Sempat Diragukan Sang Ayah dan Dihina Teman, Usaha Kripik Pisang Mahasiswi...

Sempat Diragukan Sang Ayah dan Dihina Teman, Usaha Kripik Pisang Mahasiswi Unpatti Ini Malah Makin Laris

SHARE
Gatari Ridha Purnomo Putri, mahasiswi semester akhir Unpatti Ambon ini manfaatkan uang sisa beasiswa buka usaha kripik pisang yang menjanjikan. FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Di jaman yang maha kekinian dan full diaplay ini siapapun ingin tampil prima. Penampilan fisik adalah yang utama untuk membuktikan kesan pertama yang paripurna. Apapun bakal dilakukan untuk itu. Termasuk uang beasiswa yang disisihkan sebagai modal perawatan dan belanja. Mulai dari membeli gawai teranyar, asesoris, baju ala tumbler di pusat belanja online atau dihabiskan untuk nongkrong di kafe.

Hanya sedikit yang idealis untuk menabung. Gatari Ridha Purnomo Putri, salah satunya. Mahasiswi semester akhir Jurusan Akuntansi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon ini menabung sebagian dari uang beasiswanya untuk dijadikan modal usaha. Perempuan berdarah Jawa Timur ini menyisihkan Rp 500 ribu tiap beasiswanya turun.

Kerpik pisang Gatari

Teman teman sekalasnya di kampus acap kali mengejek dan meremehkannya. Tari, begitu dia disapa termasuk mahasiswa yang jarang sekali eksis. Ajakan nongkrong kerap kali ditolak. Alasannya sederhana. Nongkrong habiskan biaya banyak dan berpotensi gosip. “Saya mending ke rumah uangnya disimpan buat usaha,” akunya bangga kepada Terasmaluku.com saat ditemui di Gong Perdamaian Ambon, Selasa (21/8/2018).

Bermula dari tabungan beasiswanya itu, perlahan sulung empat bersaudara itu memikirkan ide usaha. Pisang tanduk salah satu komoditas asal Pulau Seram yang mudah dijumpai di Pasar Mardika Kota Ambon. Saat mengkal, pisang tanduk laris. Sebaliknya kala berubah warna jadi lebih matang, kebanyakan berakhir di tempat sampah. “Kan kasihan, pisangnya itu dibawa jauh jauh dari Seram tapi kok seng ada yang beli. Akhirnya kepikiran bikin sesuatu biar pisangnya seng jadi limbah,” terang owner Galina kripik pisang kekinian itu.

Uang beasiswa yang berhasil ditabung itu lantas dipakai membeli bahan baku dan peralatan kemasan. Semua dilakukan sendiri dan otodidak. Stiker merek dirancang oleh sang adik kemudian dipesan di Pulau Jawa. Sementara plastik dan alat pres dibeli di Ambon. Sejak memulainya, tantangan besar diterimanya dari orang terdekat.

Sang ayah, meragukan dan seolah tak merestui anaknya berwirausaha. Terang saja, sebagai anak pertama, ayahnya ingin Tari menjadi pegawai negeri dengan gaji tetap tiap bulannya. Belum lagi teman teman di kampus yang meremehkannya, ketika menawari kripik pisang dari mulut ke mulut. Hal itu bagi kebanyakan anak muda dinilai kurang bonafide dan memalukan. Namun Tari tak ingin ambil hati dan terus fokus mengerjakan kripiknya.

Pelan pelan ibunya memberi dukungan dan membantu memasarkan produk anaknya. Mulanya dari tetangga, teman dan rekan rekan ibunya. Tak ingin berakhir di situ, perempuan yang juga merambah di usaha katering itu menawarkan kripiknya ke beberapa toko dan swalayan. “Nah itu juga susah. Berkali kali ditolak. Katanya belum ada ijinlah, tapi pas udah ada masih juga ditolak. Saya sampai sudah kasih sampel berkali kali,” jelasnya sembari mengenang momen pembelajaran paling berharga itu.

Dirinya tak patah arang. Meski lebih dari lima kali ditolak, akhirnya kripik Galina yang sudah dipasarkan hingga ke Palembang Sumatera dan Papua itu lolos. Beberapa swalayan besar dan rumah makan ikan bakar di Kota Ambon, menyediakan produk industri rumahan milik mahasiswa semester akhir itu. Sejak memulai usaha pada 2016 di bekas garasi rumahnya di Kebun Cengkih, Kota Ambon, Tari berinovasi dalam rasa. Ada lima macam rasa kripik. Original, manis, pedas manis, coklat dan asin.

Saat ramai, dalam sehari kripiknya bisa laris manis hingga 70 bungkus. Keuntungan tiap bulannya pun sekitar 5 juta rupiah atau bahkan lebih. “Dari situ saya bisa bantu bantu orang tua, jajan buat adik bahkan beli hape sendiri. Itu jauh lebih bergengsi dari temen teman lain yang masih minta uang ke orang tua,” akunya bangga. Bagi Tari yang terpenting adalah memulai dan tetap fokus. Cobaan dan halangan pasti ada tiap akan memulai. Namun itu bisa dilewati jika tekun dan rajin. (PRISKA BIRAHY)

loading...