Spirit Perjamuan Kudus Oikumene Oleh : Rudy Rahabeat Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Pendeta Rudy Rahabeat,

ESOK MINGGU (7/10/2018), umat Kristiani di seluruh dunia merayakan perjamuan kudus. Sebuah akta liturgi mengenang pengorbanan Yesus Kristus (Isa Almasih) yang solider dan peduli dengan umat manusia. Sebuah kenangan (anamnesis) tentang hidup yang bermakna adalah ketika kita rela berkorban demi kebaikan banyak orang. Dalam konteks ini perenungan kita terarah pada saudara-saudari kita yang sedang bergumul dengan bencana Tsunami di Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah.

Kita turut berbelarasa dengan saudara-saudara kita itu. Bukan saja karena kita memiliki kesamaan agama atau suku, tetapi kita merasa terikat rasa sebagai satu bangsa, Indonesia. Lebih daripada itu kita merajut solidaritas kemanusiaan universal, yang melampaui batas-batas primordial apa pun. Sebagai sesama manusia, apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah adalah pergumulan kita bersama. Frasa orang Ambon “Ale rasa beta rasa”. Lukamu adalah lukaku juga.

Selain doa, kita juga bisa menggalang dukungan solidaritas dalam tindakan-tindakan nyata. Tentu disesuaikan dengan daya dan kapasitas masing-masing. Ada yang mengirimkan uang, bahan makanan, perlengkapan masak, tenda, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang turun langsung ke lapangan menjadi relawan. Untuk semua itu, patut kita apresiasi dengan tulus dan kita dukung dengan sepenuh hati. Tentu kita miris, jika ada segelintir orang memanfaatkan kondisi itu untuk mencari keuntungan dan menimbulkan kerentanan dan hilangnya kepercayaan (trust). Memang, selalu ada godaan dan tantangan di setiap niat melakukan kebaikan.

AGAMA YANG HUMANIS

loading...

Agama merupakan sumber inspirasi bagi kemanusiaan. Tidak satu agama pun yang tidak peduli kepada kemanusiaan. Bahkan jika hendak memberi kesimpulan maka salah satu tugas utama dan mulia agama-agama adalah menjaga dan merawat kemanusiaan itu sendiri. Ketika kemanusiaan terluka apalagi manusia diabaikan, maka peran agama-agama patut dipertanyakan. Relasi kemanusiaan perlu terus dieratkan, apa pun suku, ras, agama dan latar belakang sosialnya. Agama akan kehilangana kredibilitasnya jika abai terhadap jeritan kemanusiaan, seperti yang sedang dihadapi saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah.

Agama jangan terlalu sibuk dengan hal-hal yang ritual. Bukan berarti yang ritual tidak penting. Tapi dalam konteks bencana dan derita umat manusia, agama-agama mesti lebih operasional. Ia tidak hanya sibuk dengan mencari dan mengajari ajaran yang benar (ortodoksi) tetapi ia juga mesti melakukan tindakan-tindakan yang benar (ortopraxis) yang menjawab jerita dan luka kemanusiaan. Agam-agama perlu “turun tangan” tidak hanya lipat tangan atau angkat tangan saat berdoa. Agama-agama harus bertindak. Oikumene in action, kata Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).

Semoga setiap kali kita melakukan ritual keagamaan, kita menjadi sadar bahwa ritual bukan untuk ritual. Ritual adalah jalan pembuka untuk berjumpa dengan realitas kemanusiaan dan dunia ini. Ritual menjadi aktual ketika terjadi perubahan dan transformasi sosialk-kebudayaan. Terjadi perbaikan harkat dan martabat manusia. Jika tidak demikian, ritual berpotensi menjadi benteng yang menjauhkan agama-agama dari dunia. Dan kalau pun itu terjadi, kita patut bertanya, apa sebenarnya misi agama-agama di dunia ini? Perjamuan Kudus Oikumene adalah sebuah ritual yang darinya kenangan terhadap pengorbanan Yesus mesti mendorong umat untuk berani berkorban dan solider dengan sesama, dalam konteks ini termasuk saudara-saudari kita di Palu, Donggala dan Sigi di Sulawesi Tengah. Mari Berbagi ! (RR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *