Ribuan Warga Kepulauan Kei Tangkap Ikan Secara Tradisional di Pesona Meti Kei

by

LANGGUR- Tradisi menangkap ikan secara tradisional atau Tarik Tali pada musim Meti Kei di Kepulauan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) terus berlangsung. Rabu (20/10) ribuan warga turun ke pantai menangkap ikan dalam rangkaian Festival Pesona Meti Keti (FPMK) yang digelar di sepanjang pantai tiga desa yakni, Abean, Yafawun dan Desa Watngon Kecamatan Kei Kecil Timur Kabupaten Malra.
Selain warga tiga desa itu, ada warga dari desa – desa lainnya yang memiliki hubungan saudara dengan tiga desa tersebut ikut tradisi ini. Warga menangkap ikan dengan menggunakan peralatan sederhana, rama lingkungan seperti menggunakan tali dan daun kelapa berwarna kuning, tombak dan sero. Meti Kei dalam bahasa setempat disebut Metre Tan, adalah budaya masyarakat Kepulauan Kei, saat air laut surut terbesar dan terpanjang untuk menangkap ikan. Tradisi tangkap ikan di pantai dengan panjang sekitar 3 KM itu diawali dengan Tarik Tali atau bahasa setempat, Wer Warat dilakukan ratusan pria dewasa dari tiga desa itu.
Tali yang dipasangi daun kelapa berwarna kuning itu sehari sebelumnya diletakan warga di laut dalam mengintari pantai tersebut, dengan panjang tali sekitar 3.000 meter. Warga berenang, menarik tali tersebut bersama – sama ke darat sambil memukul air agar ikan terperangkap ke darat. Warga menggunakan daun kelapa kuning, karena menurut mereka, ikan takut dengan daun kelapa itu sehingga lari ke pantai.
Menurut adat istiadat setempat, tidak semua pria dewasa bisa ke laut memasang dan menarik tali yang diikat dengan daun kelapa kuning itu. Ada syarat tertentu bagi warga yang memasang dan menarik tali itu. Diantaranya harus bersih, tidak melakukan perbuatan dosa seperti dilarang agamanya, istrinya tidak sedang hamil dan melakukan perbuatan terlarang lainnya.
Kemudian mereka dimandikan dengan air khusus, agar di laut warga berani mengusir ikan hingga ke pantai. “Orang yang turun ke laut tarik tali harus bersih dari segalanya, harus berpuasa tidak melakukan hubungan suami istri. Ikan itu bersih karena itu orang yang mau tangkap ikan juga harus bersih biar dapat ikan banyak,” kata seorang tokoh agama Desa Abean Muhidin.
Begitu tali yang ditarik dari laut itu dekat dengan pantai atau masuk kawasan Meti Kei, ribuan warga yang berada di kawasan pantai langsung berlarian menuju areal Meti Kei, dengan kedalaman sampai lutut orang dewasa untuk menangkap ikan. Warga saling berebutan menangkap ikan yang terperangkap dari proses Tarik Tali itu dengan menggunakan tombak, bambu dan sero.Ikut bersama warga dalam tradisi tangkap ikan ini Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, Bupati Malra, Anderias Rentanubun, Wakil Bupati Malra Yunus Serang, Sekda Malra, Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Muin Sogalrey dan pejabat lainnya.
Namun tidak banyak ikan yang masuk dalam perangkap Tarik Tali itu. Ikan hasil tangkapan tersebut kemudian dimakan bersama – sama di pantai yang penuh pasir putih itu. “Tradisi Meti Kei ini berlangsung turun temurun sejak jaman leluhur. Meti Kei adalah budaya dari masyarakat Kepulauan Kei, dimana saat air laut surut terbesar dan terpanjang, warga menangkap ikan bersama-sama dan mengundang warga dari desa lainnya,” kata Bupati Malra.
Dan untuk pertama kalinya, di tahun ini Pemerintah Kabupaten Malra mengangkat tradisi Meti Kei ini menjadi FPMK, yang digelar sejak 8 hingga 22 Oktober di sejumlah lokasi pada wilayah Kepulauan Kei Kecil. Dalam
Pesan yang ingin disampaikan dengan tangkap ikan secara tradisional ini adalah, agar warga menggunakan alat tangkap yang rama lingkungan, tidak merusak terumbu karang dan biota laut lainnya seperti menggunakan bom dalam menangkap ikan.
Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua menyatakan, kegiatan ini harus terus dilestarikan karena merupakan satu kearifan lokal yang mulai tergusur dengan teknik pengakapan ikan moderen. “Saya pikir kita perlu melestarikan budaya leluhur seperti ini, karena selain memiliki nilai historis yang tinggi, juga melestarikan alam laut di Maluku Tenggara, ” katanya.
Menurutnya, kegiatan Meti Kei harus dijadikan iven tahunan dan dikelola dengan baik sehingga menjadi wisata bahari yang dapat menarik lebih banyak lagi wisatan berkunjung ke daerah itu. Selain itu, FPMK ini juga untuk promosi wisata di Kepulauan Kei yang kaya akan berbagai pesona alam, pantai serta goanya. (GUS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *