PT. Nusa Ina Dilaporkan ke Polda Maluku

by
Ketua Lembaga Kalesang Lingkungan Hidup Maluku, Collin Leppuy menunjukkan bukti pelaporan dugaan pencemaran lingkungan oleh PT. Nusa Ina ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku (8/3). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Perusahaan kelapa sawit PT. Nusa Ina resmi dilaporkan ke kepolisian oleh Lembaga Kalesang Lingkungan Hidup Maluku Senin, (8/3/2021).

Tindakan yang diambil itu sebagai dampak dari pencemaran lingkungan yang dialami warga Dusun Siliha, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Maluku Tengah akibat dugaan buangan limbah perusahaan .

Ketua Lembaga Kalesang Lingkungan Hidup Maluku, Collin Leppuy mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku dengan membawa laporan serta surat kuasa dari masyarakat setempat.

Dalam aduan tersebut mereka meminta agar ada tindakan hukum tegas atas rangkaian kegiatan dan kerusakan lingkungan di Dusun Siliha.

“Setelah kami lihat ada kasus dugaan pencemaran lingkungan, kami diberi aduan oleh masyarakat yang jadi korban aktivitas pembuangan limbah. Pada 25 Februari kami diberi kuasa oleh warga untuk advokasi dan pengaduan berupa pelaporan,” jelas Collin kepada sejumlah awak media usia memasukan laporan ke Reskrimsus Polda Maluku, Mangga Dua, Ambon.

Dia menjelaskan aduan masyarakat itu didasari atas adanya pencemaran air laut di Dusun Siliha. Beberapa warga juga sampai sakit perut dan gatal-gatal usai mandi dan memakan ikan hasil tangkapan dari laut di depan dusun.

Sayangnya hingga kini belum ada pertemuan atau upaya perusahaan terhadap dugaan buang limbah dari perusahaan. Warga melalui ketua pemuda dusun, Julet Itihuny lantas melaporkan kejadian tersebut untuk mendapat perlindungan dan pertanggungjawaban.

Collin mengatakan ada dua permintaan warga yang menjadi poin penting pelaporan. “Warga meminta agar pihak kepolisian segera memproses direktur PT. Nusa Ina dan mencabut izin perusahaan,” jelasnya.

Untuk saat ini, kata Collin saluran buangan dari perusahaan telah ditutup. Warna air pun berubah. Hanya saja dampak pencemaran masih terasa. Warga khawatir sewaktu-waktu aktivitas serupa terjadi lagi.

Selama ini warga hanya bisa resah dan diam. Mereka tidak paham mengenai limbah serta kesulitan dalam melapor kondisi lingkungan yang janggal.

Pihaknya juga telah siap dengan sejumlah bukti jika diminta kepolisian. “Katong sementara memasukan sampel air ke laboratorium yang tersertifikasi. Ini untuk lihat uji air apa ada limbah B3. Kami sudah siap,” tegasnya. (PRISKA BIRAHY)