Posisi Pemuda Dalam Pilkada Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan...

Posisi Pemuda Dalam Pilkada Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

SHARE
Rudy Rahabeat

TAK perlu diingatkan lagi, semua orang belum lupa bahwa dalam lembaran sejarah, termasuk sejarah Indonesia, pemuda bukan objek semata. Mereka adalah subjek dan aktor yang menggerakan perubahan. Peristiwa Sumpah Pemuda 1928 dan gerakan Reformasi 1998 adalah dua contoh dari banyak contoh lain. Seperti pendulum yang bergerak kian kesana kian kemari, posisi pemuda kadang terjepit di tengah. Ada yang diam, ada yang cuek.

Ada juga yang keluar dari barisan dan bergabung dengan faksi tertentu, bahkan faksi yang dulu ditentangnya. Sekali lagi, jika ambil contoh gerakan reformasi, sebagian aktivis (orang muda) kala itu, sekarang ini sudah masuk di lingkaran kekuasaan, tapi mereka seperti diam dan kehilangan arah untuk membawa spirit reformasi. Benar sudah ungkapan Abraham Lincoln, tokoh pembebas perbudakan yang juga mantan Presiden Amerika Serikat itu, “berikan dia kekuasaan, maka akan nampak siapa dia sebenarnya”.

PENDULUM PILKADA

Antropolog Hatib Kadir dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Hal Baru dalam Pilgub Maluku dan Unsur-unsur yang Memenangkannya (8/1/2018) melihat kontestasi Pilkada Maluku cukup menarik dan menggoda. Saat ia menyiapkan tulisannya nama Said Assagaf dan Murad Ismail dipastikan masuk bursa. Ia melihat kontestasi ini cukup menarik karena akan ada ragam isu yang terkelola untuk menarik simpati pemilih. Populisme agama/ etnis, isu pemimpin yang tegas, politik uang, patronase dan rekam jejak kepemimpinan merupakan hal-hal yang menarik dicermati dan dikritisi. Tanpa diduga, setelah tulisan kawan saya ini dipublikasikan, tidak lama kemudian muncul nama baru dari jalur independen; Herman Koedoebon dan Abdullah Vanath. “Peta berubah”, ungkap seorang kawan.

Dalam konteks ini, peta ini perlu dianalisis. Ini bukan peta buta, apalagi peta ajaib, seperti dalam film anak-anak. Proses analisis perlu dilakukan, supaya tidak tersesat di jalan. Dan ini harus dibaca sebagai bagian dari pendidikan dan pendewasaan politik warga. Tugas ini tentu bukan tugas pengamat politik semata. Para lelaki yang biasa nongkrong di kedai kopi juga punya analisis dan peta tersendiri. Bahkan sesekali ketika kita di Pasar Mardika, ibu-ibu juga sambil menjajakan barang dagangannya meneriakan nama kandidat tertentu, sembari tertawa. Tanyakan tukang becak dan tukang ojek, mereka pasti punya peta dan analisis juga. Satu peta, beragam analisa.

Lalu bagaimana analisis dan peran kawan-kawan pemuda? Adakah forum yang tersedia untuk mendengar suara kaum muda? Apa yang telah dan sedang dilakukan kawan-kawan pemuda untuk menceraskan masyarakat dalam momen Pilkada ini? Beberapa waktu kemarin ada diskusi yang menghadirkan juru bicara masing-masing kandidat. Rata-rata juru bicara adalah orang muda. Ini sebuah jejak yang menarik. Ada pula senat mahasiswa atau organisasi ektra kampus yang bikin forum debat kandidat. Ini juga hal yang patut diapresiasi. Pertanyaannya, sejauhmana forum-forum itu berkontribusi bagi pencerdasan politik pemuda dan masyarakat pada umumnya.

PEMUDA JANGAN DIAM

Siapa bilang pemuda diam? Mereka sebagian sudah terhisab dalam barisan tim sukses atau paling kurang siap bekerja jika diberi ruang. Melalui organisasi-organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, ada kerentanan untuk terjebak dalam politik praktis. Hingga saat ini saya belum mempunyai data, misalnya angkatan muda gereja tertentu menyatakan secara terbuka mendukung calon tertentu. Hal sama juga di komunitas pemuda Islam misalnya. Jika ini benar, maka masih ada harapan kaum muda untuk menentukan sikap politik yang cerdas dan tidak terjebak dalam politik dukung mendukung. Idealnya demikian, walau bukan rahasia umum lagi bahwa, arus di luar tanjung Allang lebih kuat ketimbang di dalam teluk Ambon.

Pemuda bisa dan sudah melakukan proses-proses pendidikan politik. Misalnya, mengajak masyarakat untuk datang ke bilik suara menyalurkan hak-hak politiknya. Sebab bisa jumlah partisipasi pemilih menurun. Bisa juga mengkampanyekan menolak politik uang dan politasasi isu SARA. Fungsi-fungsi pengawasan juga bisa dilakukan oleh pemuda, misalnya sebagai tim independen pemantau Pilkada, sambil tetap berkoordinasi dengan lembaga-lembaga penyelenggara seperti KPU atau Bawaslu/Panwas.

Semua kita ingin Pilkada berjalan sejuk dan sukses. Siapapun yang terpilih itu pemimpin kita semua. Kita terima dengan hati gembira. Kita punya harapan agar setiap pemimpin membawa Maluku ke tatanan sosial-budaya yang makin sejahtera. Dalam kaitan ini, pemuda dapat ambil peran, turut menciptakan sejarah, seperti yang telah diteladani para pemuda di zaman kemarin. Betul kata Bung Karno “beri saya sepuluh pemuda, maka saya akan mengguncangkan dunia”. Semoga ! (RR)

loading...