Bacaleg Bikin Ricuh di Rumah Sakit Jiwa Ambon, Ternyata Banyak Nyontek Jawaban

Bacaleg Bikin Ricuh di Rumah Sakit Jiwa Ambon, Ternyata Banyak Nyontek Jawaban

SHARE
Sejumlah Bacaleg terlibat perang mulut dengan dokter Adelin di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Pemprov Maluku kawasan Nania Kota Ambon, Sabtu (7/7/2018). FOTO : IST.

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Keributan terjadi di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku di Kawasan Nania Kota Ambon, Sabtu (7/7/2018) sore. Sejumlah bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) yang akan bertarung di Pemilu 2019 mengamuk di rumah sakit yang khusus menangani penderita gangguan jiwa itu. Bacaleg dari berbagai daerah di Maluku ini marah karena hasil tes kejiwaan mereka belum juga disampaikan pihak rumah sakit.

Para Bacaleg ini memprotes kinerja pihak rumah sakit yang menurut mereka sangat lambat sehingga hasil tes tak kunjung keluar. Mereka mengatakan, sistem pelayanan yang diterapkan pihak rumah sakit berbelit-belit. Tidak ada kepastian yang diterima Bacaleg atas tes kejiwaan di rumah sakit tersebut.

Perang mulut Bacaleg dengan dokter Adelin

“Seharusnya rumah sakit membuat tim khusus untuk melayani kami, para Bacaleg yang menjalani tes psikometri. Yang datang banyak sekali, sementara tim medis terbatas. Olehnya, pihak rumah sakit harus memikirkan alternatif pelayanan,” kata Pattiiha Syaiful seorang Bacaleg. Para Bacaleg mengakui sudah berhari-hari menunggu hasil tes tapi belum juga keluar. Apalagi mereka yang berasal dari daerah-daerah di Maluku.

Sejumlah Bacaleg teriak-teriak di rumah sakit jiwa itu sehingga membuat tim dokter dan tim medis lainnya keluar dari ruangan kerja mereka. Ada Bacaleg bahkan merokok di rumah sakit saat protes berlangsung, padahal dilarang merokok di kawasan rumah sakit. Tim dokter yang sedang memeriksa hasil tes langsung keluar ruangan. Ketua Komite Medik RSKD Maluku dr. Adelin tidak terima tindakan para Bacaleg itu.

Menurut Adelin, tidakan para bakal calon wakil rakyat tersebut dapat mengganggu pihak rumah sakit yang menangani tes kejiwaan para Bacaleg serta pelayanan di rumah itu. Adelin terlibat perang mulut dengan sejumlah Bacaleg sehingga suasana makin menjadi ricuh. “Kalian adalah calon wakil rakyat, mestinya menunjukan etitut yang baik kepada masyarakat. Bukan hanya kalian yang cape, kami juga cape. Tolong hargai kami yang sedang bertugas dan memeriksa hasil kerja kalian,” kata Adelin saat perang mulut dengan para Bacaleg.

Dia mengatakan, RSKD Maluku hanya memiliki satu tenaga medis di bidang psikologi, dua orang di psikiater dan tiga orang lainnya bertugas melayani. Sementara Bacaleg yang hingga ribuan orang dari seluruh Maluku baik untuk Bacaleg DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Maluku, DPR RI dan DPD RI.

“Banyak yang datang sementara tenaga kami terbatas. Olehnya, kami berharap para bacaleg bisa bersabar dan memahami kondisi kami,” kata Adelin. Apalagi menurut Adelin para Bacaleg lambat mengerjakan soal tes yang diberikan. “Kalian (Bacaleg) minta kita cepat, sementara kalian kerja soal tes saja lambat, seperti anak SD yang kerjakan soal tes. Kita awasi kalian seperti anak SD, bagaimana mau cepat,” kata Adelin.

Selain itu menurutnya, jawaban yang diberikan setiap Bacaleg juga ada sama karena saling menyontek. “Saya mau kasitau ya kalian (Bacaleg) mau jadi pimpinan masyarakat kerja (jawab soal) saja menyontek,” kata Adelin. “Jangan bias,silahkan tunjukan,” jawab seorang Bacaleg. “Mari saya tunjukan, berapa ratus nomor ko antara satu orang kerjanya (jawabannya) bisa sama,” kata Adelin. Namun saat diajak melihat hasil tes oleh dokter Adelin, Bacaleg tersebut langsung meninggalkan Adelin. Berbagai kondisi itu menurut Adelin menyebabkan pelayanan kepada Bacaleg berjalan lamban.

Hasil tes kejiwaan dari RSKD merupakan syarat yang harus dipenuhi setiap Bacaleg untuk mendaftar di KPU untuk mengikuti Pemilu 2019. RSKD yang khusus menangani pasien gangguan jiwa ini adalah satu-satu rumah sakit di Maluku yang memenuhi syarat sesuai peraturan KPU untuk pemeriksaan kesehatan rohani,kejiwaan Bacaleg. Dalam tes itu setiap Bacaleg harus menjawab 500 lebih pertanyaan yang diajukan pihak RSKD. (ADI)