Solusi Negeri Haruku dan Soya Hadapi Ancaman Perubahan Iklim

by
Direktur Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK), Paul Jeffery (kiri) bersama Eliza Marthen Kissya, (kanan) saat memantau tanaman sayur di Rumah Kewang Haruku (20/8) FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON,- Di Negeri Haruku, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dan Negeri Soya Kecamatan Sirimau, Kota Ambon perubahan iklim mengancam mata pencarian dan mengubah pola kerja masyarakat di bidang pertanian pun infrastruktur jalan.

Tetua adat negeri, Eliza Marthen Kissya, warga Haruku, yang coba melawan itu melalui budidaya beragam sayur sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Aneka sayur seperti selada, daung bawang, daun seledri dan sayuran lain ditanam dengan metode bertanam di area simpit dan terbatas. Penggunaan bahan organik menjadi hal utama untuk menjaga kualitas dan kesegaran hasil pertanian mereka.

 

Eli bersama warga yang konsisten mengerjakan hal itu juga menanam lebih dari 1.000 bibit bakau yang ditanam di sepanjang garis pantai. Cara itu sebagai upaya perlindungan kawasan pesisir yang difasilitasi ole USAID APIK pada Juni 2018.

Sementara bergeser di Negeri Soya di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon fokus USAID APIK bersama pemerintah daerah dan Pokmas Negeri Soya pada pembangunan infrastruktur yang digarap dengan dana desa. Seperti pembuatan talud penahan longsor dan normalisasi sungai dan air bersih berskala desa.

USAID APIK juga telah memfasilitasi beragam kegiatan melalui dana ketangguhan yang meliputi penyusunan dokumen rencana kontijensi (renkon) longsor, pembuatan peta risiko, dan pengadaan rambu kawasan rawan bencana. Bulan Maret 2019 lalu, pokmas menindaklanjuti aksinya dengan menanam 200 anakan pohon mahoni di kawasan rawan longsor dan kawasan sumber air.

loading...

Pada kegiatan itu hadir Direktur Program Kantor Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat /United States Agency for International Development (USAID) Indonesia, Elizabeth Mendenhall yang datang memantau perkembangan masyarakat Maluku usai pemberian bantuan dan peningkatan ketangguhan risiko berncana dan perubahan iklim.

Hadir dalam kegiatan, Selasa (20/8/2019) di Haruku, perwakilan pemerintah Indonesia dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Arif Wibowo selaku Kepala Subdirektorat Identifikasi dan Analisis Kerentanan, bersama dengan Direktur Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK), Paul Jeffery.

Selama tiga tahun terakhir, USAID telah melakukan beragam kajian kerentanan bersama-sama dengan pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat untuk menghasilkan Rencana Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim. Melalui rencana aksi ini, pemerintah akan dapat mengantisipasi dan bersiapsiaga menghadapi bencana yang berpotensi terjadi di waktu yang akan datang.

Selain itu, rencana aksi juga dapat digunakan sebagai panduan untuk mengurangi kerusakan akibat bencana pada berbagai sektor; perikanan, pertanian, dan air, sehingga juga dapat beradaptasi dengan potensi cuaca ekstrim. (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *