Potong Pele COVID-19 di Bumi Raja-Raja : Menguak Maluku Lawan COVID-19

by
FOTO : ISTIMEWA

 TERASMALUKU.COM,-Indonesia kini tengah berjuang melawan virus COVID-19, bersama dengan negara-negara di seluruh penjuru dunia. Tidak mudah bagi Indonesia menghadapi pandemi ini. Sebagaimana data WHO pada Maret 2020 bahwa virus ini adalah darurat kesehatan dunia, pertumbuhan kasus COVID-19 di Indonesia termasuk yang tercepat yaitu 12 hari untuk mencapai 50 kasus pertama dan telah menyebar di berbagai daerah.

Pada situasi sulit ini memerlukan manajemen krisis yang handal. Diperlukan kolaborasi dari semua pihak Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten Kota dan seluruh lapisan masyarakat untuk menyelesaikan kasus ini melalui disiplin dan konsistensi untuk memutus rantai penyebaran dengan taat dan patuh pada protokol kesehatan COVID-19.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Disaster Risk Reduction Centre (DRRC) Universitas Indonesia (UI), Pemerintah Provinsi Maluku, TP-PKK Maluku, Universitas Pattimura Ambon, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) dan Perhimpunan Ahli Kesehatan Kerja Indonesia (PAKKI) mengadakan Pentahelix kepemimpinan Maluku lawan Covid-19 yang dilakukan pada Jumat (28/8) secara daring.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, Kepala BNPB/Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Doni Manardo yang diwakilkan Berton Panjaitan, Kepala Pusdiklat PNPB, dibuka oleh Ketua Pusat Kajian Kebencanaan Universitas Indonesia Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D. dan Rektor Unversitas Pattimura Ambon Prof. Dr. Marthinus J. Saptenno, S.H., M.Hum. dengan moderator dr. Agustin Kusumayati, MSc, PhD. Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) dan Sekretaris Universitas Indonesia.

Melkiades Laka Lena mengingatkan bahwa pada situasi sulit ini, memerlukan manajemen krisis yang handal. Diperlukan kolaborasi dari semua pihak Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten Kota dan seluruh lapisan masyarakat untuk menyelesaikan kasus ini melalui disiplin dan konsistensi untuk memutus rantai penyebaran dengan taat dan patuh pada protokol kesehatan COVID-19.

Pekerjaan ini merupakan gotong royong kemanusiaan dan diperlihatkan melalui strategi pentahelix dalam rangka menangani COVID-19, yaitu bagaimana metode ini membantu mengatasi masalah atau pengembangan program dengan melibatkan pihak dari berbagai sektor (lintas sektor) yang berfokus pada Kerjasama Multi Pihak (KMP). KMP memberi ruang kepada berbagai pihak, atau saat ini lebih banyak disebut dengan istilah Model Penta-Helix, yaitu merangkul Pemerintah, Akademisi, Swasta dan Filantropi, Kelompok Masyarakat, dan Media di dalamnya sebagai satu kesatuan.

Melkiades Laka Lena menjelaskan bahwa Indonesia yang sedang berada dalam krisis multidimensi, maka penanganan COVID-19 harus secara cepat dan komperehensif serta harus ditangani secara holistik. “Dalam perspektif manajemen, krisis ini merupakan resiko yang dinilai sama derajatnya dengan peluang, sehingga seharusnya kita sebuah sebuah entitas bangsa dapat melihat peluang dalam resiko dengan menciptakan dan mengubah krisis menjadi peluang (turning crisis into opportunity),” katanya.

Untuk menghadapi situasi ini, Melkiades Laka Lena mendorong Pemerintah Indonesia agar segera memprioritaskan 3 (tiga) pilar yaitu Indonesia Sehat, Indonesia Bekerja, dan Indonesia Tumbuh, dengan melibatkan peran dari multisector.

Berton Panjaitan, Kepala Pusdiklat BNPB memandang Pemerintah Provinsi Maluku dapat menjadi rujukan dan contoh bagi provinsi lain di Indonesia dalam penanganan COVID-19. BNPB melalui Program Desa Tangguh Bencana telah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu, namun berkaitan dengan COVID-19 agar dapat lebih disosialisasikan lagi.

Ketua Pusat Kajian Kebencanaan Universitas Indonesia Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D. menghargai kerjasama dari Pemerintah Provinsi Maluku dengan berbagai keberagaman suku, agama dan ratusan raja dengan kearifan lokal masyarakat Maluku, kekayaan budaya gotong-royong dengan pendekatan pentahelix.

Sementara itu Rektor Universitas Pattimura Ambon Prof. Dr. Marthinus J. Saptenno, S.H., M.Hum. melihat pendekatan komunitas yang telah digagas civitas akademika Universitas Pattimura dan tokoh dan pimpinan organisasi agama yang menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi COVID-19. Merekomendasikan agar ke-2 buku ini segera disosialisasikan ke seluruh masyarakat, dengan pendekatan secara holistic

Bedah buku ini membahas sejumlah paparan dari berbagai nara sumber:

Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si (Han) Dosen FIA UI Perwakilan Penulis Buku Desa Tangguh Bencana memandang Desa adalah pertahanan terdepan dalam Negeri Maluku Tangguh Bencana lawan COVID-19. Fitriati merekomendasikan berkebijakan “1 Negeri (Desa) 1 Tenaga Kesehatan Masyarakat” untuk memperkuat Pentahelix dalam Penanganan COVID-19 di Bumi Raja-Raja.

Loading...

Frans Pati Herin Perwakilan Penulis Buku Pembelajaran COVID-19 di Indonesia seri Maluku’ wartawan Harian Kompas desk Maluku menggambarkan belum ada pola penanganan yang baku. Dengan kepemimpinan yang kuat dari akar rumput dan kearifan lokal masyarakat Maluku, dan kedua, peran institusi keagamaan saling bekerja sama, sebagai kunci dalam menghadapi wabah COVID-19 di Provinsi Maluku.

Widya Pratiwi Murad Ismail, Ketua TP-PKK Maluku memaparkan program “Jumat Berbagi Masker” sejak Maret 2020, baik secara langsung maupun disalurkan kepada representasi masyarakat melalui organisasi pemuda, LSM, organisasi perempuan di Maluku, sejalan dengan Program “Gebrak Masker” yang dicanangkan secara nasional oleh TP-PKK, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-75, 17 Agustus 2020.

Sementara itu, Kasrul Selang, Sekda Maluku yang juga Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Maluku menjelaskan, berbagai strategi untuk penanganan covid-19.

Yakni, pertama mengobati yang sakit, kedua, memperketat pintu masuk, ketiga melindungi yang sehat melalui kampung masker, realokasi dan refocusing; dan Jaring Pengaman Sosial.  “Dan seluruhnya dilakukan melalui berbagai pendekatan kearifan lokal dan keterlibatan seleruh pemangku kepentingan atau Baku Keku toma lawan COVID-19, mulai dari Forkompinda, TP-PKK, Pemuda, Perempuan, NGO sampai pada Raja Negeri,” kata Kasrul.

Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.DM. Ketum IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) menekankan pentingnya Pemerintah Daerah melakukan penguatan ke bawah. Mulai dari individu dan keluarga dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai bagian dari pentahelix, sebagai suatu keharusan yang harus dilaksanakan baik di Propinsi, Kabupaten/Kota bahkan sampai Negeri Raja, sesuai pesan Presiden Jokowi, sekarang waktunya Komunikasi, Kooperasi dan Kolaborasi.

Dr. Robiana Modjo, S.K.M., M.Kes. Ketum PAKKI (Perhimpunan Ahli Kesehatan Kerja Indonesia), mengingatkan Bapak Raja atau Kepala Desa untuk dapat menjadikan Buku Desa Tangguh Bencana sebagai, pedoman-senjata dalam melawan COVID-19, dengan mengedepankan kearifan lokal. Raja/Kepala Desa dapat menggerakkan warganya untuk bersama-sama memutus penularan Covid-19 di desa.

“Terutama sejak PSBB dilonggarkan, tempat kerja dan tempat-tempat umum menjadi potensi cluster utama untuk penyebaran COVID-19, untuk itu penegakkan protokol kesehatan 3 M (memakai masker, menjaga jarak & mencuci tangan dengan sabun+air mengalir) harus terus disosialisasi ke masyarakat,” ungkapnya.

Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury, menjelaskan dukungan legislatif dalam penanganan COVID-19, menekankan pentingnya kuatan sosial dalah tokoh agama, tokoh adat, organisasi masyarakat, pemuda, dan perempuan serta harus menjadi kekuatan utama dalam mengatasi penyebaran COVID-19.

Sementara Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, menjelaskan bagaimana pendekatan pentahelix di Kota Ambon dengan masyarakat sebagai episentrium yang dilakukan secara sinerjik dan simultan bergerak secara bersama, dalam menghalau COVID-19 di Kota Ambon Maluku. “Pola utama dengan memperkuat Negeri atau Desa sebagai masyarakat yang sangat homogen dengan pendekatan kultural,” jelas Walikota.

Noviarsano Manullang, Kepala Bank lndonesia Provinsi Maluku, melihat perubahan paradigma pendekatan CSR semua sektor bersatu padu dengan Pemerintah bergerak ke arah kegiatan produktif, bukan pemberian bantuan yang habis pakai. “Yang menarik kegiatan CSR tidak mengambil produk dari luar, namun mengambil dari produk lokal menarik; serta menggerakaan masyarakat bawah,” kata Manullang.

Raja Negeri Hitu Lama Salhana Pelu memandang bencana COVID-19 ini, semakin mengeratkan rasa persaudaraan masyarakat dan pemerintah sebagai tanggung jawab bersama. Dana desa kata Salhana, seluruhnya dialokasikan untuk kebutuhan di lokasi karantina. Bahkan, warga sukarela menyumbangkan makanan bagi mereka yang dikarantina. Ada yang mengantar sendiri ke lokasi dan ada pula yang dititipkan kepada para sukarelawan.

“Warga sesekali datang menyapa mereka untuk memberi semangat. Kala itu, di beberapa tempat di Maluku, muncul gerakan penolakan pelaku perjalanan. Pelaku perjalanan dicurigai membawa virus. Virus dianggap seperti aib. Di Hitu Lama dan Hitu Messing, stigma itu dilawan,” ungkapnya.

Jefrey Slamta, Kelompok Budi Daya Botol Bekas, Kodam XVI/Pattimura menyampaikan kontribusi ikan segar dari Keramba Program Emas Biru bagi pasien COVID-19 baik di Wisma Atlet maupun prajurit Secapa AD dengan mendapat dukungan dari Kodam XVI/Pattimura dan Garuda untuk proses cargo

Pastor Inno mewakili Petrus Canisius Mandagi, Tokoh Agama Katolik merekomendasikan agar buku ini dapat menjadi salah satu rujukan dalam memahami bagaimana Maluku Lawan COVID-19 dengan melakuka kolaborasi dengan berbagai tokoh agama. Pdt. Prs. A.J.S. Werinussa, M.Si. Tokoh Agama Kristen melihat Bumi Raja-raja adalah Mekanisme Kepemimpinan dengan kearifan lokal yang dimiliki Maluku

Dengan memahami posisi kita  sudah berada di tahapan mana dalam upaya penekanan kurva penyebaran COVID-19 ini, maka diharapakan kata “kerjasama” dalam PENTAHELIX, dapat benar-benar kita lakukan (tidak hanya menjadi jargon semata untuk dapat memobilisasi sumber daya) untuk ibu pertiwi. (ADI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *