Relawan Kemanusiaan Oleh : Jacky Manuputty, Pekerja Perdamaian

by
Pdt Jacky Manuputty. FOTO : ISTIMEWA

BETA tarkira baku malawang, baku tuduh, baku kasalah, dan baku sindir terjadi di sosial media antara anana negri yang jadi ‘relawan kemanusiaan’, terkait kepedulian bantuan kepada pengungsi korban gempa bumi di Maluku. Beta taruh kata ‘relawan kemanusiaan’ dalam tanda kutip sekedar untuk ingatkan pentingnya memaknai kata itu secara dalam.

Sekitar tahun 2011, beta menulis sebuah kutipan dari Lilla Watson pada papan tulis besar di kantor Balitbang GPM, tempat beta bekerja. Lilla adalah seorang aktivis kemanusiaan, akademisi, dan artis asal Muri kelahiran 1940, yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kaum Aborigin di Australia.

Kutipan terkenalnya berbunyi:

‘If you have come here to help me you are wasting your time, but if you have come because your liberation is bound up with mine, then let us work together’

Terjemahan bebasnya kira-kira begini:

‘Kalo ale datang par tolong beta maka ale cuma buang-buang waktu saja. Kalo ale datang tagal ale pung kebebasan terkait deng beta pung kebebasan, maka mari katong karja sama-sama”.

Kalimat Lilla selalu jadi salah satu kutipan emas, selain inspirasi dari agama tentunya’ yang dipakai untuk ingatkan beta, ketika kelelahan saat lakukan kerja-kerja kemanusiaan. Di kemudian hari, beta selalu memakai kutipan ini dalam banyak sesi pelatihan tenaga-tenaga relawan kemanusiaan di berbagai tempat.

Makna di balik kutipan Lilla Watson sangat dalam untuk membentuk spiritualitas kerelawanan, terutama bagi mereka yang memberi dirinya bekerja untuk aksi-aksi kemanusiaan.

Menjadi relawan kemanusiaan membutuhkan kerelaan memberi diri yang prima. Seorang relawan kemanusiaan harus siap membebaskan dirinya dari ‘id’ yang sempit, dan perlahan menanjak ke level ‘ego’ dan ‘super ego’. Itu proses mengosongkan dan membebaskan diri dari berbagai kepentingan yang berpusat pada diri sendiri, kemudian melebur total dalam kerja bersama untuk membangun kemanusiaan yang terpuruk.

loading...

Secara sederhana Lilla Watson mau bilang, orang yang akan kita tolong, sebenarnya menolong kita juga untuk menjadi lebih manusiawi. Mereka yang kita anggap korban, sesungguhnya membantu kita untuk terbebas dari jebakan sindrom ‘juru selamat’.

Pada seorang relawan kemanusiaan disyaratkan untuk merelakan waktunya, tenaganya, serta keuntungan-keuntungan pribadi lain yang bisa didapatnya dari kerja-kerja kemanusiaan yang dijalaninya.

Relawan kemanusiaan jauh dari sikap mencitrakan diri sebagai seorang penolong dan penyelamat. Sebaliknya, seorang relawan dituntut siap untuk merendahkan diri pada level mereka yang ditolong. Pada posisi ini, yang dibutuhkan bukan lagi simpati, tetapi sikap empati saat berhadapan dengan korban. Pada titik ini bukan lagi relasi atas-bawah antara yang ditolong dan yang menolong yang mengemuka, tetapi relasi setara sebagai orang-orang rapuh yang saling menolong dari aspek yang berbeda.

Tentu untuk sampai pada level sikap yang dikemukakan Lilla, dibutuhkan keterlibatan yang dalam dan panjang. Untuk itu, marilah terus belajar untuk menjadi relawan kemanusiaan dengan tidak berbantah-bantah, saling menyalahkan atau saling mencibir. Kita semua adalah pembelajar di jalan yang sama, untuk mengerjakan kerja-kerja pembebasan yang dimulai dari diri kita. Proses dan waktu yang akan memutuskan, mana gandum dan mana ilalang diantara kita.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *