Rejeki Nomplok Dari Tangki Pertamina Wayame Bocor

by
Samudin memenuhi tong terakhir berisi penub minyak tanah di Sungai Taheng, Jembatan Wai Pintu Kota, Wayame, Rabu (15/8/2018). FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Ratusan orang berdatangan sesak sesakan di dalam sungai dangkal. Di bawah kolong Jembatana Wai Pintu Kota Desa Wayame Kota Ambon, nyaris tak terlihat permukaan sungai. Puluhan kepala, jerigen hingga tong memenuhi tepat di bagian bawah jembatan. Belum lagi di sepanjang sungai hingga ke laut, berderet warga yang tumpah ruah seperti berebut mendulang emas di sungai.

Bahkan arus lalu lintas di situ melembat lantaran warga datang silih berganti mengambil minyak tanah yang mengalir di sungai. Sejak Rabu (15/8/2018) sekitar pukul 11.00 WIT, air sungai jernih itu berubah warna mengkilat berbias warna serta beraroma tajam. “Ini minyak tumpah dari pertamina. Katong samua datang ambil. Kapan lai macam bagini,” ujar Norma warga Wailete Wayame yang sibuk merapikan jerigen untuk diisi minyak.

Loading…

Ibu rumah tangga itu tak sendiri, dia memboyong anak, ibu serta beberapa saudaranya ke sungai. Para warga itu menyaring satu demi satu gen minyak yang bercampur air. Kejadian langka itu tak mau dilewatkan begitu saja. Lebih dari delapan jerigen penuh berisi minyak didapat Norma. Belum lagi jerigen kosong yang baru datang.

Anaknya yang masih bersegaram sekolah pun tak mau kalah. Mereka amat menikmati berkah dadakan yang mengucur deras dari tangki minyak milik pertamina di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Wayame itu. Momen siang itu terasa hangat manakala melihat kekompakan keluarga di sungai.

Selain Norma ada pula Samudin, tetangga Norma yang tak mau kalah. Bukan lima atau sepuluh jerigen melainkan 4 buah tong plastik ukuran 200 liter serta puluhan jerigen dibawa dari rumahnya ke tepi Sungai Taheng, Wayame. Dia memang bukan penjual minyak tanah, namun peristiwa siang itu diyakini sebagai rejeki besar.
“Samua su pono. Kapan lai ada bagini ambe saja,” ungkapnya penuh antusias. Tiga tong penuh. Sedang satu lagi nyaris menyentuh bibir atas tong.

Insiden tumpahnya minyak yang memenuhi sungai hingga ke laut itu bak durian runtuh. Pasalnya minyak yang diyakini sebagai minyak tanah itu masih menjadi bahan bakar utama rumah tangga bagi warga di Ambon. Tak heran mereka begitu antusias dan gigih menimba berliter liter minyak dari sungai. Samudin mengaku kejadian ini merupakan yang kali pertama.

Dirinya bahkan mengharap hal tersebut bisa terulang. “Kalo bisa ada lai bagini supaya katong jang susah minyak lai,” katanya. Berliter liter minyak itu diangkut secara bergotong royong oleh warga. Untuk menghemat waktu pengambilan, sebagian warga melubangi bagian bawah jerigen untuk memisahkan air dan minyak.

Warga juga bergotong mengangkut minyak dari sungai ke tepi jalan mengingat jalan turunan yang licin. Rabu siang itu dipastikan semua wadah peralatan rumah tangga dijadikan tempat menampung minyak di sungai. Seorang ibu tak tanggung tanggung mewadahi minyak pada loyang cucian yang biasa dipakainya. Sedangkan di tepi jalan, sejumlah warga tampak sibuk menakar dan memisahkan kembali minyak sebelum di bawa pulang.

Ima seorang warga asal Negeri Batu Merah yang datang jauh jauh untuk menyicipi berkah siang di Wayame. Bersama anggota keluarganya mereka memindahkan puluhan jerigen berisi penuh minyak ke sebuah angkutan umum yang disewa. “Katong mau balik. Sewa oto buat angkut jerigen banyak,” celetuknya sambil menjinjing 10 liter minyak. Selain keluarga, Ima datang bersama tetangganya yang sudah berusi cukup lanjut. Mereka sama sama mencoba peruntungan dari musibah yang dialami pertamina itu.

Meski hasil yang didapat warga banyak, sebagian besar mengaku rejeki minyak tumpah itu bakal dipakai sendiri. Mereka memilih menggunakan minyak untuk konsumsi tumah tangga. Bagi warga, mereka enggan menjualnya lantaran menilai minyak sebagai rejeki nomplok. Bahkan sudah ada yang berencana menyiapkan minyak untuk kebutuhan saat acara Natal pada Desember mendatang. Yah, tidak ada yang tahu rejeki hari ini bisa menghidupi warga di hari esok. Dan mungkin saja kata kata, kesusahan orang adalah berkah bagi orang lain itu benar adanya. Kerugian yang dipastikan tak sedikit bagi pertamina, merupkan rejeki para ibu rumah tangga.(PRISKA BIRAHY)