Program Alumni Grant Scheme Berdayakan Perempuan Melalui Budidaya Sayuran Hidroponik

by
Audrey Leatemia, ketua kolompok penerima hibah program AGS saat membuka kegiatan di Balai Saniri Negeri Soya (6/10). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Dua dasa wisma Negeri Soya, Ambon dipilih sebagai kelompok yang bakal menerapkan pola bertanam hidroponik. Dasa wisma Namu-namu dan Gujawas terpilih sebagai bagian untuk menjalankan program pemberdayaan ekonomi kelompok perempuan yang didukung pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (AGS).

Audrey Leatemia, ketua kolompok penerima hibah program AGS mengatakan program ini berlangsung pada September 2020 hingga Februari 2021. Para ibu perwakilan dari dua kelompok itu bakal mendapat pelatihan dan pendampingan hingga hasil tanam mereka dipasarkan sebagai sebuah proses yang berkesinambungan.

“Katong akan bantu mulai dari proses tanam pemeliharaan sampai pengemasan dan pasarkan semua. Sekarang instalasinya sementara dibuat,” terang Audrey saat membuka pertemuan pertama bersama dua dasa wisma di Balai Saniri Negeri Soya pagi tadi, (6/10/2020).

Audrey bersama empat rekannya, Herman Rehatta, A. Walsen, Johana Taribuka dan Weldemina Parera bersama-sama menjalankan program ini. Mereka merupakan dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon dan melihat ada potensi keberlanjutan dari kegiatan bertanam hidroponik untuk kaum perempuan di Soya. Salah satu dari anggota tim penerima grant AGS, Herman Rehatta, merupakan warga negeri Soya yang lebih dulu bertanam hidroponik.

Loading...

Hasilnya telah dijual luas di Kota Ambon. Mereka yang akan turun langsung mendampingi dan mengajari warga untuk tetap produkif bertanam hidoponik. “Harapannya ini berkelanjutan. Katong lihat bahwa kebutuhan saat ini untuk konsumsi makanan sehat dari waktu ke waktu terus meningkat. Juga bisa berguna untuk ekonomi warga jika konsisten,” terang Audrey saat diwawancarai usai kegiatan di Rumah Raja Negeri Soya.

Konsep bertanam ini memumngkinkan petani tidak menggunakan pestisida kimia dan memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai pestisida organik. Proses tanam pun tidak membutuhkan lahan atau media tanah yang luas. Selama ada asupan sinar matahari, nutrisi dan pengawasan air, tanaman tumbuh subur.

Sementara itu Raja Negeri Soya, Jhon Lodwyk Rehatta menyatakan dukungan besarnya selaku pemerintah negeri atas program ini. apalagi dia melihat warganya sudah ada yang punya tanaman hidroponik meski untuk konsumsi sendiri dan dalam skala kecil.

“Beta harap ini sebagai contoh buat masyarakat lain. Kalau dua kelompok ini bisa dan berhasil yang lain juga akan tiru. Orang ambon kan rata-rata musti lihat dulu,” kata Raja Negeri Soya, Jhon.

Dalam wawancara di rumah raja usai kegiatan dia menyatakan akan menyerukan ke warga gerakan kembali bertanam. Masyarakat akan mandiri pangan dan ekonominya lewat bertanam. Dulu, warganya mayoritas ke hutan untuk bertanam. Lain hal saat ini, kondisi lahan yang sempit serta perubahan kondisi dan kemajuan teknologi membikin warga meninggalkan kebiasaan itu.

Namun dengan program ini, dia berharap dapat membuka peluang usaha baru bagi warga negeri. “Seperti tahun 2017 pemerintah negeri Soya beri bantuan serupa berupa media tanah di ember, 6.000 ember beta bagi ke warga. Beta yakin yang ini pun warga bisa,” jelasnya optimistis. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *