Rohingya Ethnocide di Myanmar, Catatan Perjalanan Jurnalis Maluku

by
Jurnalis Maluku Insany Syahbarwaty (berjilbab) bersama perwakilan berbagai etnis di Myanmar pada 26 April 2013. FOTO : DOK. Pribadi

TIN SOE, Jurnalis Kaladan News Agency ini, bertampang perlente, berbeda dari warga Rohingya lainnya, Tin Soe, berkulit lebih putih meski berhidung mancung namun bermata agak sipit, eksekutif editor di Kaladan news ini, terlahir dari ayah Bangladesh dan ibu Myanmar, pria 49 tahun ini beragama islam dia bahkan masih memiliki nama muslim.  ‘’Nama saya, Muhammad Abdul, ‘’ bisiknya dalam perjalanan malam itu di Bus menuju Mon State, Myanmar pada  26 April 2013.

Rohingya berada di bagian utara Myanmar Barat yang dikuasai etnis Rakhine yang beragama Budha, berbatasan langsung dengan Negara Bangladesh. Populasi Rohingya terkonsentrasi di dua kota utara Negara bagian Rakhine (sebelumnya disebut Arakan). Tidak ada sensus yang tepat, namun diperkirakan ada sekitar tiga juta jiwa suku Rohingya di kawasan ini. Kebanyakan warga Rohingya bermukim di desa Maungdaw dan Sittwe.

Menurut Tin Soe, setidaknya 800 ribu etnis Rohingya sudah berpindah ke Bangladesh dan Negara-negara mayoritas Muslim lainnya, tak kurang ada 25 ribu ke Malaysia. ‘’Saya termasuk yang pindah ke Bangladesh karena situasi sangat sulit untuk bertahan di Maungdaw,’’ungkapnya.

Sejumlah warga Rohingya menyebutkan ada upaya pembersihan etnis Rohingya, yang secara fisik berbeda dengan warga Myanmar lainnya. Fisik mereka cenderung seperti warga Bangladesh atau India, berkulit gelap berhidung mancung. Negara, menganggap etnis Rohingya sama sekali bukan bagian dari Myanmar, Negara ini hanya mengakui etnis Bamar/ Birma.

Dua pertiga dari total warga Myanmar beragama Buddha, menghuni sebagian besar wilayah Negara kecuali pedesaan Karen, Suku yang beragama Buddha, Kristen atau paduannya. Mereka memperjuangkan otonomi selama 60 tahun, yang menghuni pegunungan dekat perbatasan Thailand. Lalu ada suku Kayah, etnis ini beragama Buddha yang berkerabat dengan etnis Thai.

Sedangkan etnis Arakan yang juga disebut Rakhine, umumnya beragama Buddha dan tinggal di perbukitan di Myanmar Barat. Lantas suku Mon, etnis ini beragama Buddha yang menghuni kawasan selatan dekat perbatasan Thailand. Dan terakhir, suku Kachin, kebanyakan beragama Kristen. Mereka juga tersebar di Cina dan India. Suku Kachin biasa disebut juga suku Chin, suku ini kebanyakan menghuni dekat perbatasan India.

Menurut U Nyunt Maung Shein, tokoh agama etnis Rohingya, Aye Maung, pemimpin Rakhine Nationalities Development Party (RNDP) adalah dalang utama dalam kekerasan dan ‘pembersihan etnis Rohingya’, yang secara grafis menggambarkan rencana pemusnahan Rohingya saat Rakhine mengadakan konferensi di Rathedaung, 25-26 September 2012.  RNDP menilai suku Rohingya sejatinya adalah suku Benggali dari Bangladesh yang tidak semestinya mendiami tanah milik suku Rakhine di Myanmar.

Loading...
Pertemuan  etnis di Mon State, Myanmar April  2013

Meski pada kenyataannya mereka sudah mendiami kawasan itu sejak abad ke-8. U Tin Maung, tokoh muslim Rohingya lainnya juga menyatakan, sebelumnya parlemen Myanmar, sudah mengakui Rohingya sebagai salah satu dari banyak kelompok etnis Uni Burma dengan program bahasa mereka yang disampaikan tiga kali seminggu dalam program Pemerintah Burma Broadcasting Service (BBS) di Rangoon/ Yangon.

Namun kemudian mengabaikan ini karena ada upaya Rohingya Ethnocide (pembantaian Etnis Rohingya ) untuk menjadikan kawasan Rakhine /Arakan menjadi daerah bebas Rohingya. Karena pembantaian inilah, ungkap U Tin Maung, 1,5 juta orang telah meninggalkan tanah air mereka dari Arakan untuk menghindari penganiayaan.

Mereka hidup di Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, UAE, Thailand, Malaysia, Indonesia, Australia, Selandia Baru, Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara lainnya.Sisanya terbunuh dianiaya, dibakar bahkan dikubur hidup-hidup.  Bahkan Presiden Myanmar, Thein Sein secara resmi menyetujui permintaan dari RNDP agar mendeportasi warga Rohingya ke negara ketiga, yang mencerminkan kebijakan secara resmi pemerintah atas pembersihan etnis Rohingya.

Human Rights Watch (HRW) menyatakan bahwa mereka telah menemukan empat kuburan massal di Utara Rakhine / Arakan. Bahkan Al-Jazeera news broadcast mendapatkan rekaman film kejahatan genosida di Rakhine /Arakan terhadap suku Rohingya.

Data komisi investigasi Rakhine menyebutkan, gelombang kekerasan terhadap suku Rohingya ini terjadi karena pemerkosaan dan pembunuhan kepada Ma Thida Twe (28) perempuan suku Rakhine oleh tiga suku Rohingya atau yang disebut suku Benggali. Namun menurut dokter yang memeriksa jasad perempuan tersebut tidak ada jejak perkosaan ditemukan oleh dokter saat melakukan visum, namun dokter dipaksa untuk menandatangani laporan visum tersebut.

Dari laporan polisi diketahui perempuan tersebut bunuh diri. Penulis menyusur data dari berbagai sumber bahwa, berbagai isu sudah dihembus sejak 1942 hingga 2012, tentang awal pemusnahan etnis yang diawali tindakan suku Rohingya, mulai dari perkosaan hingga pembakaran rumah ibadah Budha, yang berujung pada pembantaian muslim di Rakhine/Arakan, tidak ada investigasi resmi yang menyebutkan hal ini, semua hanya isu yang berkembang di masyarakat Rakhine.

Hingga kini kekerasan terus terjadi di kawasan ini. PBB dan sebanyak delapan Negara yang menandatangani persetujuan bersama penghentian kekerasan dan penghapusan etnis berupaya memulihkan situasi di kawasan ini.

(Catatan Perjalanan Jurnalis Maluku, Insany Syahbarwaty ke Myanmar pada April 2013 dan telah dimuat di Harian Kabar Timur akhir April 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *