Puasa Dan Pilakada Sejuk Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Rudy Rahabeat

BUKAN kebetulan jika Pilkada serentak se-Indonesia akan berlangsung setelah ibadah Puasa selesai. Sebuah awalan yang manis untuk Pilkada yang damai dan sejuk. Jauh dari caci maki dan saling melukai. Ini sebuah harapan dan doa. Jika kita mengikuti lalu lintas informasi dan gambar serta video di media sosial hari-hari ini maka relatif lebih cool dan adem.

Walau bukan berarti tidak ada riak sama sekali, namun masing-masing orang berusaha menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata yang menciderai orang lain termasuk tayangan gambar dan video. Apakah ini berkorelasi dengan  ibadah Puasa yang sedang dilaksanakan sepanjang sebulan ini? Harapannya demikian.

Pilkada semestinya menjadi sebuah perayaan kegembiraan, pesta demokrasi. Sebab melalui mekanisme pemilihan langsung ini setiap warga negara mengikhlaskan suaranya untuk menentukan siapa yang kelak menjadi pemimpin, entah Gubernur, Walikota dan Bupati. Rakyat memiliki otoritas tertinggi dan olehnya mereka tidak boleh ditekan dan diintimidasi. Bagaimana mau jadi pemimpin yang baik, jika di awal proses keterpilihan sudah menggunakan cara-cara yang tidak baik?

Pilkada juga mesti menjadi momentum pencerdasan rakyat. Rakyat tidak diajak memilih kucing dalam karung. Rakyat diyakinkan tentang kualitas dan kapasitas calon serta rekam jejak yang dimiliki selama ini. Dengan begitu, tercipta pemilih yang rasional. Pemilih yang dewasa dan tidak sekedar ikut massa. Tentu saja, ini hal yang ideal.

Sebab masih ada juga pemilih yang emosional dan mudah terbuai dengan janji-janji semu. Terhadap yang demikian, pendidikan politik menjadi urgen dan penting. Kenapa? Sebab figur yang terpilih akan membawa masyarakat pada tujuan-tujuan yang mulia. Ia harus menjadi pemimpin yang berpihak kepada rakyat yang memilihnya, bukan kepada elite atau pengusaha, misalnya.

PILKADA SEJUK

Ada beberapa daerah yang diidentifikasi sebagai “daerah rentan”. Maksudnya, berdasarkan kalkulasi beberapa variabel, rentan terhadap konflik. Sebagai sebuah analisa dan proyeksi, hal ini wajar-wajar saja. Menjadi tidak wajar dan tidak benar jika hal itu lalu menjadi alibi untuk mendramatisir situasi hingga terwujud apa yang dikuatirkan (self-fulfilling prophecy). Mestinya yang dibingkai adalah hal-hal positif dan energi kreatif, sehingga rakyat merasa tenang dan senang mengikuti pesta demokrasi ini.

Ibarat perjalanan di tanah yang gersang dan tandus, selalu saja kerinduan bahwa ada oase, mata air kecil yang menyejukan dahaga. Pilkada sejuk adalah sebuah harapan untuk menjauh dari bayang-bayang Pilkada yang berpotensi konflik. Untuk maksud ini, maka semua pihak diharapkan lebih mampu menahan diri dan bertindak dewasa. Calon, tim sukses, penyelenggara pilkada di tiap level, masyarakat, aktivis, cendekiawan, Polisi-TNI, pemuda dan berbagai elemen masyarakat diharapkan tidak terjebak dalam konflik kepentingan yang mengeras menjadi konflik terbuka.

Semoga melalui momentum Puasa saat ini kita semua memiliki energi kreatif dan terus bersinergi untuk mewujudkan Pilkada sejuk, jauh dari hal-hal yang melukai diri sendiri juga masyarakat banyak. Buah dari puasa adalah pengendalian diri, serta tekad untuk berbuat kebaikan bagi kemaslahatan bersama. Selamat meneruskan Ibadah Puasa bagi saudara dan sahabatku, selamat menyambut Pilkada sejuk dengan gembira. Insya Allah ! Salam sejuk ! (RR)