Satu Garis Rilis Album Perdana, Penanda Lahirnya Band Rock Dari Maluku

by
Band Rock Satu Garis merilis album debutnya berisi 10 lagu dengan judul album Twenty Seven hari ini, (23/10). FOTO: Istimewa

TERASMALUKU.COM,AMBON, – “Katong sadar musik rock itu minor di Kota Ambon, tapi katong yakin di luar sana mayor. Jadi katong yakin bikin album genre rock,”

Sepenggal optimisme vokalis band rock asal Kota Ambon Satu Garis, Dariola Pratama Leiwakabessy. Keyakinan ini menjadi mantra paling besar bagi band yang terbentuk sejak 2013 itu mengeluarkan album debutnya.

Hari ini Jumat, (23/10/2020) merupakan hari paling bersejarah bagi mereka juga penikmat musik di Maluku. Usai merilis online karya musik mereka pada platform digital 16 Oktober lalu, kini mereka mantap merilis resmi debut albumnya secara live di akun sosial media.

Dariola yang akrab dipanggil Dio itu menyebut, ini menjadi langkah besar. Bukan keberanian kecil. Dia tahu betul pasar, warna dan selera musik telinga warga Ambon saat ini jauh dari karya yang akan mereka rilis. Namun itulah yang kian memantapkan mereka untuk menuntaskan mimpi besar. Punya album sendiri.

Konsep yang mereka yakini adalah kesanggupan membentuk pasar. Karya-karya mereka tak mesti ikut apa mau pasar. “Beta yakin di luar sana ada kok yang suka. Katong yang bentuk pasar,” lanjut Dio.

Kepada terasmaluku.com dia menuturkan jika penggarapan lagu sudah sejak Juli 2019. Rencananya mereka akan merilis fisik pada Januari usai penggarapan 10 lagu pada Desember. Sayangnya ada sejumlah kendala yang akhirnya itu tertunda. Ditambah lagi pandemi pada Maret sehingga niat mereka urung dilakukan.

Sepuluh lagu itu antara lain “Dear Mama”, “Rumble”, “Twenty Seven”, “Kim”, “Hati Ini Milikmu”, “Time in the Hell”, “Sayang”, “Fireman”, “Suicide”, dan “Fly Away”. Yang semuanya kini sudah dapat dinikmati bebas melalui Spotify, joox dan itunes.

Semua penggarapan dikerjakan di Ambon. Kata Dio ini merupakan idealisme yang memperkuat eksistensi mereka di dunia musik. Pasalnya baru kali ini ada penggarapan musik genre rock yang setiap prosesnya dilakukan dari dan di Maluku.

Band yang motori Dariola Pratama Leiwakabessy (Dio) pada Vocal, Edwin Titahalawa (Edwin) – Gitar, Nicolas Lailossa (Nicko) – Gitar, Liberto Thenu (Beno) – Bass dan Joseph Lieando (Jo) – Drum itu serius dengan karya-karya orisinal mereka.

Mereka tahu betul kualitas dan selera musik adalah kunci yang pun membuka pintu menembus pasar di luar Maluku. “Dengan manajemen katong su bahas dan yakin, kalaupun di Ambon sedikit di luar banyak. Tetap ada saja yang bisa nikmati katong karya,” lanjut dia.

Loading...

Tidak ada sedikit keraguan bagi mereka soal penerimaan pasar. Mereka, kata Dio tak menyoalkan jika memang sedikit atau tidak ada penikmatnya di rumah sendiri. Sebab bukan itu tujuannya.

Saat ditanya soal judul album, Edwin, anggota lain SG itu menyebut itu dilatari faktor umur. Kebanyakan saat memproduksi lagu para anggota berada di usia 27 tahun. “Ini bukan soal konspirasi seperti musisi-musisi besar di usia 27 tapi karena katong pas ada di usia-usia itu sih,” lanjutnya sambil berkelakar.

Tantangan pandemi memang membuat grup band macam Satu Garis pun harus punya trik jitu. Tak gampang menjual satu karya baru nan asing di musim sulit.

Carlo Labobar manajer Satu Garis dari Sakti Musik Production menjelaskan manajemennya siap serta punya optimisme besar. Selain soal warna musik yang unik pada era ini di Maluku, tetapi juga performa para personilnya yang luar biasa.

Mereka tidak sebatas hadir dengan karya, tapi tampilan fisik, suara serta atraksi menjanjikan ratusan bahkan ribuan pasang mata. “Katong dari manajemen tentu tahu baca pasar. Dong ini bukan cuma karya, tampilan juga bagus. Dari segi karakter musik rock dong punya nilai jual tersendiri. Dan beta lihat anak-anak ini punya, khususnya vokalis. Karakter vokalnya asik,” ungkap Carlo saat diwawancarai terpisah.

Kehadiran Satu Garis dibawah asuhan manajemen Carlo bak gayung bersambut. Carlo sendiri punya latar musik classic rock dan rock. Dia tentu turut andil dalam penggarapan musik hingga dikemas rampung. Pemilihan warna dan alur mereka dipikirkan matang demi menjaga marwah musik Satu Garis.

Itu terbaca dari sebuah lagu yang diberi unsur pop berjudul ‘Hati ini Milikmu’ yang tetap kental rock-nya. Serta judul ‘fly away’ yang dikawinkan dengan hip-hop hasil kolaborasi dengan sang Gitaris Edwin yang berlatar musik serupa.

Bagi Carlo, mereka punya skill dan warna. Untuk itu pihaknya tak ragu membuka jalan dalam memberi warna musik di Maluku.

“Manajemen dan band ingin membuat sesuatu yang baru dari Maluku. Tinggal bagaimana manajemen buat itu bisa diterima. Bersaing dengan paradigma yang ada soal kesukaan telinga orang Ambon dengan pop daerah,” terang Carlo.

Rencananya rilis akan diadakan secara daring via siaran langsung di laman Facebook “Balada: Badonci Lewat Udara”, pada  23 Oktober 2020 sekitar pukul 20.00 WIT. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *