Sartre, Stigma, Kecurigaan, dan Penolakan di Era Covid-19

by
Albert Josua Maliogha, Mahasiswa S2 Antropologi Boston University AS. FOTO : DOK. PRIBADI

ORANG lain adalah neraka! Demikian Sartre membela dan sekaligus menerangkan eksistensialismenya (yang anti-sosial itu). Menurut Sartre, kehadiran orang lain “mencuri duniaku.” Si Aku yang adalah titik pengamat, sang sudut pandang Dunia, si penentu kesadaran atas realitas di luar diri si aku, harus terganggu oleh kehadiran orang lain yang meski adalah objeknya, namun juga pada saat yang sama berupaya mengobjetivikasi si aku sebagai objeknya.

Akhirnya, tidak ada jalan keluar lain, menurut Sartre, yaitu bahwa si aku mesti betul-betul waspada, strategik, dan tidak lengah agar tetap dapat menjamin orang lain itu selalu menjadi objeknya.  Dengan begitu, orang lain yang adalah pengganggu kebebasan serta autentisitas si aku, tidak dapat mengganggu. Orang lain itu memaksa si aku bereaksi terhadap kenyataan di luar diri si aku tetapi bukan karena si aku menginginkannya, melain karena orang lain membuka kesadaran si aku bahwa bila orang lain itu berhasil membuatnya menjadi objeknya, maka si aku hanya merupakan refleksi dari kesadaran orang lain itu. Di situ, si aku tidak lagi bebas, tidak lagi autentik. Orang lain adalah neraka bagi si aku!
.
Di era pandemi covid-19, orang lain adalah neraka bagi eksistensi si aku yang bukan kuatir kehadiran orang lain akan membatalkan kebebasannya, tetapi mengancam keselamatannya (kesehatannya). Sama seperti si aku yang tidak mungkin dapat mengendalikan orang lain itu sebagai objek bagi dirinya secara seratus persen sehingga tidak mengancam kebebasan dan autensitas diri si aku; kini, di era covid-19, orang lain bukan lagi penghalang kebebasan eksitensial dan pemenuhan autensitas diri si aku, orang lain adalah neraka bagi kesehatan tubuh! Si aku dihantui oleh ketidakberdayaanya untuk seratus persen mengobjektivikasikan orang lain yang dia pandang sebagai virus berjalan, malaikat kematian, untuk diaturnya sedemikan rupa agar tidak menjangkitinya.

Loading...

Si aku cemas tidak karuan oleh karena setiap kehadiran dan penampakan orang lain, orang yang asing, si objek bagi dirinya, di era pandemi ini ialah sama dengan penelanjangan ketakutannya terhadap kematian, meski si aku rupanya enggan mengaku bahwa si aku takut kematian. Si aku berupaya mengendalikan kematian lewat usaha mengendalikan orang lain. Semakin si aku melihat neraka di dalam orang lain, semakin si aku membuka tabir siapa dia yang tidak perduli kepada orang lain. Orang lain yang membawa virus atau yang menangani virus serta orang lain yang asing adalah neraka oleh karena si aku tidak kuasa menjamin keselamatannya sendiri. Tidak heran si aku begitu egois, tanpa ampun, dan cemasnya berupaya mengatur orang lain itu (bahkan berupaya mendikte) supaya si aku dapat percaya betul bahwa masih ada ulang tahun untuknya di waktu yang akan datang.
.
Mungkin dari sinilah stigma, penolakan, dan rasa curiga serta jijik terhadap orang lain yang berkaitan erat dengan covid-19 (baik orang asing, odp, pdp, pasien positif, otg, jenazah hingga tenaga medis) muncul dan tumbuh subur. Mereka lahir dari cara melihat orang lain (yang berkaitan dengan covid-19) sebagai neraka. Maka, Orang Asing, ODP, PDP, OTG, Pasien, Tenaga Medis adalah neraka!

Terhadap kondisi ini diperlukan sebuah cara membaca dan cara tindak yang lebih manusiawi. Sehingga stigma, penghakiman bahkan penghukuman kepada orang lain di era kovid- 19 ini dapat terhindari atau terkelola dengan baik. Manusia saling berempati dan solider di tengah krisis yang perih ini. Dengan begitu, semua manusia mendapat tempat yang terhormat dan layak sebab bukanlah di hadapan sang Pencipta, dan setiap manusia itu mulia bukan?

Penulis : Albert Josua Maliogha, Mahasiswa S2 Antropologi Boston University AS

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *