Punya Riwayat Hipertensi, Almarhum Danki Brimob Tetap Divaksin, Ini Penjelasan Polda Maluku

by
Jenazah Danki Brimob Polda Maluku IPTU LT dimakamkan di TPU Hunuth Kota Ambon, Minggu (4/4/2021). FOTO : RELAWAN SATGAS COVID 19 MALUKU

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kabid Humas Polda Maluku Komisaris Besar Polisi, M. Rum Ohoirat, mengaku almarhum Iptu Lourens Tenini, Danki 4 Yon A Pelopor, Satuan Brimob Polda Maluku, memiliki riwayat penyakit hipertensi.

Almarhum meninggal dunia karena terkonfirmasi positif Covid-19 dan komorbid atau penyakit bawaan. Ia meninggal setibanya di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Maluku, Tantui Kota Ambon, Minggu (4/4/2021) pagi.

Sebelum meninggal dunia, lelaki 45 tahun itu sudah menjalani vaksinasi dosis pertama. Ia bersama 1.500 orang personil Polda Maluku disuntik menggunakan vaksin Astrazeneca selama tiga hari sejak Selasa (30/3/2021) lalu.

Meski memiliki riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi, Iptu Lourens dinyatakan memenuhi syarat untuk divaksin.

“Vaksin itu kan harus ada beberapa syarat, salah satu syaratnya itu tensi harus di bawah 180. Dan pada saat beliau sebelum divaksin itu tensinya normal,” tandasnya.

Usai divaksin, Iptu Lourens lolos meja observasi. Namun saat malam hari, tubuhnya merasa meriang. Ia kemudian dibawa ke UGD Rumah Sakit Bhayangkara.

Rasa meriang yang dialami almarhum ternyata dirasakan juga oleh lebih dari 20 orang personil Polda Maluku. Hal itu merupakan efek samping obat atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

“Setelah vaksin almarhum belum ada gejala. Nanti malamnya baru beliau merasa meriang. Ada beberapa orang sekitar 20 lebih mengalami gejala KIPI seperti meriang-meriang,” ungkap Rum, di ruang kerjanya, Senin (5/4/2021).

Setelah diberikan obat, puluhan personil termasuk almarhum dinyatakan sembuh dan kembali ke rumah masing-masing.

“Dan memang itu adalah efek dari pada vaksin. Karena sebelumnya sudah dijelaskan bahwa setelah divaksin efek sampingnya ada yang meriang, ada yang panas, nah mereka ini,” terangnya.

Sembuh dari meriang, pada Sabtu malam (3/4/2021), almarhum kembali merasakan sesak nafas, dan lemas. Ia dibawa kembali ke Rumah Sakit Bhayangkara.

“Saat di rumah sakit kemudian diperiksa ternyata yang bersangkutan sudah meninggal. Tapi dari gejala-gejala yang disampaikan istrinya bahwa sebelumnya ada sesak nafas, kemudian timbul kecurigaan dari dokter,” terangnya.

Merasa curiga almarhum tertular Covid-19, jenazahnya kemudian dibawa ke RSUD dr. Haulussy Ambom untuk dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM).

“Dari hasil itu ternyata yang bersangkutan positif Covid. Sehingga awalnya mau dibawa ke Piru untuk dilakukan pemakaman secara kedinasan, tapi setelah hasilnya positif akhirnya tidak jadi, dan langsung dilakukan pemulasaran di RSUD sesuai standar protokol kesehatan, lalu dimakamkan di sini (TPU Hunut),” jelasnya.

Menyoal terkait dengan kemungkinan saat dilakukan vaksin almarhum sudah terkonfirmasi Covid, Rum tidak mengetahuinya. Sebab, saat penyuntikan vaksin, tahapan pemeriksaan tersebut tidak dilakukan.

“Kan tidak ada prosedur pemeriksaan rapid sebelum dilakukan vaksin. Jadi kita tidak tahu kalau kita ini sudah positif. Kita kan tidak tahu sekian banyak orang yang divaksin ini siapa yang terpapar,” tandasnya.

Peliput : HUS

Editor : HAMDI