Resiko Menanam Tanaman Di Musim Penghujan

by
Edwen D. Waas, staf Peneliti BPTP Maluku FOTO : DOK. PRIBADI

Masuknya musim penghujan yang terjadi di Provinsi Maluku pada Bulan Mei ini hinga Juli nanti, hampir setiap selalu kita diguyur hujan sepanjang hari.

Dengan kondisi demikian, kebutuhan air tentu tidaklah menjadi masalah yang berarti. Petani tak perlu capek-capek lagi menyiram tanamannya karena sudah tercukupi dengan adanya air hujan.

Menanam di musim hujan walaupun kebutuhan air cukup namaun petani akan menemui kendala dan tantangan. Resiko menanam di musim hujan sebenarnya tak kalah tinggi saat menanam di puncak musim kemarau.

Oleh karena itu patut waspada hal-hal yang dapat menyebabkan gagal panen. Berikut ini ada beberapa  hal yang harus petani perhatikan pada saat menanam pada musim pengenghujan agar tidak gagal panen, antara lain :

LEDAKAN HAMA DAN PENYAKIT

Dengan adanya fenomena kemarau basah dan musim hujan yang datang lebih awal, pola penanaman kebanyakan petani menjadi padi-padi-padi. Penanaman padi sepanjang tahun membuat siklus hama penyakit tanaman terus berjalan.

Perkembangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) tidak terhenti, karena makanan tersedia sepanjang tahun. Oleh karena itu perlu waspadai adalah adanya ledakan hama penyakit. Curah hujan yang tinggi salah satu yang dapat mendongkrat ledakan popilasi OPT.

Potensi OPT yang perlu petani waspadai pada tanaman padi antara lain hama penggerek batang padi, wereng coklat, tikus kresek dan tungro. Sedangkan pada tanam sayuran yaitu (downey mildew), antraknosa atau patek (busuk buah), bercak daun alternaria dan lain-lain.

Oleh karena itu Petani harus ekstra waspadah dan lebih siap dalam menghadapi musim hujan kali ini. Tindakan monitoring dan antisipasi dini terhadap tanaman khususnya terhadap keberadaan OPT mutlak dilakukan.

POTENSI LAHAN KEBANJIRAN DAN RUSAK

Intensitas hujan yang meningkat saat musim hujan, menyebabkan kapasitas air lebih dari biasanya. Makah yang perlu petani waspadai adalah system pembuangan air yang ada di lahan. Jangan sampai karena system drainase yang kurang baik, tanaman kebanjiran lantas menjadi layu dan mati.

Jika ada dalam persiapan lahan untuk tanaman hortikultura sayur, maka sebaiknya bedengan dibuat agak tinggi kira-kira 40 cm. Tujuan dari bedengan tinggi adalah agar kelembaban tanah di sekitar perakaran dapat terkontrol dan tidak berlebihan. Pasokan air yang berlebihan kurang baik bagi pertumbuhan tanaman.

Selain pasokan air berlebih, hujan deras disertai angina kencang kadangkala dapat merusak tanaman dalam waktu singkat. Oleh sebab itu perlu dipertimbnagkan dalam pemelihan lokasi dan komoditas/varietas yang akan ditanam. Pilihan lokasi yang aman serta tanaman yang kuat dari resiko angina kencang.

PEMILIHAN KOMODITAS

Pemilihan Komodidas/Varietas yang akan ditanam baik itu tanaman pangan atau hortikultura sangatlah penting. Pemilihan Komoditas/Varietas bisa berdasarkan kondisi curah hujan pada wilayah tertentu. Kalau ada di wilayah yang curah hujan tinggi, maka sebaiknya menenam tanaman yang lebih toleran dan tahan terhadap kelebihan air, seperti kentangdan  padi, tetapi jika wilayah yang curah hujannya tidak terlalu tinggi anda bisa menanam sayuran seperti cabai, bawang merah atau jenis kubis-kubisan atau sawi-sawian.

PERTUMBUHAN GULMA

Tanaman yang tidak dikehendaki keberadaannya di lahan, adalah gulma. Biji-biji kering gulma yang pada musim kemarau terbang menyebar terkena angin, akan tumbuh subur pada musim hujan. Keberadaan gulma bisa menurunkan kuantitas hasil karena tanaman utama kalah dalam kompotisi.

Kompotisi yang dimaksut yaitu usaha dalam memperebutkan nutrisi, air, ruang tumbuh serta udara. Tanaman budidaya yang kalah tentu pertumbuhannya akan terhambat. Selain itu juga, diketahui beberapa gulma dapat mengeluarkan zat yang bersifat toksin yang dapat menekan pertumbuhan tanaman budidaya.

INTENSITAS SINAR MATAHARI

Tanaman yang tumbuh normal membutuhkan sinar matahari yang cukup. Pada musim hujan, kondisi langit yang mendung menyebabkan sinar matahari yang mengenai tanaman tidak merata, ini akan menyebabkan proses fotosintesis terganggu.

Solusi yang bisa dilakukan adalah pengaturan tanaman dalam bedengan dengan system single rows (satu baris) atau system double rows zig zag (dua baris selang seling). Diharapkan selain sinar matahari bisa mengenai semua tanaman juga meminimalisir timbulnya iklim mikro yang dapat memacu perkembangan penyakit.

Dengan demikian Walaupun musim hujan kadang dianggap menyusahkan bagi sebagian petani (karena resiko menanam musim hujan juga berat), tetapi musim hujan adalah musim yang di tunggu-tunggu oleh sebagian besar petani di seluruh dunia. Dengan datangnya musim hujan maka konflik dan drama perebutan air yang terjadi di musim kemarau sebelumnya bisa segera berakhir.

Datangnya musim hujan adalah hal yang berada di luar kuasa manusia. Saya dan anda, petani bisa meminimalisir dampak negatif yang mungkin saja bisa terjadi. Tak lupa yakin dan berusaha, disertai doa semoga apa yang kita kerjakan bisa tercapai dengan baik dan berhasil.

Edwen D. Waas, Penulis adalah staf Peneliti BPTP Maluku