Rawan Gempa Dan Tsunami, BMKG Tambah 14 Peralatan Diseminasi di Maluku

by
WRS NewGen. FOTO : BMKG

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Wilayah Maluku merupakan bagian dari jalur aktif gempa bumi. Kondisi fisiografi wilayah Maluku sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ketiga lempeng tektonik tersebut bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, menjadikan wilayah Maluku sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia bahkan di dunia

Wilayah Maluku memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, Maluku memiliki 2 sumber gempa subduksi laut banda bagian utara dan laut banda bagian selatan. Selain itu wilayah Maluku juga memiliki tidak kurang dari 30 segmentasi sesar aktif dari total 295 segmentasi sesar aktif yang telah terpetakan. Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

Kepala Stasiun Geofisika Ambon Sunardi mengungkapkan hal ini di Ambon, Selasa (16/6/2020). Sunardi mengatakan hasil monitoring BMKG Stasiun Geofisika Ambon menunjukkan selama periode 2011-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 1000 hingga 1500 kali dan gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 60 kali.

“Tidak kurang dari 40 kali kejadian tsunami pernah terjadi di Maluku, salah satunya tsunami dahsyat pada tahun 1674 di Ambon yang mengakibatkan lebih 2000 korban jiwa,” kata Sunardi dalam siaran pers yang diterima Terasmaluku.com.

Terkait kondisi wilayah Maluku yang rawan gempa dan tsunami ini, menurut Sunardi, BMKG memiliki tugas dan kewajiban dalam menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang tertuang dalam UU No. 31 Tahun 2009, dan Perpres No. 93 Tahun 2019.  “Sebagai salah satu implementasi dari tugas dan kewajiban tersebut di atas maka BMKG melaksanakan kegiatan pemasangan alat penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami yaitu Warning Receiver System (WRS) di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia termasuk Maluku,” ungkap Sunardi.

Loading...

Menurut Sunardi, sejak Tahun 2008 BMKG sudah memasang sebanyak 275 peralatan WRS termasuk 13 di Wilayah Maluku. Namun demikian, mengingat peralatan WRS masih sangat dibutuhkan oleh Pemerintah daerah dan kantor Lembaga/Kementerian terkait, maka pada tahun 2020 ini, BMKG memasang WRS generasi terbaru di 315 lokasi termasuk 14 lokasi di Maluku. Yakni di Ambon 3 unit, Kepulauan Tanimbar 3 unit, Buru, Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru masing-masing 1 unit .

“WRS generasi terbaru yang tentu saja menggunakan teknologi terbaru ini memiliki nama baru yaitu “WRS NewGen” yang berbeda dengan WRS sebelumnya. WRS NewGen merupakan terobosan baru BMKG dalam penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami, karena alat ini akan memberikan informasi gempa secara lebih cepat karena bersifat real time,” jelas Sunardi.

Lokasi pemasangan WRS NewGen tahun 2020 ini mencakup Kantor Kementrian/Lembaga yang tersebut dalam Perpres No. 93 Tahun 2019 dan institusi yang terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami seperti Kantor Pemerintah Daerah (BPBD), Kantor Media Televisi/Radio, serta Institusi terkait yang memiliki kerjasama dengan BMKG terkait sharing data dan informasi.

Dengan terpasangnya WRS NewGen ini diharapkan dapat meningkatkan performa penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dari BMKG Pusat Jakarta ke kantor unit pelaksana teknis BMKG, Pemerintah Daerah, Lembaga/Kemeterian, Media, dan lembaga lain yang terkait penanganan bencana.

“Harapan kita dengan adanya percepatan penyebarluasan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami ini, maka akan dapat mempercepat respon dalam penanganan bencana, sehingga dapat memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana,” kata Sunardi. (ADI)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *