Spice Island Festival di Banda November, Utamakan Protokol Kesehatan

by
epala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus J. Pattinama. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Maluku yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparekraf) RI siap menyelenggarakan Spice Island Festival di Banda, Kabupaten Maluku Tengah pada 12-14 November 2020.

Gelaran Spice Island Festival ini menjadi bagian dari promosi pariwisata Maluku dan menjadi bagian untuk melengkapi persyaratan Banda menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun akibat pandemi covid-19, Spice Island Festival berlangsung secara virtual melalui jejaring media sosial sehingga disaksikan dunia internasional.

Alasan Spice Island Festival digelar secara virtual karena Dispar Maluku ingin menjaga Banda tetap bersih dari virus covid-19. Disamping itu, rombongan yang akan dibawa ke Banda juga dipastikan tidak dalam jumlah besar.

Dalam gelaran ini Kemenparekraf-Dispar Maluku berkolaborasi dengan musikus senior Indonesia R. Franki S. Notosudirdjo atau lebih dikenal dengan nama Franki Raden sebagai Event Organizer (EO). Franki Raden sendiri penata musik untuk film dan telah mendapatkan penghargaan prestasi Indonesia dalam kategori seni budaya.

“Spice Island Fertival nanti tanggal 12 live di Banda, kita juga tidak membawa massa yang begitu besar. Ini kan lagi covid jadi kita protokol kesehatan, saya juga tidak mau bawa penyakit ke Banda, kalau ada positif nanti pariwisata disalahkan sehingga dilakukan virtual. Nanti 14 November on air secara virtual dari Benteng Belgica dan bisa disaksikan semua orang bahkan dunia internasional lewat youtube dan sebagainya yang dipakai EO-nya, nanti Franki Raden drive,”tutur Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus J. Pattinama kepada Terasmaluku.com, Rabu (28/10/2020).

Loading...

Point utama Spice Island Festival ini kata Pattinama adalah menampilkan budaya Banda. Spice Island Festival ini juga akan melibatkan masyarakat Minangkabau namun secara virtual.

Pattinama mengatakan pihaknya melibatkan Miangkabau, karena Banda dan Minangkabau punya ikatan historis lewat Hatta dan Sjahrir, dua tokoh nasional yang cukup lama diasingkan di Pulau Banda oleh Belanda.

Selama di Banda, dua tokoh bangsa Indonesia selalu mendapatkan dukungan dan hidup menyatu dengan masyarakat dan budaya Banda. “31 Oktober (hari ini) saya akan ketemu dengan ibu Mutia Hatta, kemudian 2-3 November ke Bukit Tinggi ketemu Walikota dan pejabat disana karena kita libatkan juga masyarakat Minang dalam virtual ini,”sambungnya.

Festival ini menjadi bagian dari promosi budaya dan pariwisata Banda yang disebutnya sebagai international destination atau destinasi wisata internasional.

“Ingat bahwa cakalele Banda itu adalah cakalalele yang sakral di dunia. Kenapa saya bilang begitu? Karena dia bisa berperang dengan puncak-puncak budaya yang masuk dari luar seperti Arab, Cina, Inggris, Spanyol, Belanda maupun portugis. Saya berbicara secara akademik dengan latar belakang berbagai referensi yang saya baca. Saya sangat bangga dengan masyarakat Banda,”terangnya.

Bahkan jika ada yang ingin belajar tentang ketahanan islam terhadap pengaruh budaya eropa, kata Pattinama yakin, mereka bisa datang ke Banda. “Dan kalau orang mau belajar ketahanan islam terhadap pengaruh-pengaruh eropa, mari datang ke Banda. Pintu masuk saya itu Masjid Hatta-Sjahrir, kebesaran orang Banda disitu,”imbuhnya. Ini semua lanjut dia merupakan implementasi dari visi besar dari Gubernur Maluku, Murad Ismail untuk membangun Maluku. (Ruzady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *