Remaja Usia Rentan Terjadi Tindak Kekerasan

Remaja Usia Rentan Terjadi Tindak Kekerasan

SHARE
Sosialisasi anti kekerasan terhadap perempuan bagi remaja MTs Batumerah Ambon sebagai rangkaian Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM – Tiap hari ada perempuan yang jadi korban kekerasan. Data dari LAPPAN (Lingkar pemberdayaan perempuan dan anak) mencatat dalam tahun ini ada 39 kasus kekerasan. Kekerasan domestik adalah yang paling banyak terjadi. Jumlah itu menyusul dengan kekerasan seksual. Dari situ ada sebuah fakta, remaja merupakan usia yang paling rentan kekerasan.

“Saat ada paksaan itu masuk kekerasan. Katong remaja harus bisa jaga diri,” ucap Irma Deviana Difinubun siswa MTs Batumerah Ambon usai sosialisasi kekeraan terhadap perempuan di aula sekolah Jumat (30/11). Irma bersama seorang teman lain terlihat masih membahas materi yang baru disampaikan. Tampakanya mereka memang sudah paham tentang kekerasan yang rerata dialami perempuan.

Saat diwawancarai terasmaluku.com mereka pun tak segan menunjuk bagian tubuh yang rentan dan wajib dilindungi. Sebelumnya, pemateri dari Lappan mengemasnya dalam sebuah lagu agar mudah diingat. “Katong gampang ingat dengan lagu. Tapi ada beberapa teman yang ketawa waktu manyanyi,” celetukan Irma itu lantas disambut oleh temannya Nadifa Kaisupy. “Dong itu laki-laki jadi mungkin rasa lucu, karena ada liriknya baju dalam. Begitu,” kata Nadifa menerangkan.

Keduanya lantas memberi argumen tentang berbagai kekerasan pada perempuan. Irma pun Nadifa sadar jika remaja merupakan masa yang rawan. “Remaja itu masa-masa katong cari jati diri jadi musti hati-hati. Pengetahuan agama harus banyak dan lapor kalau ada hal yang seng betul,” jelas Irma.

Pada masa itu ada peluang besar terjadi bentuk kekerasan seksual. LAPPAN merekam berbagai kasus kekerasan pada remaja. Seperti seorang remaja yang diperkosa oleh pacar yang berusia lebih tua darinya. “Pacarnya itu paksa untuk berhubungan intim padahal perempuannya tidak mau,” ulas Bai yang mengawali kampanye 16 Hari Anti Kekerasan bersama GPM Klasis Seram Bagian Barat pada 24 November lalu.

Ada juga kasus lain seperti remaja yang disekap di rumah oleh tetangga sendiri dan ada yang diperkosa ayah kandung akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ada banyak pemicu kekerasan seksual pada remaja.  “Kasus-kasus yang Lappan tangani itu paling banyak remaja. Mereka itu rentan sekali, karena masih polos dan bisa dimanfaatkan,” sebut Baihajar.

Fase remaja merupakan tahap menemukan pola perilaku diri yang pas dengan lingkungan yang mereka pilih. Tak heran mereka amat mudah dipengaruhi orang lain. Pola bergaul berkenalan dan berpacaran bisa menjadi celah bagi para pelaku kekerasan.

Bai pada kegiatan yang diinisiasi Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Maluku itu membangun kesadaran akan tindak kekerasan yang bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Itu dilakukan sambil mendorong RUU Penghapusan kekerasan seksual. (PRISKA BIRAHY)

loading...