illegal di Gunung Botak. Apalagi masalah Gunung Botak serta pengunaan   merkuri dan sianida  menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo dan pimpinan Polri.

BACA JUGA : Kapolres Buru dan Dandim Dihadang Ratusan Penambang Ilegal Gunung Botak

Menurut Kapolres, pelaku atau pengguna, penambang tanpa izin yang menggunakan merkuri dan  sianida dapat dijerat dengan Undang – Penambang Minerba dan Undang-Undang Lingkungan Hidup dengan ancaman humuman maksimal 10 tahun penjara.

Untuk melakukan penegakan hukum terhadap  pelaku atau penguna, penambang emas tanpa izin yang menggunakan merkuri dan sianida di Gunung Botak, Kapolres bersama Dandim Namlea 1506/Namlea Letkol Kav Sindhu Hanggara bersama aparat gabungan,  Kamis (15/2) melakukan penindakan di Gunung Botak.

BACA JUGA : Penggunaan Bahan Kimia Oleh Penambang Ilegal di Gunung Botak Cemaskan Bupati Buru

Namun upaya Kapolres ini dihadang ratusan penambang ilegal saat hendak naik ke Gunung Botak sehingga Kapolres dan Dandim membatalkan rencana mereka. “Kalau mereka (penambang) tidak menggunakan bahan kimia merkuri dan sianida, kenapa mereka harus hadang kita. Ini berarti ada yang tidak beres dengan aktivitas di Gunung Botak,” kata Kapolres.

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi dari jajarannya, di Gunung Botak terdapat sekitar 1.500 kolam redaman, untuk proses pengolahan emas secara tradisional. Merkuri dan sianida dibutuhkan untuk memisahkan butiran emas saat proses pengolahan emas dengan sistem rendaman. Cara ini paling cepat untuk mendapatkan emas namun tidak ramah lingkungan apalagi bila limbahnya dibuang begitu saja sehingga dapat merusak lingkungan dan mengancam kesehatan manusia. (ADI)