REFLEKSI 86 Tahun Gereja Protestan Maluku Oleh : Pendeta Rudy Rahabeat

by
Pendeta Rudy Rahabeat. FOTO : DOK. PRIBADI

Gereja Protestan Maluku (GPM) merupakan salah satu gereja terbesar, jika tidak hendak mengatakan satu-satunya gereja terbesar di kepulauan Maluku, Maluku dan Maluku Utara. Ada 34 Klasis dan 765 Jemaat, lebih dari seribu pendeta dan umatnya lebih dari lima ratus ribu jiwa. Tentu bukan soal besar dan banyaknya, tetapi kehadiran dan peran GPM di panggung sejarah lokal, nasional dan global, ibarat garam yang memberikan rasa bagi dunia dimana gereja ini ada. Olehnya pada momentum 86 tahun GPM, 6 September 2021, selaku warga GPM ada lima catatan reflektif yang dapat dibagikan, yakni:

Pertama, menjadi gereja yang berani dan kritis. Ketika tahun 1935, sepuluh tahun sebelum Indonesia merdeka, orang-orang Maluku yang beragama Kristen telah berani mengambil keputusan iman untuk lepas secara organisasi dari pemerintah Hindia Belanda saat itu. Ini merupakan sebuah tindakan nekat, ketika saat itu hampir semua skema pembiayaan pelayanan gereja dibiayai oleh negara Hindia Belanda. Demikian juga, ini merupakan suatu tindakan kritis orang-orang Maluku Kristen untuk tidak lagi menjadi orang “Kristen susu” melainkan orang “Kristen Sagu”.

Tidak bergantung kepada kekuasaan negara saat itu, tetapi berusaha mandiri dengan mengembangkan segenap potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki. Ini merupakan sebuah makna simbolik yang penting dibalik keputusan untuk berdiri sendiri sebagai gereja pribumi di Maluku. Dalam konteks kekinian, GPM tetap diharapkan terus menjadi gereja yang berani dan kritis untuk menyuarakan Khabar Baik, keadilan, kasih dan kebenaran. Gereja yang memihak kepada kehidupan dan terus merajut persaudaraan lintas agama, suku, ras, dan kelas sosial demi kemaslahatan bersama.

Kedua, menjadi gereja yang lentur. Suatu waktu, Yesus dipersoalkan oleh orang Yahudi ketika Ia menyuruh murid-muridNya mengangkat hewan yang jatuh di perigi pada hari Sabatt/Minggu. Menurut hukum Yahudi kala itu, tidak boleh bekerja di hari Sabath. Lalu Yesus bertanya “Apakah sabat untuk manusia atau manusia untuk Sabath?”. Akhir cerita, Yesus menawarkan hukum kasih, sebuah bentuk kelenturan di hadapan hukum Yahudi yang kaku dan mekanistik.

Kelenturan itu bukan berarti tidak punya prinsip diri, melainkan kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang membutuhkan penyesuain demi menyelamatkan kehidupan. Ibarat busur panah yang mesti lentur, agar bidikan ke sasaran dapat presisi. Jika kaku, maka bisa rapuh dan patah. Realitas tantangan yang dihadapi saat itu oleh gereja maupun agama-agama membutuhkan tanggapan kreatif dan inovatif agar kehadiran gereja tetap relevan, tanpa kehilangan identitasnya. Ketegangan antar krisis relevansi dan identitas itulah membutuhkan kelenturan atau keluwesan.

Ketiga, gereja bagi orang miskin. Di perayaan 86 tahun jelang 100 tahun (1 Abad) GPM keadaan di Maluku masih diperhadapkan dengan realitas kemiskinan yang menyayat hati. Terlepas dari perdebatan tentang defenisi kemiskinan di hamparan melimpahnya kekayaan alam Maluku, maka diperlukan suatu pemihakan kepada orang-orang miskin dan tersisih. Ini tentu bukan perkara mudah. Tapi sebagai kemunitas pengharapan, gereja tidak boleh menyerah dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama. Tentu penyebab kemiskinan bukan sekedar soal budaya malas dan kurangnya belarasa, tetapi ada persoalan-persoalan politik ekonomi dan problem structural dan relasi kuasa yang tidak setara. Termasuk dalam analisis ini adalah deteriminasi kaum oligarki, yakni segilitir orang yang menguasai kapital yang luas biasa.

Dalam kaitan ini, masalah kemiskinan tidak bisa disikapi secara sentimental, tetapi membutuhkan sebuah skema pemberdayaan ekonomi yang strategis serta advokasi kebijakan yang solid. Jika tidak demikian, kita akan terus menjadi tawanan kapitalisme global, dan jurang kaya-miskin tetap lebar. Tentu guna mengatasi kemiskinan multidimensi ini dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi multipihak, termasuk peran negara (pemerintah) yang perlu terus memihak orang miskin, serta seluruh komponen bangsa, termasuk agama-agama yang bersama-sama kompak berjuang mengatasi kemiskinan.

Keempat, gereja yang menyembuhkan dan memulihkan. Ketua Sinode GPM, Pdt Elifas Maspaitella menekankan pentingnya pola pelayanan pastoral. Salah satu fungsi pastoral adalah fungsi penyembuhan dan pemulihan. Salah satu konteks GPM dua tahun terakhir, seperti juga konteks global yakni pandemi covid 19 dengan berbagai dampaknya. Masalah kesehatan mental (mental health) seperti stress, depresi, halusinasi, maupun psiko-patalogi membutuhkan tanggapan yang serius dan terukur.

GPM telah sejak Maret 2020 memilih berpihak kepada kehidupan. Memedomani protokol kesehatan, menjadi pionir gerakan vaksinasi serta diakonia transformatif dalam rangka saling berbagi dan menolong baik internal gereja maupun lintas iman. Terlepas dari besaran capaian dan kendala yang dihadapi, tetapi pilihan sikap (positioning) GPM untuk menghadapi dan mengatasi pandemi covid dalam bingkai kasih dan pengharapan, perlu diapresiasi dan terus dirawat serta dikembangkan di era normal baru saat ini.

Kelima, gereja yang terus bertumbuh. Adanya jemaat-jemaat baru, pertambahan jumlah warga gereja, tingkat partisipasi warga GPM di ruang publik, kehadiran warga GPM di birokrasi, dunia pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pemihakan terhadap kelestarian lingkungan merupakan pertanda bahwa gereja sedang mengalami pertumbuhan. Di sini corak berpikir yang terbuka (open minded) tidak menutup diri dan tidak cepat merasa puas dan sempurna (fixed minded) telah menjadi jiwa GPM sebagaimana terbaca dalam motto GPM “Aku menanam, Apolos menyiram tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1 Korintus 3:6).

Dalam kaitan ini, perlu juga kesediaan untuk melakukan kritik diri untuk selanjutnya berbenah dan meningkatkan kualitas diri dan kinerja. Sudah kita mengoptimallkan talenta yang dianugerakan Tuhan bagi para pelayan maupun warga jemaat? Sejauhmana peran dan partisipasi bersama berdampak pada meluasnya pemerataan keadilan, berkurangnya disparitas (kesenjangan) sosial, serta lingkungan hidup yang makin lestari. Di atas segalanya iman dan pengharapan kepada Tuhan merupakan dasar yang kokoh yang perlu terus diperkuat dan dihidupikan dari musim ke musim. Selamat Hari Jadi Gereja Protestan Maluku ! (RR)