Rela Berkorban, Panggilan Gereja di Era Covid-19

by
Pdt Jacky Manuputty, Sekretaris Umum PGI. FOTO : DOK. PRIBADI

SALAH satu lembaga agama yang intens memberi respons terhadap upaya memutuskan mata rantai penyebaran virus Covid 19 adalah Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI). Pagi ini saya mendapat kesempatan istimewa dikontak senior saya, Pendeta Jacky Manuputty (JM), yang kini melayani sebagai Sekretaris Umum PGI. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengkonfirmasi beberapa hal yang menjadi percakapan warga gereja sekaligus warganet akhir-akhir ini. Berikut cuplikan percakapan dengan pekerja perdamaian dan aktivis lintas iman yang mendapat beberapa award di antaranya Tannembaum Foundation AS dan Maarif Institute Jakarta bersama Pendeta Rudy Rahabeat (RR) ini.

Rudy Rahabeat (RR) :

Berdasarkan amatan melalui media sosial maka PGI cukup intens melakukan langkah-langkah proaktif untuk menyikapi pandemi covid 19 di antaranya aksi penyemprotan disenfektan di rumah-rumah ibadah (lintas agama), mendorong aksi diakonia gereja-gereja untuk terus menolong umat dan masyarakat, khususnya mereka yang rentan secara ekonomi, termasuk saran untuk sedapatnya- jika perlu, memanfaatkan gedung gereja sebagai tempat isolasi para pasien Covid 19. Apa yang melatari semua tindakan ini?

Jacky Manuputty (JM):

Semua tindakan kita tentu mengacu dan merujuk pada teladan Kristus Yesus selaku Kepala Gereja. Baru saja kita merayakan Paskah yang inti beritanya adalah pengorbanan Kristus bagi keselamatan manusia dan dunia ini. Oleh sebab itu, menjadi gereja berarti rela berkorban sebagaimana teladan Kristus tersebut. Orang-orang Kristen di Indonesia terpanggil untuk bersama-sama seluruh komponen bangsa ini mengatasi bencana yang sedang dihadapi secara nasional ini. Gereja-gereja dan agama pada umumnya mesti memberi solusi dan aksi yang betul-betul kena dengan pergumulan saat ini. Tidak cukup hanya menyatakan rasa iba dan sedih saja. Singkat kata, gereja-gereja mesti mengembangkan oikumene in action, gereja bertindak secara nyata merespons dinamika masyarakat dan bangsa termasuk di dalamnya gereja-gereja.

RR:

Ada sebagian warga gereja yang masih bertanya-tanya tentang inisiatif menjadikan gedung gereja sebagai tempat isolasi bagi penderita covid 19. Menurut pandangan sebagian umat, gereja itu tempat yang suci, peruntukannya untuk ibadah, dan oleh sebab itu, jika digunakan sebagai “rumah sakit” maka itu akan mengurangi bahkan mencemarkan gedung gereja itu sendiri. Bisa diberi penjelasan terkait pandangan ini?

JM :

Mari membaca arahan atau himbauan itu secara utuh. Saya dapat memaklumi pandangan sebagian warga gereja terkait fungsi gereja selama ini. Gereja menjadi pusat peribadahan ibadah dan ritual umat. Itu tidak salah. Tapi saya kira gereja dapat menjadi pusat bagi penyembuhan manusia secara utuh. Bukan saja aspek rohani tetapi juga jasmani dan kemanusiaan secara utuh. Kita juga bisa belajar dari sejarah gereja di masa lalu. Misalnya Marthin Luther, salah satu tokoh reformasi gereja misalnya, tetap bertahan dan tidak keluar dari kota saat wabah pes menyerang. Dia tetap tinggal untuk melayani. Konsekuensinya putrinya terjangkit pes. Ini merupakan jejak sejarah yang dapat kita jadikan rujukan.

Loading...

Selain itu, dalam himbauan PGI itu, kami memberi penjelasan bahwa jika kondisi mendesak dan gedung gereja layak untuk itu, maka tidak tertutup kemungkinan gedung gereja menjadi tempat perawatan bagi penderita kovid 19. Tentuhal ini disertai koordinasi dan kerjasama dengan pemerintah dan pihak-pihak yang professional terkait penanganan pandemic kovid 19. Sebagai contoh, kawan-kawan di GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) telah menyiapkan sebuah protokoler untuk menggunakan jika perlu dapat gedung gereja untuk merawat penderita kovid 19 tersebut. Ada juga seorang rekan pendeta yang mengontak saya dan menyatakan jemaat mereka mau menyediakan dua gedung sekolah jika diperlukan untuk menampung pengobatan penderita kovid 19. Semua ini merupakan inisiatif-inisiatif positif bagi dari pimpinan dan warga gereja dalam menyatakan belarasa terhadap bencana global yang sedang kita hadapi bersama ini.

 

RR:

Apa saja hikmah yang dapat dipetik gereja-gereja dalam pergumulan bersama mengatasi penyebaran dan dampak virus covid 19 saat ini?

 

JM:

Ini memang sebuah fenomena yang luar biasa. Gereja-gereja dituntut untuk memberi respons yang fundamental. Cara menggereja (ekklesiologi) dan teologi mesti dirumuskan kembali.  Misalnya, ketika doa dan pastoral merupakan hal-hal yang utama dalam hidup menggereja, maka bagaimana hal itu dilaksanakan dalam konteks pandemik saat ini. Bagaimana mengembangkan format pastoral yang diperhadapkan dengan himbauan menjaga jarak (social and physical distanting). Apakah penggunaan media online untuk akta pastoral dan ibadah serta doa ditabukan? Atau kita perlu mengembangkan pastoral yang lebih transformatif di era digital dan disruptif saat ini. ibadah-ibadah yang berbasis internet serta bergesernya ibadah dari gedung gereja ke rumah-rumah keluarga menginsyaratkan pergeseran fundamental dalam laku bergereja (eklesiologi dan teologi). Dengan kata lain, saya hendak mengatakan bahwa kita sedang menghadapi perubahan yang mendasar, dan olehnya kita memang harus mengisolasi diri dari pandemic kovid 19, tapi kita tidak bisa mengisolasi gereja dari tanggungjawab untuk merespons perubahan, menjawab jeritan kemanusiaan saat ini serta terus merajut peradaban yang menjamin keberlangsungan dan kualitas kehidupan.

 

Demikian beberapa percakapan singkat saya dengan Pendeta Jacky Manuputty, tenaga utusan gereja GPM di PGI, yang belum lama ini mendapat penganugerahan gelar doktor honoris causa di bidang teologi dari Hartford Seminary Amerika Serikat, tempat dulu ia melanjutkan studi S2 di negeri abang Sam ini. Terima kasih Bung Jack atas waktunya. Tetaplah berkarya bagi gereja-gereja, bagi bangsa dan bagi kemanusiaan. Teriring doa (RR).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *