Rasilu Pebecak Yang Divonis 1,6 Tahun Kerap Ditanya Kapan Pulang Oleh Anak-Istri

by
Rasilu, tak kuasa menahan pilu terpisah dari anak istri dan harus menjalani masa tahanan hingga tuntas selama 1,6 tahun. FOTO: Alfian Sanusi

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Rasilu, (38) penarik becak yang divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon 1,6 tahun karena menyebabkan penumpangnya meninggal dunia, harus tetap bersabar menjalani masa tahanannya di Rutan Kelas II Ambon sampai dirinya dibebaskan.

Untuk menemui Rasila di Rutan Kelas II Ambon butuh waktu lama, karena harus melakukan berbagai negosiasi dengan pihak Rutan. Kurang lebih sekitar 1 jam Jurnalis Terasmaluku.com, Alfian Sanusi berhasil berbincang dengan  Rasilu dalam bilik rutan berukuran 4×6 pada Kamis (28/2/2019) .

Saat tiba di ruangan itu, bapak lima anak itu sedang duduk di kursi dengan wajah yang lesu seperti sedang merenungi nasib dirinya. Dia tak pernah menyangka jika hal itu bisa terjadi padanya. Padahal kedatangannya dari kampung di Buton, Sulawesi Tenggara untuk mengadu nasib di Kota Ambon agar bisa membiayai kelima anaknya untuk  sekolah.

Namun nasib berkata lain. Baru dua bulan di Kota Ambon, ia  sudah tertimpa musibah yang membuatnya mendekam di Rutan Kelas II Ambon. Saat kejadian, Rasilu sedang memuat penumpang dengan becaknya. Nahas, si penumpang terjatuh dan meninggal akibat becak yang dia tumpangi ditabrak mobil yang kemudian kabur. Rasilulah yang harus menjalani hukuman 1,6 tahun yang diputuskan di Pengadilan Negeri Ambon.

“Saya tidak pernah menyangka kejadian ini bisa menimpa saya, padahal pihak keluarga korban sudah memaafkan,” kata Rasilu yang ditemui di Rutan Kelas II Ambon. Saat ini kelima anaknya terancam putus sekolah. Nur Aisyah (13) SMP Kelas 3, Anggun (10) tahun SMP kelas 1, Halija (8) SD kelas 3, La Alif (5), dan Ahmad (1) kelima anak yang bisa jadi tak bisa meneruskan sekolah karena keterbatasan biaya.

Saat ini bapak lima anak itu tak tahu harus menghidupkannya dan menyekolahkan anaknya bagaimana. Sedangkan istrinya, Wa Oni (35) yang saat ini ada di kampung hanya bekerja membelah jambu monyet dengan upah Rp 1.000 perjambu. Belum lagi hutang yang dia pinjam untuk biayanya datang di Kota Ambon belum lunas dibayar.

“Saya berharap agar cepat bisa keluar supaya bisa bantu biaya anak sekolah dan mereka bisa mengangkat derajat orang tua yang tidak pernah sekolah,” kata Rasilu sambil mengusap air mata. Rasilu selalu diingatkan oleh istrinya maupun ibunya yang sakit-sakitan agar tetap sabar dan selalu berdoa semoga cobaan yang dialami cepat selesai.

“Prinsip hidup saya itu harus tetap sabar jalani semuanya. Istri saya juga selalu kasih ingat untuk berdoa kepada Tuhan, karena ini hanya cobaan,” ungkapnya. Bukan hanya istri dan ibunya yang selalu bertanya kepada Rasilu kapan keluar dari tempat tahan itu, anak-anaknya pun kerap bertanya jika dihubungi. Apalagi anak keempatnya selalu bertanya karena rindu, kapan dia bisa dibebaskan dan pulang membawa beberapa hadiah yang diminta.

“Anak ke empat terus tanya kapan pulang karena rindu, terus dibelikan hadiah baju Batman dan mobil-mobilan, saya iyakan saja agar dia tidak sedih,” kata Rasilu. Belum cukup untuk bertanya lebih dalam tentang Rasilu. Petugas pun datang membatasi waktu kunjungan, dia lalu dibawa balik ke ruang tahanan. Saat ini Rasilu sudah menjalani 6 bulan berada di Rutan Kelas II Ambon.(ALFIAN SANUSI)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *