Selamat Datang Gubernur Maluku Baru Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

SABTU pagi ini seorang kawan pendeta berkhabar dari Pulau Damer, sebuah pulau di antara ratusan pulau di Provinsi Maluku. Saya menginformasikan kepadanya bahwa lusa, Senin (11/3/2019) akan ada pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru.

Saya menyarankan ia bisa menulis catatan kecil dari pulau untuk pemimpin Maluku yang baru ini. Ia berkata bahwa ia mau menulis tentang keadaan pendidikan di Pulau Damer Maluku Barat Daya. Tenaga pendidik, sarana prasarana dan kualitas anak-anak didik masih menjadi gumulan yang perlu mendapat perhatian bersama dan serius.

Isu pendidikan yang berkorelasi dengan kualitas sumber daya manusia memang merupakan isu yang sangat urgen dan penting. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang maju dan sejahtera adalah yang memperhatikan pendidikan dengan sungguh-sungguh. Jepang merupakan salah satu contoh klasik untuk hal itu.

Selain pendidikan, tentu saja masalah kemiskinan. Seperti tulisan Dr Jopy Papilaya, mantan Walikota Ambon, masalah pengentasan kemiskinan merupakan salah satu janji kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Ini masalah universal, ada dimana-mana. Tapi kita tidak boleh membiarkan masalah kemiskinan ini terus menganga, sebab untuk apa kita bernegara dan bernegara serta berpemerintahan jika kemiskinan terus bertambah?

POLITIK KEBUDAYAAN

Baileo itu Katong. Frasa ini merupakan salah satu tagline Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih saat ini. Pilihan diksi “Baileo” memiliki pesan simbolik dan semiotik yang kuat. Baileo secara kultural merupakan rumah adat sekaligus tempat berkumpul warga negeri untuk acara-acara budaya, juga untuk membicarakan kesejahteraan negeri.

Baeleo merupakan simbol budaya Maluku yang sangat mendasar. Olehnya ketika sebuah negeri mengalami krisis, maka ibarat judul salah satu buku Rektor IAIN Ambon, Dr Hasbollah Toisuta “Robohnya Baileo Kami”. Saya jadi ingat novel klasis AA Navis, Robohnya Surau Kami.

Di tengah serbuan globalisasi dan penetrasi kapitalisme budaya-budaya lokal nyaris tergilas. Warisan budaya para leluhur hampir punah. Padahal pada sejarah kita belajar, bahkan tidak ada masa depan tanpa lalu. Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. olehnya upaya-upaya untuk terus menggali kearifan budaya lokal itu mesti terus dilakukan.

Dr John Ruhulessin, mantan ketua Sinode GPM yang juga akademisi UKIM tahun 2005 menulis sebuah disertasi berjudul “Etika Publik. Menggali dari Tradisi Pela di Maluku”. Ini merupakan sebuah contoh yang baik tentang upaya menggali dan menghidupkan tradisi lokal di era global ini.

Ada harapan baru bahwa dengan adanya aksentuasi kepada simbol budaya lokal itu, maka pemimpin yang baru ini akan memberi perhatian kepada masa depan kebudayaan Maluku. Berbagai kearifan lokal yang dimiliki oleh Maluku perlu digali dan ditransformasi sehingga menjadi kebanggaan dan fungsional dalam kehidupan bersama. Strategi Kebudayaan Nasional yang diputuskan pada Konggres Kebudayaan Indonesia tahun 2018 kemarin menjadi rujukan bersama untuk bersama-sama mengembangkan kebudayan daerah dan kebudayaan nasional.

MALUKU MANISE

Bersatulah anak-anak Maluku di seluruh dunia. Maluku tidak bisa dibangun seorang diri atau sekelompok tertentu saja. Maluku adalah milik kita semua, pusaka abadi dan kebanggaan kita. Sam Latuconsina, telah menulis sebuah evaluasi dan proyeksi singkat tentang dinamika Maluku saat ini. Mantan Sekrataris Kota Ambon itu telah menghadapkan sejumlah problematika dan agenda yang akan dikelola oleh Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.

Tentu semuanya akan dilakukan dalam skala prioritas dan disesuaikan dengan fakfor-faktor penunjang. Satu hal yang pasti, ini momentum baru bagi masyarakat Maluku di Maluku maupun di luar Maluku untuk bersama-sama “manggurebe” bangun Maluku menjadi sejahtera.

Energi sejarah yang kita miliki, misalnya Maluku merupakan salah satu dari delapan provinsi yang mengawali perjalanan Republik yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 ini mesti menjadi modal sejarah untuk melangkah maju. Belum lagi sejarah keemasan Maluku sebagai negeri rempah-rempah yang pernah melegenda. Ke depan, Blok Migas Abadi Masela merupakan anugerah terbesar dari Tuhan bagi Maluku dan Indonesia bahkan dunia.

Olehnya, mari bersatu, bergandengan tangan, Salam-Sarane, Orang Basudara, dalam spirit Ale Rasa Beta Rasa, kita melangkah meraih masa depan Maluku yang lebih cerah. Tanpa kebersamaan, tanpa solidaritas dan kerja keras, semuanya hampa.

Kami ucapkan selamat buat Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang baru, juga terima kasih kepada Pak Said Assagaf dan Pak Etty Sahuburua yang telah menakhodai perahu besar Maluku, dan meninggalkan catatan sejarah buat generasi penerus.

Sayup terdengar “Maluku Tanah Pusaka”….”dari ujung Halmahera, sampai Tenggara Jauh katong samua Basudara…” suara Om Murad Ismail dan Om Abas Orno menggema. Kepada mereka kita menaruh doa dan harapan serta kita satukan langkah biar Maluku Tanah Pusaka tetap jaya. (RR).

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *