Remaja di SKIP Memilih Gantung Diri, Begini Isi Surat Kepada Orang Tuanya

by

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Seorang remaja di SKIP RT/RW: 003/03, Kelurahan Batu Gajah, Kota Ambon, Erjons Tomasoa (17)  memilih akhiri hidupnya dengan cara gantung diri, Rabu (4/11/2020) pagi.

Pria ini gantung diri karena merasa seperti anak buangan. Ini terungkap dalam surat yang ditulis korban sebelum mengakhiri hidupnya.

Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Ipda Izack Leatemia yang dikonfirmasi Terasmaluku.com membenarkan kejadian naas itu.

Izack menjelaskan, korban menggunakan tali plastik yang diikat pada tangga kayu rumah milik Leni Tomasoa, tante korban untuk mengakhiri hidupnya. Kejadiaan naas ini pertama kali diketahui oleh Leni Tomasoa saat hendak menuju kamar mandi sekitar pukul 06:00 WIT Rabu pagi.

Melihat korban dalam kondisi tergantung, sang tante sempat berusaha menyelamatkan korban. Namun upaya itu sia-sia.

Awalnya menurut keterangan saksi, Leni, sekitar pukul 02.00 WIT Rabu dini hari, saksi sementara membersihkan sayur untuk dimasak besok pagi. Kemudian saksi melihat korban naik ke lantai II. Selang beberapa menit, saksi menyusul korban ke lantai II untuk istirahat, namun melihat korban sementara main handphone sehingga saksi menegur korban dan menyuruh korban tidur. Namun, korban menjawab jika dirinya masih ingin melihat-lihat handphone sebentar.

Beberapa jam kemudian korban tidur di sebelah kamar saksi di lantai II
dan berpesan kepada saksi membangunnya di pagi hari.

“Sekitar jam 06.00 WIT, saksi terbangun dan turun kelantai I dengan tujuan kekamar mandi dan sempat melihat korban dalam keadaan tergantung diri di samping tangga – tangga rumah, sehingga saksi sempat menggoyang goyangkan tubuh korban sambil berkata “ERJONS…!! bangun – bangun,”jelasnya.

Loading...

Sebelum gantung diri kata Kasubbag Humas, korban berpesan dengan menulis surat di kertas. Surat diletakkan di atas meja yang tak jauh dari tempat korban gantung diri.

Isi surat yang ditulis korban:

For Mama deng Bapak beta pigi karena beta anggap beta dikeluarga seng ada guna beta pigi karena beta rasa, beta kayak anak buangan, kamong janji parbeta zg pernah ada bukti, barang barang semua kamong sembunyi, percuma kamong bilang beta anak yang urus barang usaha tapi zg beta anggap itu 3 bersudara bukan beta. Makasi supiara beta dari kecil.

– Zg usah kata pastiu dengan beta. Beta minta kubur beta disamping beta mama. selamat dari ana kejahatan, Pemalas, Harbiru, Beta pigi karena beta bukan darah Tomasoa dan itu jelas bukan beta dengar dari bapa ucu.

Namun, apa motif sebenarnya yang mendorong korban mengakhiri hidupnya ini tidak diketahui pasti oleh pihak keluarga.

“Tidak diketahui pasti oleh keluarganya terkait motiv korban mengakiri hidupnya karena menurut keterangan dari keluarga bahwa korban mempunyai sifat yang tertutup. Serta dimana keluarganya dari orang tua korban, mama korban sudah meninggal dunia setelah 10 hari saat korban dilahirkan dan ayah korban menikah kembali, sehingga korban merasa hidupnya terasingkan tanpa orang tua,”sambungnya.

Selain itu, korban juga sebelumnya diketahui sudah pernah melakukan percobaan gantung diri di rumah paman korban di Negeri Titawai Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, namun dicegah oleh paman korban, Jonman Tomasoa.

“Hasil Kordinasi dengan pihak keluarga korban bahwa dari pihak keluarga korban menolak untuk otopsi dan mengiklaskan peristiwa tersebut,”tandasnya. (Ruzady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *