Sidi, Perayaan Gereja dan Jejaring Kultural Oleh : Pdt. Izaac Lattu, Ph.D, Dosen UKSW Salatiga

by
Pdt. Izaac Lattu, Ph.D, Dosen UKSW Salatiga. FOTO : DOK. PRIBADI

HARI ini, Minggu (28/3/2021) Anak Sarane, Ean, Delian Sahulata-Lattu, menerima “pangkat sidi baru.” Dalam tradisi bergereja di Maluku, sidi adalah saat anggota gereja mengaku iman secara pribadi kepada Juruselamatnya.

Pangkat sidi baru dianggap sebagai kedewasaan iman. Setelah mengikuti katekesasi, pendidikan iman, selama satu sampai dua tahun warga gereja disidi oleh jemaat. Semua ajaran gereja diselesaikan dalam proses katekesasi ini. Jadi, setelah disidi warga gereja dianggap memiliki pemahaman yang cukup terhadap imannya.

Rata-rata penerima pangkat sidi baru ini adalah remaja. Sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, berusaha sendiri atau membantu keluarga sebagai petani di kampung, anak-anak usia 16 – 18 tahun ini diajarkan pokok ajaran gereja dan diteguhkan. Sebelum memasuki masa dewasa muda, remaja akhir diteguhkan iman percayanya.

Peneguhan iman melalui sidi adalah salah satu ritual tahapan kehidupan penting dalam keluarga Kristen Maluku. Para remaja ini didampingi oleh keluarga besar ketika berjalan menuju altar gereja. Keluarga jauh dan dekat berkumpul untuk merayakan peneguhan sidi ini. Para remaja dianggap telah memasukan tahapan kehidupan iman yang dimaknai sebagai sukacita keluarga.

Sebelum sidi, iman remaja dianggap menjadi tanggung jawab keluarga. Tidak hanya keluarga inti. Tanggung jawab iman anak adalah tugas keluarga. Karena itu, sidi dimaknai sebagai proses anak disapih secara iman. Berdiri pada kaki iman sendiri dalam kepercayaan pada Kristus.

Figur penting dalam proses pengakuan iman ini adalah Bapa dan Ibu Baptis (Bapa-Mama Sarane). Bapa-Mama Sarane sebenarnya berperan membantu orang tua membesarkan anak dalam iman. Karena itu, orang yang dipilih orang tua menjadi Bapa-Mama Sarane adalah bagian dari keluarga atau dekat dengan keluarga.

Bapa-Mama Sarane ikut dalam proses sidi sebagai tindakan simbolik penyerahan anak bagi tanggung jawab iman warga gereja. Iman tidak lagi menjadi tanggung jawab keluarga. Pengakuan percaya pada Kristus menjadi tanggung jawab remaja secara pribadi.