Quo Vadis Kebudayaan Maluku, Catatan Awal Tahun 2019  Oleh : Rudy Rahabeat

by
Rudy Rahabeat

Mau dibawa kemana kebudayaan Maluku yang multiwajah ini? Apakah dibiarkan tumbuh alami atau perlu rekayasa? Siapa saja yang mau ambil peran dan ke arah mana jalan yang harus ditempuh? Kebudayaan suatu masyarakat tidaklah statis melainkan dinamis. Dengan mengatakan begitu bukan berarti memutuskan hubungan dengan masa lalu. Sebab kebudayaan sebagaimana sejarah mempunyai unsur perubahan dan keberlanjutan. Olehnya mesti dialektis dan dialogis.

Tantangan serius bagi kebudayaan Maluku hari ini adalah tuna budaya. Orang tidak terlalu ambil peduli dengan budaya termasuk kearifan lokal. Orang berlomba mengakomulasi modal dan materi. Lalu mengabaikan kebudayaan sebagai totalitas kehidupan. Jika diacuhkan itupun sekedar romantisme alih alih kapitalisasi budaya untuk tujuan pariwisata dan lagi-lagi akumulasi keuntungan ekonomi. Padahal kebudayaan tak bisa direduksi menjadi ekonomi. Sebab ekonomi hanya salah satu unsur kebudayaan bukan satu-satunya.

STRATEGI ALIAS SIASAT KEBUDAYAAN

Secara nasional sudah ada dokumen strategi kebudayaan yang dihasilkan pada forum Kongres Kebudayaan Nasional 2018 di Jakarta. Aksentuasinya pada tata kelola dan kebijakan negara dalam memajukan kebudayaan. Tentu saja pemerintah daerah memiliki panggilan dan tanggungjawab untuk menindaklanjuti dokumen strategi kebudayaan nasional menjadi strategi kebudayaan daerah. Dengan begitu semuanya tidak berhenti di pusat.

Pada sisi lain masyarakat dan aktor civil society terpanggil untuk ambil peran pro aktif. Para akademisi, budayawan, kritikus budaya, media massa, lembaga keagamaan, lembaga budaya, asosiasi masyarakat adat, organisasi pemuda dan mahasiswa, asosiasi pekerja seni, dsb mesti bertindak sinergis agar terjadi transformasi yang signifikan.

Khusus untuk konteks Maluku momentum peralihan kepemimpinan Gubernur, anggota legislatif yang baru dan senator yang baru kiranya membawa angin segar bagi pemajuan kebudayaan di tanah Maluku yang multikultural ini. Nun jauh di sana di dusun-dusun dan kampung-kampung, di pulau-pulau, pesisir dan pegunungan geliat kebudayaan setempat sedang bergulat dengan penetrasi kapitalisme dan digitalisasi kehidupan yang memecah kebisuan budaya yang tertanam ribuan tahun silam.

Salam kebangkitan kebudayaan ! (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *