Siapa Bilang Tidak Bisa, Anak Dengan Kemampuan Berbeda Bisa Jadi Wirausaha

by
Kriya unik dan menarik garapan anak anak berkemampuan khusus di Sangar Kerja Sosial Numa Aunusan Mahai di Kusu Kusu Sereh Kota Ambon jadi incaran. FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Pada sebuah program di stasiun televisi swasta Kamis (11/10/2018) malam, Dedy Corbuzier yang sang pemandu acara hadirkan tiga bintang tamu. Seorang gadis muda, dan dua pria dewasa. Suara indah, merdu gadis tunanetra, Putri Ariani membawakan thame song Asian Para Game. Sedangkan pada sebuah cuplikan pendek di program itu tampak Qomaruzzaman, petani buah melon sukses asal Lamongan di kebun. Segala aktifitas di kebun, dikerjakan dengan kedua kakinya.

Sementara itu di studio tempat acara ditayangkan, Eko Sugeng, barista asal Yogyakarta sibuk membuatkan secangkir kopi kepada sang pemandu. Bukan dengan kaki, melainkan kedua tangan yang tak lengkap lantaran diamputasi. Ketiganya merupakan sosok orang-orang sukses di bidangnya. Mereka orang-orang tekun, mengupayakan hidup dan hak meski dalam kondisi fisik tak lengkap.

Glass painting di mug karya Ryan Salakay jadi media berekspresi sekaligus terapi bagi mereka

Di Ambon, ada pula sosok seperti itu. Nama dan kiprah mereka belum banyak dikenal dan tak sebesar ketiga sosok tadi. Namun lima anak muda ini, sukses menembus batas dan stigma yang disematkan untuk mereka. Sambil sesekali melempar senyum, Joshua Manuhutu menunjuk sebuah tote bag bermotif yang dijajar di atas meja. Motifnya warna warni. Ada gambar balon, hewan, serta abstraksi. Josh begitu dia disapa, memberi isyarat kepada beberapa pengunjung yang berdiri di depan meja display. Itu merupakan tas bikinnya.

Josh yang merupakan tunagrahita itu menuntaskan karya lukis di atas media kain bersama empat teman lainnya. Ada juga karya rajutan memakai alat papindangan kecil menyerupai alat tenun yang dibawa dari negeri kincir angin.“Ini karya mereka. Semua anak bikin ini. Ada lukis di tas, di gelas, hiasan, dan bikin topi,” jelas Berthy Parera pendamping di LSM Cergas, Kusu-Kusu Sereh saat ditemui Terasmaluku.com  Kamis (11/10/2018).

Yusak Noya, teman sekerja Jos yang sejak tadi aktif mondar mandir dan memamerkan buah tangannya juga kawan-kawannya. Di sisi lain meja, beberap mug putih bermootif lucu jadi rebutan pengunjung untuk difoto. Ryan Salakay, mengambil sebuah mug dengan ikon smile kuning bikinannya. Dia yang terlahir dengan down syndrome itu tampak tak canggung menjawab pertanyaan pengunjung. Bila tak bisa menjawab, dia tinggal menyunggingkan senyuman.

Sedang pada sisi lain meja, Mario Gasper dan Marcel Parera menunjukkan karya vas bunga serta hiasan interior berbahan pasir, batu dan kuli bia. Bahan-bahan itu diperoleh dari alam. Pilot project itu digarap dari nol. Berthy dan Martinus Rahametwaw adalah pendamping di LSM Cergas. “Orang bilang anak berkebutuhan khusus tidak bisa bikin apa apa. Tapi siapa bilang, ini buktinya. Mereka dilatih dan didampingi sampai bisa,” akunya bangga dengan kerja mereka.

Menurut Berthy, proses pelatihan yang dimulai pada 2016 memang tak mulus. Anak-anak mudah bosan, fokus gampang teralihkan, serta kurang pede. Kalau sudah begitu para pendampinglah yang kudu bersabar. Pelan dan pasti satu persatu karya terlahir. Seperti glass painting di mug, melukis tote bag, rajutan topi, syal dan selimut. Juga aneka vas dan pernaik-pernik hiasan rumah.

Martinus sengaja melibatkan anak-anak pada pra produksi. Mereka ikut mencari bahan baku lalu menyiapkannya untuk dipakai. Cara tersebut dipakai untuk mengatasi rasa bosan, dan memberi hiburan bagi mereka. “Katong ajak anak-anak ini cari pasir dan batu di pantai. Dong senang dan itu jadi terapi juga,” tutur Martinus usai acara peresmian.

Lima anak ini merupakan angkatan pertama pada pilot project yang berpartner dengan Stichting Domilian, sebuah yayasan asal Belanda. Paulien Joel Parera Ketua LSM Cergas mengatakan sanggar kerja sosial dibangun untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Ide itu tercipta dari kegelisahannya tentang hak anak yang terabaikan. “Memang mereka ada sekolah, tapi abis itu dong bikin apa. Ada yang cuma jadi jongos atau orang suruh-suruh,” ungkanya dengan nada kesal. Anak seperti mereka harus mendapat hak yang sama.

Idealnya usai sekolah, mereka bekerja digaji lalu menikmati hidup seperti kita yang lengkap dan normal. Sayangnya, realitas berkata lain. Di Ambon, lanjut dia, anak-anak dengan kelebihan khusus itu malah kerap dimarahi guru, dipukul, dididik dengan moteda yang keliru hinga ditolak masyarakat. Terang saja, Paulien yang pernah tinggal di Belanda dengan kualitas pendidikan nomor satu terusik. Itulah yang lantas mendorongnya untuk membuka sebuah ekosistem baru bagi anak dengan kemampuan berbeda atau different ability.


Ketua LSM Cergas bersama pendamping menunjukkan karya kepada pengunjung asal Belanda yang hadir pada peresmian gedung sanggar Kamis (11/10/2018)

Jam kerja di sangar kerja sosial hanya boleh dari pukul 08.00 hingga 12.00. Kriya buatan mereka umumnya dijual ke luar negeri. Uang hasil jualan itu diberikan sebagai tambahan gaji mereka. Bahkan salah satu anak di situ jadi wirausaha dari hasil bekerja di sanggar. “Josua itu pakai gaji untuk beli barang-barang pondok. Uang itu mamanya putar sebagai modal usaha dan berhasil,” terangnya bangga. Kini, selain bekerja, Joshua juga menjalankan usaha kios kecil-kecilan. Ide itu, murni datang darinya yang lahir dengan keterbatasan fisik.

Program tersebut bakal merekrut anggota baru tiap tahun. Dimulai dari 2019, tiap tahun aka nada perekrutan lima anka hingga 2022. Itu disesuaikan dengan kapasitas tampung sanggar kerja sosial 25 anak. Mereka-mereka ini dulunya bersekolah namun tak sempat menuntaskan. Ada pula yang hanya di rumah. Namun Paulien yakin, setiap manusia terlahir sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangan. “Sudah tugas kita ini membantu dong. Anak-anak ini berhak atas hidup yang sama dengan katong,” katanya. Selain kriya, sanggar kerja sosial itu akan menambah beberapa bidang kerja lain. Seperti membat tanaman hias serta bakery. (PRISKA BIRAHY)