Semua Untuk Rakyat Oleh : Rudy Rahabeat, Pemerhati Sosial-Budaya

Semua Untuk Rakyat Oleh : Rudy Rahabeat, Pemerhati Sosial-Budaya

SHARE
Rudy Rahabeat

DEMOKRASI adalah jembatan menuju kesejahteraan rakyat dalam artinya yang paling jujur. Walau seringkali demokrasi dibelokan atas nama rakyat. Di lain sisi, tak selamanya fox populi fox dei, sebab bisa saja suara rakyat dibeli dan dimanipulasi oleh elite-elite penguasa yang lalim. Kata-kata Bung Hatta tentang daulat rakyat harus terus digemakan berulang kali. Dan bukan itu saja, tetapi harus dilaksanakan sepenuh hati, oleh segenap umat manusia.

Salah satu mekanisme untuk menjamin hak-hak rakyat adalah sistem Pemilu. Melalui pemilu yang jujur dan adil, diharapkan nasib rakyat dapat terus diperjuangkan oleh orang-orang yang diberi kewenangan sebagai pemimpin. Terkait hal itu peran penyelenggara Pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) sangat penting. Termasuk tim seleksi kedua lembaga tersebut.

Refklesi kecil ini hendak menyorot proses rekruitmen anggota BAWASLU Provinsi Maluku yang oleh mulai diapresiasi publik, salah satunya melalui kinerja Tim Seleksi. “Timsel kredibel dan transparan seperti inilah yang diharapkan publik selama ini. Kalau otak kosong andalkan jaringan labe bae jang sorong” inilah salah satu komentar nitizen di laman fesbuk Ketua Tim Seleksi. Setahu saya nitizen tersebut adalah seorang jurnalis.

NEGARA MEMANGGIL PUTRA-PUTRI TERBAIK

Di tengah gelombang pengangguran yang kian meninggi, negara membuka ruang bagi warga negara untuk menjadi anggota BAWASLU. Perbulan diberi gaji  (uang kehormatan) Rp.38.799.000 untuk ketua dan Rp.35.987.000 untuk anggota. Itu di tingkat pusat. Kalau di tingkat Provinsi, ketua Rp.18.194.000 sedangkan anggota Rp.16.709.000 dengan sejumlah fasilitas. Hal ini sesuai Perpres nomor 62 tahun 2017. Lumayan juga khan?

Negara adalah lembaga yang dimandatkan kuasa untuk mengatur kesejahteraan rakyat. Terlepas dari kritik terhadap negara yang kadang gagal menjalankan misi tersebut, tapi hingga saat ini negara tetaplah diberi kewenangan formal untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan. Dalam kaitan ini, negara sedang memanggil putra-putri terbaiknya untuk membangun demokrasi dan kesejahteraan rakyat.

Dalam bahasa Inggris ada tiga tingkatan kata baik yakni baik (good), lebih baik (better) dan sangat baik atau terbaik (best). Melalui media sosial facebook Ketua Panitia Seleksi Bawaslu Provinsi Maluku, Dr Jemmy Pietersz, memposting pengumuman open rekruitmen anggota Bawaslu Maluku. “Bawaslu Memanggil Putra Putri terbaik Maluku” demikian judul pengumuman tersebut, lengkap dengan batas waktu yakni 3-9 Mei 2018. Dengan mudah kita bisa mengetahui syarat-syarat bagi yang tertarik. Tinggal menanyakan mbah google, semuanya terbuka di depan mata.

Ada 16 syarat. Saya tertarik pada 3 syarat yakni berijazah minimal S1 (butir c), berdomisili di wilayah provinsi yang bersangkutan yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (butir g) dan memiliki kemampuan dan keahlian yang berkaitan dengan Penyelenggaraan Pemilu, ketatanegaraan, kepartaian, dan pengawasan Pemilu (butir e). Butir e tidak memberi batasan sarjana dari jurusan khusus. Jadi terbuka bagi semua sarjana, termasuk sarjana agama atau teologi, juga sarjana teknik dan arsitektur.

Butir g lebih menegaskan status formal warga negara Indonesia yang tinggal di provinsi tertentu dan bukan asal-usul etnik atau agama tertentu. Yang justru cukup berat adalah butir e, yakni harus memiliki kemampuan di bidang ketatanegaraan dan penyelenggaraan Pemilu. Ini berarti calon yang tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum dan ilmu politik misalnya, harus belajar ekstra minimal harus mengetahui UU dan tata cara yang berkaitan dengan Pemilu dan kerja-kerja pengawasan. Namun, sekali lagi, syarat ini bukan hanya untuk sarjana hukum dan ilmu politik, tapi sarjana pada umumnya.

MASSA-RAKYAT TERLIBAT

Dalam negara demokrasi salah satu ciri demokrasi yang sehat adalah partisipasi rakyat atau masyarakat. Rakyat bukan objek yang pasif, melainkan subjek yang mesti proaktif. Sama-sama bertanggungjawab dalam agenda-agenda politik. Kenapa? Sebab tujuan semua agenda itu adalah untuk kepentingan rakyat dan bukan segelintir elite semata. Pada lain pihak, jika rakyat tidak terlibat secara kritis, bisa terjadi penyelewengan dan penyalahgunaan kuasa. Rakyat di sini termasuk media massa sebagai kekuatan keempat (fourth estate) demokrasi.

Dalam tiga tahapan rekruitmen anggota Bawaslu ruang bagi tanggapan masyarakat juga dibuka. Itu tentu bukan formalitas belaka. Ada filosofi dan nalar politik yang hendak ditegaskan dengan melibatkan partipasi rakyat/masyarakat dalam proses seleksi. Persoalannya, bagaimana kesempatan itu dimanfaatkan, atau rakyat apatis, dan menyerahkan semua itu kepada Panitia Seleksi.  Tentu hal yang disebutkan terakhir jangan sampai terjadi. Sebab kalau pun terjadi, kadar demokrasi menjadi berkurang mutunya.

Semoga Tim Seleksi diberi kekuatan dan hikmat untuk menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya dengan penuh integritas. Rakyat juga tetap menjalankan fungsi pengawasan dan kontrol publik. Sehingga terseleksi dan terpilih “putra-putri terbaik bangsa” yang terpanggil dan berkomitmen kuat untuk mengupayakan kesejahteraan rakyat, melalui tanggungjawab di BAWASLU ini. Kita doakan !

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
loading...